Prinsip Kepemimpinan

December 28, 2010 by S. Libe Suryapusoro · 2 Comments
Filed under: Renungan 

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah buku tentang kepemimpinan yang mengubah cara pandang saya. Selama ini kebanyakan buku membahas bahwa semua orang adalah pemimpin. Tetapi dalam buku Leaders on Leadership oleh George Barna dkk. tersebut mengatakan bahwa kepemimpinan adalah sebuah karunia Roh. Selama ini memang dalam tes karunia, kepemimpinan selalu ada di salah satu bagian. Sebagai karunia Roh, sama seperti bahasa Roh, tidak semua orang diberikan karunia yang satu ini. Tidak semua orang diberikan karunia kepemimpinan. Perbedaan cara pandang itu tergantung kita mendefinisikan kepemimpinan. Kalau memang kepemimpinan didefinisikan seperti Saul, Daud, sebagai karunia Tuhan untuk memimpin maka bagian ini perlu dipahami. Read more

Apa yang Anda cari: Ketenaran?

December 27, 2010 by S. Libe Suryapusoro · Comments Off
Filed under: pengembangan diri 

Suatu hari, Paulus Winarto, seorang penulis buku best seller yang juga mentor saya, memberikan prediksinya di depan peserta training. Saat itu dia kami undang untuk memberikan training ke sekitar 50an orang. Di depan merekalah Paulus mengatakan,”Kurang dari empat tahun dari sekarang, Libe akan menulis dan menghasilkan buku.”

Tentu saja pernyataannya sangat mengejutkan saya. Yang pertama, dia bicara tentang masa depan saya yang saya sendiri tidak terlalu tertarik untuk menghasilkan sebuah buku. Yang kedua, dia berbicara di depan orang banyak yang menjadi saksi tentang prediksinya. Kami memang memiliki hubungan yang baik, saya banyak belajar dari Paulus tentang dunia menulis dan memberikan training. Read more

Kegagalan Membuat Tahan Menderita

December 10, 2010 by S. Libe Suryapusoro · Comments Off
Filed under: pengembangan diri 

Ada dua kisah yang saya ceritakan. Yang pertama adalah seorang yang selalu berhasil. Sebagai anak orang kaya, dia sudah menikmati kenyamanan sejak kecil. Semua yang dibutuhkannya pasti dipenuhi. Dia bisa belajar di sekolah yang berkualitas tinggi. Lulus kuliah pun dia tidak perlu mencari pekerjaan. Cukup datang ke ayahnya dan dia mendapatkan posisi sebagai CEO atau direktur. Tanpa usaha keras dia sudah menjadi pemimpin dan menjalankan usaha dengan keinginan dirinya. Penghasilan pun terus mengalir ke kantongnya tanpa kerja keras.

Orang kedua, bukanlah anak orang kaya. Dia akhirnya bisa menyelesaikan kuliahnya dengan biaya sendiri. Bekerja keras sudah menjadi kebiasaannya. Pagi hari dia bekerja dan malam hari dia kuliah. Penghasilan yang ada pun di tabungnya. Selesai kuliah dia mencari pekerjaan yang lebih baik. Dari tahun ke tahun akhirnya dia bisa menempati posisi manager. Setelah tabungannya cukup, dia pun membuat usaha sendiri. Tentu tidak mudah baginya tapi akhirnya dia menjadi orang sukses.

Mana yang lebih Anda kagumi? Orang pertama atau orang kedua? Sering kali orang pertama adalah anak orang kedua. Dalam penelitian Thomas J. Stanley, Ph.D memperlihatkan bahwa lebih dari 80% orang kaya berasal dari keluarga biasa-biasa. Dengan kata lain, kurang dari 20% orang kaya merupakan anak orang kaya. Kisah orang pertama sering kali berakhir dalam kemiskinan. Beberapa diantara mereka memiliki perilaku yang buruk (mabuk, memakai obat-obatan terlarang, seks bebas). Beberapa lagi tidak bisa menerima kenyataan bahwa mereka sudah miskin. Ketika tekanan ada di dalam diri mereka, sering kali mereka justru menghindari. Sedikitnya pengalaman gagal membuat mereka tidak tahan menderita.

Pernahkah Anda mendapatkan nilai ulangan yang buruk? Tertulis di lembar jawaban Anda angka 4 dan terdapat catatan dari guru Anda:”Mohon diperhatikan supaya Bapak dan Ibu bisa mendidik anak ini lebih keras.” Bagaimana rasanya? Mungkin Anda tidak berani pulang ke rumah karena takut dimarahin oleh orang tua. Mungkin juga Anda malu kepada teman-teman Anda dan berusaha menyembunyikan hasil ulangan tersebut.

Seandainya Anda mendapatkan nilai yang buruk untuk ke dua kalinya? Yach..masih malu tetapi sudah berani pulang ke rumah. Walaupun masih takut bertemu dengan orang tua Anda. Bagaimana untuk ketiga kalinya? Masih malu tetapi sudah mulai terbiasa. Bagaimana jika sudah ke seratus kalinya Anda mendapatkan nilai buruk? Anda mulai tidak malu, dan sudah siap dimarahin oleh orang tua Anda. Itulah mengapa orang yang selalu mendapatkan nilai buruk, sudah tidak malu lagi sedangkan orang pintar yang mendapatkan nilai buruk akan sangat terpukul. Kejadian tidak mengenakan yang terjadi berulang-ulang akan membuat kita tahan menderita.

Itu pula yang terjadi di dalam dunia tinju. Seorang petinju yang sudah sering tekena pukulan pastilah dia mulai tahan menghadapi pukulan. Salah satu latihan yang mereka lakukan justru membiarkan diri di pukul. Mereka menahan sakit karena pukulan tetapi juga membuat perut atau mukanya tetap tahan terhadap pukulan. Demikian juga kaki sang petinju. Sengaja di latih supaya tidak goyah ketika menerima pukulan. Kegagalan yang berulang-ulang memang akan membuat seorang petinju menjadi lebih kuat.

Saya ceritakan sebuah kisah yang sudah sangat terkenal. Seseorang diminta untuk mendorong batu yang besar. Setiap hari dia mendorongnya tetapi batu itu sama sekali tidak bergerak. Kisah seorang yang mendorong batu dan batu itu tidak bergerak sama sekali.

 Saya pun memikirkan bagaimana saya bisa melakukan sesuatu untuk orang lain. Saya sangat tertarik pada kehidupan Yohanes Surya. Dia bermimpi, tahun 2020 ada orang Indonesia yang meraih nobel Fisika. Dia mempersiapkan orang-orang lain tetapi dirinya sendiri juga berusaha untuk melakukannya. Saya sangat terinspirasi atas apa yang dilakukannya. Saya sedang mempersiapkan orang-orang disekitar saya supaya menjadi pribadi yang luar biasa. Mereka bisa mengembangkan diri. Mereka bisa melakukan yang terbaik. Tetapi saya juga harus terlebih dahulu mengembangkan diri saya. Saya harus siap menghadapi kegagalan-kegagalan. Saya yakin, semua proses itu akan membuat saya tahan menderita.

Tetapi kegagalan tidak akan ada artinya jika kita tidak pernah menetapkan tujuan kita. Penderitaan yang kita alami akan menjadi sia-sia jika kita asal menderita. Penting buat kita menetapkan arah tujuan hidup kita. Seperti apakah keadaan kita lima tahun lagi? Sepuluh tahun? Atau dua puluh tahun? Mungkin disana berbicara tentang posisi kita di kantor, gaji kita, harta kita, dan banyak hal lainnya. Setelah itu, cobalah lakukan sesuatu untuk mencapainya. Tidak masalah kalau mengalami kegagalan. Kegagalan itu penting supaya kita tahan menderita.

Saya mengetahui pergumulan seorang pemimpin. Dia sangat dekat dengan kritik. Apapun yang dia lakukan bisa mengundang kritik. Selalu saja ada yang setuju dan ada yang tidak. Sebagai pemimpin, kita tidak melakukan apa yang diinginkan oleh banyak orang tetapi apa yang kita anggap benar. Benar secara aturan dan benar di hadapan Allah. Tekanan akan sangat besar dan kita harus tahan menderita. Kita bisa mendapatkan caci maki dari orang yang kita bela, kita menjadi kambing hitam ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik dan kita dilupakan ketika semua berhasil. Itu hal yang biasa karena itu kita memang harus tahan menderita.

Saya bersyukur karena pernah mengalami kegagalan-kegagalan yang membawa saya menjadi tahan menderita. Dulu, saya harus menghadapi caci maki atas keputusan saya. Saya telah gagal mengkomunikasikan keputusan saya sehingga banyak yang tidak setuju dengan keputusan saya. Tetapi saya mempunyai team yang luar biasa yang mau sama-sama menderita ketika keputusan itu diberlakukan.  Di beberapa hal, orang lain menganggap saya gagal dan mungkin benar saya gagal. Tapi setahu saya, kegagalan tersebut telah menghindarkan kami dari kegagalan yang lebih besar. Saat itu, saya memutuskan pelayanan yang saya lakukan tidak boleh berhutang. Lebih baik mengecilkan anggaran dan dianggap tidak beriman (beberapa orang menyatakan bahwa saya tidak beriman karena tidak percaya Tuhan akan mencukupkan) daripada berhutang.

Saya bersyukur ketika saya menghadapi kegagalan-kegagalan. Saya tahu rasanya dicaci maki dan saya tidak lagi sakit hati. Saya tahu rasanya diajak berkelahi dan akhirnya tidak menyimpan dendam. Dari setiap hal yang terjadi dalam hidup saya, justru membuat saya semakin serupa dengan Kristus. Ya, Dia pun tahan menderita. Saya tidak bisa membayangkan ketika Dia dicaci maki. Dia dituduh macam-macam dan Dia tidak membalasnya.

Saya juga menganggap penderitaan sebagai suatu kegagalan. Bukankah itu yang dikatakan dunia ini? Kalau orang melihat orang lain menderita, bukankah mereka dianggap gagal? Lihat saja orang yang menderita kelaparan, maka dalam pikiran kita menggagap dia telah gagal. Lihat orang yang tidak punya rumah, secara tidak sadar kita mengatakan kehidupannya gagal. Atau ketika melihat kehidupan keluarga yang berantakan dan kita mengatakan mereka telah gagal. Setiap penderitaan, di dalam pikiran kita langsung terbesit kata kegagalan. Paling tidak mereka gagal hidup bahagia.  

Akhirnya saya pun berdoa,”Terima kasih Tuhan atas kegagalan-kegagalan yang telah terjadi dalam hidup saya. Saya menjadi tahan menderita dan siap menerima tanggung-jawab yang lebih besar dariMu. Saya percaya, kegagalan ini hanyalah proses supaya Engkau bisa memakai saya lebih besar lagi. Terima kasih karena Engkau mempercayai saya. Amin.”

Bagaimanakah cara Yesus menyembuhkan?

December 10, 2010 by S. Libe Suryapusoro · Comments Off
Filed under: Renungan 

Joh 5:1-14  Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem.  Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya. Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.  Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: “Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu.” Akan tetapi ia menjawab mereka: “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Mereka bertanya kepadanya: “Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?” Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.”

Yang pertama, Yesus melihat sebuah kebutuhan. Yohanes 5:5 menyatakan disitu ada seseorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Seperti apakah rasanya sakit selama tiga puluh delapan tahun? Kalau itu saya, saya sudah menyerah dengan keadaan tersebut dan saya mulai melupakan kalau saya bisa sembuh. Bayangkan saja, orang tersebut sudah sakit demikian lama. Dia sudah mencoba apa yang bisa dia coba. Dia sudah ke dokter, kemanapun yang menjanjikan bisa menyembuhkan dia. Bahkan dia sudah mencoba mencari keajaiban dari kolam itu. Hanya saja, dia selalu terlambat untuk masuk ke kolam karena tidak ada yang menolongnya. Sepertinya orang-orang di sekitar dia tidak memperdulikan dia lagi. Tidak ada lagi orang yang siap sedia untuk menolong orang tersebut. Read more