Mengapa Saya Gagal Mengapai Mimpi?
Banyak orang yang berusaha mewujudkan mimpinya tetapi lebih banyak lagi yang gagal mewujudkannya – termasuk saya. Saya telah melihat kegagalan saya dalam proses ini. Draf buku ini saya biarkan hampir satu tahun. Saya ingin mencoba apa yang sudah saya tuliskan. Saya mengamati – ternyata ada satu bab lagi yang harus saya tambahkan. Mengapa saya gagal?
Yang pertama: saya tidak sungguh-sungguh dalam membuat daftar mimpi atau daftar mimpi saya bukan benar-benar mimpi saya. Seharusnya mimpi itulah yang membuat diri kita tidak bisa tidur. Ada hasrat yang sangat besar untuk mewujudkan mimpi tersebut. Kita ingin segera bangun tidur dan memastikan mimpi itu terwujud. Kita tidak sabar melalui waktu demi waktu, pikiran kita tertuju pada mimpi kita. Sangat sulit buat kita untuk duduk bersantai karena hasrat yang dalam akan terwujudnya mimpi. Read more
Kegagalan Membuat Tahan Menderita
Ada dua kisah yang saya ceritakan. Yang pertama adalah seorang yang selalu berhasil. Sebagai anak orang kaya, dia sudah menikmati kenyamanan sejak kecil. Semua yang dibutuhkannya pasti dipenuhi. Dia bisa belajar di sekolah yang berkualitas tinggi. Lulus kuliah pun dia tidak perlu mencari pekerjaan. Cukup datang ke ayahnya dan dia mendapatkan posisi sebagai CEO atau direktur. Tanpa usaha keras dia sudah menjadi pemimpin dan menjalankan usaha dengan keinginan dirinya. Penghasilan pun terus mengalir ke kantongnya tanpa kerja keras.
Orang kedua, bukanlah anak orang kaya. Dia akhirnya bisa menyelesaikan kuliahnya dengan biaya sendiri. Bekerja keras sudah menjadi kebiasaannya. Pagi hari dia bekerja dan malam hari dia kuliah. Penghasilan yang ada pun di tabungnya. Selesai kuliah dia mencari pekerjaan yang lebih baik. Dari tahun ke tahun akhirnya dia bisa menempati posisi manager. Setelah tabungannya cukup, dia pun membuat usaha sendiri. Tentu tidak mudah baginya tapi akhirnya dia menjadi orang sukses.
Mana yang lebih Anda kagumi? Orang pertama atau orang kedua? Sering kali orang pertama adalah anak orang kedua. Dalam penelitian Thomas J. Stanley, Ph.D memperlihatkan bahwa lebih dari 80% orang kaya berasal dari keluarga biasa-biasa. Dengan kata lain, kurang dari 20% orang kaya merupakan anak orang kaya. Kisah orang pertama sering kali berakhir dalam kemiskinan. Beberapa diantara mereka memiliki perilaku yang buruk (mabuk, memakai obat-obatan terlarang, seks bebas). Beberapa lagi tidak bisa menerima kenyataan bahwa mereka sudah miskin. Ketika tekanan ada di dalam diri mereka, sering kali mereka justru menghindari. Sedikitnya pengalaman gagal membuat mereka tidak tahan menderita.
Pernahkah Anda mendapatkan nilai ulangan yang buruk? Tertulis di lembar jawaban Anda angka 4 dan terdapat catatan dari guru Anda:”Mohon diperhatikan supaya Bapak dan Ibu bisa mendidik anak ini lebih keras.” Bagaimana rasanya? Mungkin Anda tidak berani pulang ke rumah karena takut dimarahin oleh orang tua. Mungkin juga Anda malu kepada teman-teman Anda dan berusaha menyembunyikan hasil ulangan tersebut.
Seandainya Anda mendapatkan nilai yang buruk untuk ke dua kalinya? Yach..masih malu tetapi sudah berani pulang ke rumah. Walaupun masih takut bertemu dengan orang tua Anda. Bagaimana untuk ketiga kalinya? Masih malu tetapi sudah mulai terbiasa. Bagaimana jika sudah ke seratus kalinya Anda mendapatkan nilai buruk? Anda mulai tidak malu, dan sudah siap dimarahin oleh orang tua Anda. Itulah mengapa orang yang selalu mendapatkan nilai buruk, sudah tidak malu lagi sedangkan orang pintar yang mendapatkan nilai buruk akan sangat terpukul. Kejadian tidak mengenakan yang terjadi berulang-ulang akan membuat kita tahan menderita.
Itu pula yang terjadi di dalam dunia tinju. Seorang petinju yang sudah sering tekena pukulan pastilah dia mulai tahan menghadapi pukulan. Salah satu latihan yang mereka lakukan justru membiarkan diri di pukul. Mereka menahan sakit karena pukulan tetapi juga membuat perut atau mukanya tetap tahan terhadap pukulan. Demikian juga kaki sang petinju. Sengaja di latih supaya tidak goyah ketika menerima pukulan. Kegagalan yang berulang-ulang memang akan membuat seorang petinju menjadi lebih kuat.
Saya ceritakan sebuah kisah yang sudah sangat terkenal. Seseorang diminta untuk mendorong batu yang besar. Setiap hari dia mendorongnya tetapi batu itu sama sekali tidak bergerak. Kisah seorang yang mendorong batu dan batu itu tidak bergerak sama sekali.
Saya pun memikirkan bagaimana saya bisa melakukan sesuatu untuk orang lain. Saya sangat tertarik pada kehidupan Yohanes Surya. Dia bermimpi, tahun 2020 ada orang Indonesia yang meraih nobel Fisika. Dia mempersiapkan orang-orang lain tetapi dirinya sendiri juga berusaha untuk melakukannya. Saya sangat terinspirasi atas apa yang dilakukannya. Saya sedang mempersiapkan orang-orang disekitar saya supaya menjadi pribadi yang luar biasa. Mereka bisa mengembangkan diri. Mereka bisa melakukan yang terbaik. Tetapi saya juga harus terlebih dahulu mengembangkan diri saya. Saya harus siap menghadapi kegagalan-kegagalan. Saya yakin, semua proses itu akan membuat saya tahan menderita.
Tetapi kegagalan tidak akan ada artinya jika kita tidak pernah menetapkan tujuan kita. Penderitaan yang kita alami akan menjadi sia-sia jika kita asal menderita. Penting buat kita menetapkan arah tujuan hidup kita. Seperti apakah keadaan kita lima tahun lagi? Sepuluh tahun? Atau dua puluh tahun? Mungkin disana berbicara tentang posisi kita di kantor, gaji kita, harta kita, dan banyak hal lainnya. Setelah itu, cobalah lakukan sesuatu untuk mencapainya. Tidak masalah kalau mengalami kegagalan. Kegagalan itu penting supaya kita tahan menderita.
Saya mengetahui pergumulan seorang pemimpin. Dia sangat dekat dengan kritik. Apapun yang dia lakukan bisa mengundang kritik. Selalu saja ada yang setuju dan ada yang tidak. Sebagai pemimpin, kita tidak melakukan apa yang diinginkan oleh banyak orang tetapi apa yang kita anggap benar. Benar secara aturan dan benar di hadapan Allah. Tekanan akan sangat besar dan kita harus tahan menderita. Kita bisa mendapatkan caci maki dari orang yang kita bela, kita menjadi kambing hitam ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik dan kita dilupakan ketika semua berhasil. Itu hal yang biasa karena itu kita memang harus tahan menderita.
Saya bersyukur karena pernah mengalami kegagalan-kegagalan yang membawa saya menjadi tahan menderita. Dulu, saya harus menghadapi caci maki atas keputusan saya. Saya telah gagal mengkomunikasikan keputusan saya sehingga banyak yang tidak setuju dengan keputusan saya. Tetapi saya mempunyai team yang luar biasa yang mau sama-sama menderita ketika keputusan itu diberlakukan. Di beberapa hal, orang lain menganggap saya gagal dan mungkin benar saya gagal. Tapi setahu saya, kegagalan tersebut telah menghindarkan kami dari kegagalan yang lebih besar. Saat itu, saya memutuskan pelayanan yang saya lakukan tidak boleh berhutang. Lebih baik mengecilkan anggaran dan dianggap tidak beriman (beberapa orang menyatakan bahwa saya tidak beriman karena tidak percaya Tuhan akan mencukupkan) daripada berhutang.
Saya bersyukur ketika saya menghadapi kegagalan-kegagalan. Saya tahu rasanya dicaci maki dan saya tidak lagi sakit hati. Saya tahu rasanya diajak berkelahi dan akhirnya tidak menyimpan dendam. Dari setiap hal yang terjadi dalam hidup saya, justru membuat saya semakin serupa dengan Kristus. Ya, Dia pun tahan menderita. Saya tidak bisa membayangkan ketika Dia dicaci maki. Dia dituduh macam-macam dan Dia tidak membalasnya.
Saya juga menganggap penderitaan sebagai suatu kegagalan. Bukankah itu yang dikatakan dunia ini? Kalau orang melihat orang lain menderita, bukankah mereka dianggap gagal? Lihat saja orang yang menderita kelaparan, maka dalam pikiran kita menggagap dia telah gagal. Lihat orang yang tidak punya rumah, secara tidak sadar kita mengatakan kehidupannya gagal. Atau ketika melihat kehidupan keluarga yang berantakan dan kita mengatakan mereka telah gagal. Setiap penderitaan, di dalam pikiran kita langsung terbesit kata kegagalan. Paling tidak mereka gagal hidup bahagia.
Akhirnya saya pun berdoa,”Terima kasih Tuhan atas kegagalan-kegagalan yang telah terjadi dalam hidup saya. Saya menjadi tahan menderita dan siap menerima tanggung-jawab yang lebih besar dariMu. Saya percaya, kegagalan ini hanyalah proses supaya Engkau bisa memakai saya lebih besar lagi. Terima kasih karena Engkau mempercayai saya. Amin.”
Mundur Tidak Berarti Gagal
Beberapa tahun yang lalu saya putuskan saya tidak melanjutkan kuliah saya S2 dalam bidang Christian Leadership. Saya gagal dalam kuliah saya, bahkan gagal sebelum diputuskan gagal oleh pihak universitas. Biasanya orang menunggu dikeluarkan tetapi saya mengundurkan diri terlebih dahulu. Bukan keputusan yang mudah. Saya sudah mengeluarkan banyak uang, dan menyelesaikan hampir setengah yang harus diselesaikan. Orang tua saya sagat senang ketika mendengar saya melanjutkan S2 dan akhirnya mereka sangat sedih ketika mendengar sayamengakhirinya. Demikian juga istri saya. Seakan-akan kebanggaan sebagai calon lulusan S2 menjadi sirna.
Banyak alasan mengapa saya memilih gagal dalam kuliah saya. Iya, Anda tidak salah membaca. Saya yang memilih untuk gagal dalam kuliah tersebut. Pilihan ada di tangan saya bukan di tangan roang lain. Saya bisa memberikan banyak sekali alasan bahkan lebih banyak dibandingkan yang Anda perlukan. Mulai dari kesibukan, ketidakadaan biaya, bentrok dengan waktu kerja, kampus di kota saya yang tiba-tiba di tutup, saya tidak merasakan manfaat yang besar dan sebagainya. Asal tahu saja, itu hanya sekedar alasan dan alasan tidaklah selalu benar. Bukankah saya seharusnya sudah tahu dari awal kalau kuliah itu menyita banyak waktu dan biaya? Mengapa dahulu bukan alasan sekarang jadi alasan? Read more
Ubah Cara Pandang Terhadap Kegagalan
Siapakah orang yang tidak pernah gagal memasukkan bola golf? Apakah Tiger Woods yang terkenal sebagai jagonya main golf? Jangan salah, saya tidak pernah melakukan kegagalan sedangkan Tiger Woods, tokoh pe-golf dunia justru sering melakukan kegagalan. Apakah saya lebih hebat? Tentu tidak. Kalau saya lebih hebat pastilah Anda sudah mengenal nama saya dari berita atau acara-acara olah raga di televisi. Saya tidak pernah gagal karena sebenarnya saya tidak pernah bermain golf. Jangan tertawa, bukankah memang benar saya tidak pernah gagal?
Saya bisa memberikan daftar panjang tentang hal-hal yang saya tidak pernah gagal. Saya tidak pernah gagal bermain saham, mengemudikan pesawat, membuat desain rumah, membuat televisi, mengawal presiden, berpidato di PBB dan sebagainya. Saya tidak pernah gagal melakukan itu karena saya tidak pernah melakukan. Ingin daftar lebih panjang? Saya tinggal sebutkan segala hal yang tidak pernah saya lakukan. Oh iya saya juga tidak pernah gagal memanjat puncak Everest! Apakah hal itu patut dibanggakan? Tentu saja tidak. Tidak ada hal yang membanggakan dari kata “tidak pernah gagal”, kalau kita tidak pernah mencobanya.

