Sepuluh Langkah Mewujudkan Mimpi: Langkah Ketiga, Ujilah Daftar Mimpi Anda

January 21, 2012 by S. Libe Suryapusoro
Filed under: pengembangan diri 

Benarkah mimpi tersebut adalah mimpi Anda? Pengujian menjadi hal penting buat Anda.

Saya sudah sering membaca kisah seorang yang berjuang di dalam hidupnya demi mimpi orang lain bukan dirinya sendiri. Banyak karyawan yang bekerja sangat keras demi mimpi orang yang mempunyai perusahaan. Apakah para karyawan ini menyadarinya?

Mereka harus berjuang sampai-sampai mereka mengorbankan waktu mereka dengan pulang larut malam. Besoknya mereka harus berangkat sangat pagi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menumpuk di mejanya. Banyak asisten yang mengeluhkan mereka harus lembur sementara atasannya sudah pulang.

Apakah yang mereka hasilkan? Selain lelah dan frustasi mereka pun mendapati gaji mereka tidak mengalami kenaikan. Tidak ada penghargaan dari yang mempunyai perusahaan atau atasan mereka. Bahkan sering kali hasil kerja mereka diakui sebagai kerja atasan mereka. Apakah yang dilakukan oleh pemilik perusahaan? Mereka dengan tenangnya duduk di rumah tidak memikirkan apa yang sudah diusahakan oleh karyawannya.

Saya tidak bermaksud membuat Anda tidak bekerja keras di dalam pekerjaan Anda. Saya juga tidak setuju kalau semua pemilik perusahaan hanya duduk bersantai di rumah mereka. Saya memberikan contoh ekstrim supaya Anda sadar mimpi siapakah yang sedang Anda wujudkan saat ini. Tidak semua karyawan sedang mewujudkan mimpi orang lain.

Saat ini, saya menjadi karyawan sebuah LSM di Bandung. Saya memilih posisi sebagai trainer karena saya sedang mewujudkan mimpi saya sendiri. Saya berlatih, mencoba-coba dan mengevaluasi setiap saya memberikan training di lapangan. LSM tempat saya bekerja akan mendapatkan manfaatnya karena saya tidak sekedar melakukan pekerjaan tetapi mencoba memberikan yang terbaik yang mampu saya berikan. Sedangkan saya juga mendapatkan manfaatnya karena saya belajar banyak hal. Saya tidak menghidupi mimpi orang lain tetapi sedang menghidupi mimpi saya sendiri.

Ada juga orang yang hidupnya saat ini untuk mewujudkan mimpi orang tuanya. Ada banyak orang yang kuliah di bidang dimana orang tua mereka yang menentukan. Ayahnya dokter maka anaknya diminta menjadi dokter. Orang tuanya PNS (pegawai negeri sipil) maka anak-anaknya diminta menjadi PNS juga. Ada juga yang menikah dengan orang pilihan orang tuanya.

Saya termasuk orang yang beruntung karena orang tua saya membebaskan saya memilih jalan hidup saya. Tetapi banyak orang tua yang memaksakan sesuatu kepada anaknya. Akhirnya selama hidupnya orang tersebut terjebak dalam pilihan-pilihan orang tuanya. Dia tidak menyukai pekerjaan, tidak mencintai istrinya dan tidak mengharapkan anak-anaknya.

Apakah semua itu kesalahan orang tuanya? Tentu saja tidak. Kitalah yang telah mengijinkan semua itu terjadi sehingga kitalah yang bertanggung jawab. Walaupun orang tua kita memaksa, kitalah yang menyetujui paksaan tersebut. Jangan sampai orang-orang disekitar kita yang menjadi korban. Kita masih bisa berubah. Ketahuilah mimpi Anda dan lakukan perubahan.

Pengujian seperti apakah yang perlu kita lakukan terhadap mimpi kita tersebut?

 

Yang pertama, jujurlah pada diri sendiri. Carilah tempat yang tenang dan jujurlah kepada diri Anda sendiri, apakah benar mimpi tersebut adalah hal yang benar-benar Anda inginkan? Apakah ada orang lain yang meminta Anda melakukan mimpi tersebut sehingga Anda mau tidak mau harus melakukannya?

Dalam buku temukan lima rahasia sebelum mati, karangan John Izzo diceritakan pengamatan George, pensiunan profesor fisika. George menceritakan tentang mahasiswa yang hidup untuk mewujudkan mimpi-mimpi orang lain, mungkin ambisi orang tuanya, selalu harus berjuang keras. Dia berjuang keras untuk belajar, memenuhi target nilai yang ditentukan bahkan berjuang keras untuk lulus. Tetapi jika memang itu mimpi dia, walaupun orang tersebut tidak pintar, dia selalu bisa mengatasi halangannya.

Sering kali kita tidak bisa jujur karena kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita bandingkan diri kita dengan tetangga kita yang memiliki mobil yang bagus atau seorang teman yang memiliki prestasi mengagumkan.

Saya memiliki tetangga yang tidak bisa jujur dengan dirinya sendiri. Dia menceritakan perawatan kulitnya yang mahal karena temannya melakukan hal yang sama. Dia membanggakan punya banyak hal karena orang lain mempunyainya. Ketika melihat seseorang memiliki motor baru, dia pun meninginkan hal yang sama. Dia memaksakan dirinya. Dengan sombongnya dia mengaku sudah melunasi motor barunya.

Tetapi beberapa bulan berikutnya listrik di rumahnya dicabut karena menunggak membayar selama tiga bulan. Lalu tak lama kemudian motor tersebut sudah tidak ada di rumahnya lagi. Katanya sih dipinjam saudaranya tetapi berbulan-bulan garasinya tetap kosong.

Apakah mimpi yang kita miliki tersebut diakibatkan karena kita membandingkan dengan orang lain? Jujurlah pada diri sendiri. Karena jika kita membandingkan dengan orang lain, mimpi kita tidak ada akhirnya dan kita mendapati kita semakin jauh dari mimpi kita sendiri.

Yang kedua, tanyakan kepada TUHAN apa yang DIA inginkan. Saya mempelajari kisah hidup banyak orang sukses. Mereka terus berusaha dan banyak diantara mereka yang mengalami kegagalan terus menerus.

Buku outliers: rahasia di balik sukses yang ditulis oleh Malcolm Gladwell sangat mengubah cara pandang saya tentang kesuksesan. Di buku tersebut diceritakan tentang daftar 75 orang terkaya dalam sejarah manusia. Di dalam daftar tersebut ditemukan empat belas orang Amerika yang lahir di tahun 1831 sampai 1840. Demikian juga orang yang menjadi kaya karena komputer. Mereka lahir di era yang hampir bersamaan. Ada satu hal yang tidak bisa diatur oleh manusia untuk mewujudkan apa yang mereka mimpikan. Beberapa penulis mengatakan ada kuasa alam semesta dan saya menyebutnya sebagai kuasa TUHAN.

Agung Nugroho Susanto awalnya berbisnis pakaian dan berdagang telepon seluler. Tetapi kedua usahanya ini gagal. Lalu dia mencoba berbisnis laundry kiloan. Awalnya dia tidak mendapatkan untung. Tetapi ketika dia mulai mewaralabakan usahanya, dia pun mendapatkan keuntungan besar. Ada usaha yang dia lakukan sebelumnya, yang mengalami kegagalan. Dia juga berjuang di usahanya yang baru.

Saat itu laundry masih tidak terlalu banyak sehingga dia mendapatkan ”moment” tersebut yang akhirnya membuatnya mewujudkan mimpinya. Seandainya dia memulai bisnis laundrynya saat ini, pastilah akan sangat sulit berkembang seperti sekarang ini.

Ada moment yang pas ketika Agung masuk ke binis ini dan istilah saya moment tersebut ada karena TUHAN. Ya, karena TUHAN mengijinkan. Ketika sebuah pintu ditutup, TUHAN membuka pintu yang lainnya. Kita perlu mencoba membuka pintu yang sudah disediakan TUHAN.

Ada yang perlu berjuang bertahun-tahun masih belum berhasil tetapi ada juga yang baru sebentar saja sudah berhasil. Usaha yang sama, perjuangan yang sama, metode pun sama tetapi hasilnya bisa berbeda. Karena ada kuasa diluar kuasa manusia yang menentukan itu semua yaitu kuasa TUHAN. Apakah yang TUHAN inginkan untuk kita lakukan? Benarkah mimpi yang sudah kita tulis ini merupakan mimpi TUHAN? Apakah benar TUHAN menghendaki kita memiliki mimpi tersebut?

Mengetahui kehendak TUHAN bukanlah hal yang mudah tetapi bukan hal yang tidak mungkin. Ketika saya memulai menuliskan buku ini saya mengalami keraguan, benarkah ini yang TUHAN inginkan? Apakah saya sedang melakukan apa yang saya sukai bukan apa yang TUHAN kehendaki?

Saya perlu waktu beberapa bulan untuk merenungkannya. Jika saya tidak yakin ini yang dikehendaki TUHAN, maka saya merasa berdosa dan egois. Saya pun membaca konsep buku saya. Semua biasa saja, sudah ada di buku-buku yang saya baca walaupun ada konsep-konsep baru yang tidak pernah saya temui di buku-buku tersebut.

Saya pun merenung, berdoa, menanyakan apa yang TUHAN inginkan sehubungan dengan buku tersebut. Saya pun menuliskan, ”Libe, Tuhan ingin kamu menghasilkan buku yang membuat orang mengenalNya. Bayangkan orang mengerti seperti apa dirinya diciptakan dan mereka semakin dekat denganNya. Bayangkan tepuk tangan TUHAN untukmu.” Tulisan tersebut saya print dan saya tempelkan di dinding di kamar saya. Setelah beberapa minggu, tidak ada perubahan apapun.

Saya benar-benar menyadari apa yang TUHAN inginkan justru ketika pencuri memasuki rumah saya. Mereka mengeledah kamar utama dan lemari baju. Istri saya meletakkan laptop tempat saya menulis di lemari tersebut. Anehnya, pencuri tersebut tidak mengambil laptop ini.

Padahal inilah barang yang termahal dan mudah dibawa di rumah saya. Ketika saya merenung, saya menyadari TUHAN melindungi pekerjaan yang ada di laptop ini. Tulisan-tulisan saya sudah banyak dan sayangnya saya tidak memiliki copy tulisan tersebut di tempat lain. Saat itulah saya menyadari bahwa TUHAN memang menginginkan saya menyelesaikan buku ini.

Tidak harus menjadi orang yang religius untuk mengetahui kehendak TUHAN. Tidak perlu kita menghafal semua ajaran agama kita. Yang diperlukan hanyalah menyerahkan diri kita kepadaNYA, memanggil namaNYA, membiarkan diriNYA berbicara dan kita mendengarkan. Pengalaman saya, mengetahui kehendak TUHAN hanyalah sesederhana itu.

Bacalah kitab suci Anda, dan diamlah. Beri kesempatan TUHAN berbicara kepada Anda. Tanyakanlah mimpi-mimpi Anda. Mungkin saat itu TUHAN tidak berbicara sama sekali, seperti pergumulan saya dalam menyelesaikan buku ini. Tetapi menjadi pekalah supaya kita mampu mendengar kehendakNYA. Terkadang DIA berbicara didalam keributan, angin sepoi-sepoi, kemalangan yang kita alami, atau sesuatu yang kita lihat.

Yang ketiga, tanyakan ke pasangan Anda. Bagaimanapun juga, perjalanan hidup Anda tidaklah sendirian. Kita memiliki partner sejati yaitu pasangan hidup kita, bisa istri atau suami kita. Kita bisa berganti pekerjaan, pindah tempat tinggal, berganti mimpi, menderita, bahagia tetapi pendamping kita tetap sama. Saya memiliki keyakinan pasangan hidup adalah seumur hidup. Buat mereka yang tidak berkeyakinan sama dengan saya, mereka pastilah memikirkan perceraian sebagai solusi permasalahan mereka. Tetapi saya mempersiapkan istri saya untuk menghadapi permasalahan di depan sehingga kami bisa bersama-sama mengatasinya.

Ketika saya ke sebuah kota, saya mendapatkan cerita tentang seorang wanita yang menganggap pernikahan sebagai karir. Awalnya dirinya menikah dengan seorang tukang becak. Dia menggunakan hasil jerih payah suaminya untuk mendadani dirinya. Tidak lama kemudian, dirinya cerai dengan suaminya. Dia menikah dengan penjual warung di tepi jalan. Dia memiliki modal untuk mendadani dirinya supaya lebih cantik lagi.

Terakhir saya dengar kabarnya, dirinya bercerai dan menikah lagi dengan seseorang yang memiliki toko di daerah tersebut. Suami ketiganya lebih kaya dibandingkan dengan suami pertamanya. Dia merelakan berganti suami asalkan dirinya mencapai mimpinya. Apa pendapat Anda dengan wanita tersebut? Kurang ajar? Tidak pantas hidup di dunia ini? Kalau diri kita tidak melibatkan pasangan kita dalam mewujudkan mimpi kita, kita bisa saja berperilaku sama dengan wanita tersebut.

Entah berapa banyak pernikahan yang hancur karena salah satu pasangannya berusaha mewujudkan mimpinya. Ada artis yang cerai supaya memiliki waktu lebih banyak lagi dalam mengejar karir keartisannya. Ada istri yang meminta cerai karena suaminya tidak mampu mewujudkan mimpi sang istri tersebut. Ada suami yang menceraikan istrinya karena tidak menghasilkan anak dari pernikahannya. Ada penyanyi yang mencari cewek lain dan meninggalkan istrinya setelah dirinya menjadi beken. Bukankah mereka semua sama dengan wanita yang saya ceritakan diatas?

Mereka bersama pasangannya ketika mereka membutuhkannya dan membuang pasangannya ketika ada prospek di depan yang lebih baik. Saya yakin, Anda setuju dengan saya, hal itu tidak boleh terjadi pada diri saya dan Anda.

Karena itu, libatkanlah pasangan di dalam mewujudkan mimpi kita. Ketika saya memilih rumah impian, saya justru mempersilahkan istri saya yang dominan dalam penentuan rumah kami. Alasannya sederhana, dia yang akan lebih lama di rumah dan berurusan dengan rumah tersebut. Ketika saya menuliskan mimpi-mimpi saya, saya pun menanyakan ke istri saya. Karena saya sadar, saya membutuhkan banyak waktu dan perhatian untuk mengejar mimpi saya. Istri saya haruslah mendukung saya dalam melakukannya.

Setiap istri saya melihat saya di depan laptop, dia akan menyediakan minuman di samping laptop tersebut. Dia tidak curiga dengan saya, dirinya justru mendukung saya dalam mewujudkan mimpi saya. Istri saya mengetahui mimpi saya dan dia menyetujui saya berusaha mewujudkan mimpi saya.

Diskusikanlah dengan pasangan Anda apa yang menjadi mimpi Anda. Jika terjadi ketidakcocokan, dengarkan pasangan Anda. Kita perlu sudut pandang lainnya. Pasangan kita akan memberikan sudut padang tersebut. Jika ada konsekuensi yang harus diterima, maka Anda dan pasangan Anda harus siap menerimanya. Adakalanya pasangan kita menolak mimpi kita. Mungkin kita membela diri kalau pasangan kita tidak mampu berpikir seperti diri kita.

Ada pasangan yang suaminya lulusan S3 sedangkan istrinya hanya lulusan SMA. Sang suami merasa istrinya terlalu bodoh untuk memahaminya. Istrinya merasa sang suami tidak memberikan perhatian kepadanya. Sebenarnya itu disebabkan komunikasi diantara keduanya tidak berjalan dengan baik.

Di awal pernikahan kami, kami belajar bersama. Saya harus merelakan diri beripikir seperti istri saya berpikir. Selisih umur kami lima tahun sehingga sangat wajar jika saya lebih berpengalaman dibandingkan istri saya. Saya harus menjadi guru buat istri saya sehingga dirinya bisa memahami apa yang saya pikirkan. Butuh kesabaran tetapi itu harus dilakukan demi keutuhan rumah tangga kita.

Yang keempat, cek masa lalu Anda. Masa lalu berbicara sesuatu kepada diri kita. Saya mengenal seseorang yang mengalami penganiayaan ketika kecil. Dirinya dilahirkan ketika pernikahan orang tuanya belum genap delapan bulan. Bukan karena prematur melainkan karena ibunya sudah hamil sebelum menikah. Ayahnya selingkuh dengan wanita lain. Kehidupan rumah tangga mereka tidak harmonis. Sesekali ayahnya memukuli ibunya, terkadang mengejar ibunya dengan membawa golok. Dia menceritakan kisah sedihnya ke saya. Menurut Anda, apakah maksud dibalik peristiwa itu? Saya menganggap dirinya akan membantu pemulihan orang-orang yang mengalami nasib yang sama dengan syarat dirinya dipulihkan.

Saat ini saya pun mendapatkan kabar darinya. Dirinya sering diperhadapkan dengan orang-orang yang mengalami permasalahan rumah tangga. Dirinya bisa membantu pemulihan mereka. Masa lalunya menolong dirinya memahami perasaan dan kesedihan orang lain.

Kita sering mendengar, orang yang dulu terkena narkoba terlibat dalam pemulihan orang-orang yang terkena narkoba. Jika orang biasa, pencandu narkoba akan berkata,”Kamu tidak tahu apa yang sedang saya rasakan.” Tetapi ketika mantan pecandu yang membantu pemulihannya, si pecandu narkoba akan mengikuti kata-katanya.

Masa lalu kita, baik atau buruk, mempersiapkan kita di masa yang akan datang. Apa yang kita alami di masa lalu kita akan memperkuat diri kita dalam beberapa hal. Mungkin karakter kita, mental kita atau kecerdasan kita. Semua itu bisa kita gunakan untuk masa depan kita asalkan kita sudah dipulihkan.

Masa lalu kita juga berbicara tentang mimpi kita. Brian Tracy hidup dalam kemiskinan. Dia lahir tahun 1944 dengan orang tua yang tidak pernah memiliki cukup uang. Apapun itu, keluarga Tracy tidak mampu membelinya. Lalu dirinya mencari cara supaya dirinya bisa mencapai kehidupan yang diimpikannya. Dan akhirnya dia mendapatkannya. Dia membuka rahasia cara pencapaian mimpinya melalui buku Maximum Achievement.

Saya lahir dari keluarga yang pas-pasan, tidak terlalu kaya tetapi tidak juga kelaparan. Walaupun demikian, saya pernah mengalami masa dimana saya harus sakit perut karena kelaparan. Saya hanya mampu makan sehari sekali dan mengenyangkan perut dengan air putih. Karena itulah saya bekerja di LSM yang membantu anak-anak miskin di banyak daerah. Ketika saya membantu orang-orang miskin tersebut itulah saya menyadari ada yang salah dengan diri mereka. Saya sangat menyadarinya karena saya pun memiliki hal yang salah tersebut.

Mereka kehilangan mimpi karena mereka tidak memiliki uang. Menurut mereka, bermimpi harus menggunakan uang. Saya pun mengingat, dulu saya pernah menolong anak-anak jalanan, mencarikan beasiswa untuk anak miskin, menjenguk mereka yang sakit, dan banyak lainnya. Saya akhirnya mengerti bahwa saya harus membebaskan mereka yang terpenjara, bukan tirai besi tetapi terpenjara pikirannya sehingga tidak mencapai apa yang seharusnya mereka capai.

Kesimpulan tersebut saya dapatkan ketika saya mulai menggabungkan kejadian-kejadian di masa lalu. Hal tersebut seperti puzle dan saat kita mulai menggabungkan dengan tepat maka kita akan mengatakan,”Nah, ini dia.”

Kita juga bisa bertanya kepada diri kita sendiri, apakah mimpi tersebut pernah kita kejar sebelumnya? Apakah di masa lalu kita pernah mengerjakan mimpi yang mirip hanya saja lebih kecil? Apakah ketika itu kita menjadi lelah tetapi puas karena mengerjakan hal tersebut?

Ketika saya menulis buku ini, saya pun sering menjadi lelah, tetapi saya puas karena melakukannya. Ada buku kecil yang sebelumnya saya kerjakan. Saya pun mengalami hal yang sama, menjadi lelah tetapi puas dengan apa yang saya lakukan.

Yang kelima, sesuaikah dengan nilai hidup? Jika mimpi saya menjadi perampok yang terkenal, tentu saja tidak sesuai dengan nilai hidup saya. Nilai hidup adalah sebuah aturan yang kita pegang di dalam hidup kita yang akan membuat kita mengerti apa yang benar dan yang salah buat diri kita. Buat saya merokok adalah salah karena nilai hidup saya merokok merupakan perbuatan egois dan tidak bertanggung jawab. Saya sangat sedih ketika menjumpai anak-anak miskin di banyak daerah dan mengetahui keadaan orang tua mereka. Saya memiliki kesempatan berdiskusi dengan orang tua mereka.

”Iya Pak, saya sangat miskin. Untuk makan anak-anak saja saya susah.” kata sang ayah sambil merokok.

Saya pun bertanya kepadanya,”Sehari habis berapa bungkus Pak?”

”Cuma satu atau dua bungkus kok Pak. Cuma sedikit.” kata sang ayah tidak mengerti arah pertanyaan saya.

Bukankah ayahnya sangat egois? Berapa harga satu bungkus rokok? Katakanlah tujuh ribu atau empat belas ribu untuk dua bungkus rokok. Uang tersebut bisa dibelikan beras satu kilo dan telor dua sampai lima butir. Bukankah cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya? Betapa egoisnya sang ayah tersebut. Belum lagi asap rokok yang meracuni orang-orang disekitarnya.

Karena nilai hidup saya inilah saya menetapkan tidak akan pernah memiliki usaha yang berhubungan dengan rokok. Ketika tetangga meminta kami jualan rokok di rumah dengan keuntungan yang lumayan, dengan pasti kami menolaknya. Karena hal itu tidak sesuai dengan nilai hidup kami.

Saya dan istri saya juga mengalami pergumulan sehubungan dengan kekayaan. Kami merasa menjadi kaya itu salah. Ketika kami mengambil keuntungan dari orang lain demi kekayaan kami sendiri, kami merasa berdosa. Apalagi kami melihat banyaknya penipuan yang beredar di dunia bisnis.

Simak saja iklan-iklan di jalan atau di televisi. Lihatlah ada tanda bintang kecil lalu ada tulisan kecil dibawah-sangat kecil sampai hampir tidak terlihat- syarat dan ketentuan berlaku. Artinya, apa yang diiklankan tidaklah seperti yang diiklankan. Atau kita melihat diskon 50% padahal harganya sudah dinaikan terlebih dahulu.

Saya pun pernah kecewa dengan toko buku diskon dan ternyata diskon hanya berlaku dari hari senin sampai rabu tetapi tidak tertulis di depan. Kita akan diberi tahu ketika sudah ada di kasir. Bukti-bukti tersebut membuat kami mengurungkan diri berkeinginan memiliki bisnis sendiri. Buat kami, berbisnis adalah salah dan berdosa.

Tetapi semua itu berubah ketika seorang teman meminta pekerjaan ke kami. Kami harus menolong orang tersebut. Kami harus memiliki bisnis untuk bisa menolong teman kami.

Seorang teman lain meminta tolong dibuatkan susu kedelai organik karena dia tidak bisa membuatnya dan sulit mencari susu kedelai organik. Kami pun melayani permintaannya. Akhirnya itu menjadi suatu bisnis. Tentu saja, kami tetap memegang nilai hidup kami untuk tetap jujur dan bertanggung jawab. Jika produk kami tidak sesuai yang kami janjikan, maka kami akan menggantinya.

Selama ini yang salah bukan bisnisnya melainkan orang-orang yang berbisnis dengan tidak jujur. Kami mengubah nilai hidup kami dari berbinis adalah salah dan dosa menjadi berbisnis tidak jujur adalah salah dan dosa. Mimpi kami tidak sesuai dengan nilai hidup tetapi nilai hidup kami yang kami ubah. Karena kami menyadari bahwa nilai hidup kamilah yang salah.

Ujilah mimpi Anda. Apakah mimpi itu benar-benar milik Anda? Apakah mimpi itu memang ingin Anda wujudkan? Jangan sampai ketika mimpi terwujud Anda malah berkata,”Ini kan bukan yang saya impikan.” Ujilah sebelum Anda berusaha mewujudkannya. Jika memang akan diubah, ubahlah. Tuliskan kembali ke daftar di bawah ini.

Mimpi saya yang sudah melewati proses pengujian:

Do:

1.

2.

Be

1.

2.

HAVE

1.

2. 

 

Comments

Comments are closed.