Apa yang Anda Cari: Posisi?

August 11, 2010 by S. Libe Suryapusoro
Filed under: pengembangan diri 

Suatu hari, ketika saya ke kantor di hari libur, saya pun berbicang-bincang dengan penjaga malam. Pak Joko, demikian panggilannya, menceritakan kesedihannya sekaligus kemarahannya karena perlakukan salah satu staf dimana saya bekerja. Sejak menikah, saya jarang menghabiskan waktu di kantor sehingga jarang ngobrol dengan Pak Joko. Dahulu, kami sering duduk santai sementara dia menjaga kantor kami.

Saya selalu mendapatkan sapaan selamat sore ketika dia datang ke kantor. Tetapi sudah lama saya tidak melihat lagi wajahnya. Saya pikir karena saya yang jarang pulang malam sehingga tidak bertemu dengannya. Ternyata Pak Joko sudah tidak seramah dulu karena ada beberapa staf yang tidak menghargai dirinya karena posisinya yang hanya penjaga malam. Jika bertemu dengan saya, dai masih tetap ramah tetapi dia tidak lagi datang ke ruangan-ruangan dan menyapa setiap staf yang masih ada di ruangan.

”Masa sih Pak, saya disuruh membeli makan malam. Jika ngomongnya sopan sih ngga masalah. Lho kalau Bapak yang nyuruh kan saya juga mau-mau saja nyarinya,” kata Pak Joko mengawali curhatnya. Dulu saya sering meminta tolong dirinya untuk membeli sate atau makanan lain di dekat kantor terutama ketika saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya. Dia tidak pernah mengeluh apalagi menolak permintaan saya. Dia bukan pemalas dan tidak menganggap permintaan saya sebagai beban tambahan buatnya.

”Kalau lagi ada perlunya baru dia mendekati saya. Kalau ngga ada perlunya, saya disapapun tidak. Kalau dia masuk ke ruangan dan melihat saya, seakan-akan saya dianggap tidak ada. Jelas saya marah, Pak. Kalau suatu saat dia butuh saya, saya tidak akan membantunya.”

Sering sekali orang tidak mau memperhatikan orang-orang yang mempunyai posisi seperti Pak Joko. Orang-orang tersebut mengabaikan keberadaan mereka. Hanya karena posisinya lebih baik, dia menganggap dirinya tidak perlu berteman dengan orang-orang yang posisinya lebih buruk.

Saya mengenal siapa yang dimaksudkan Pak Joko. Dia baik ke saya dan juga baik ke orang-orang yang mempunyai posisi kuat di kantor. Tetapi beberapa teman saya lainnya tidak seberuntung saya merasakan kebaikan orang tersebut. Cukup banyak yang sakit hati terutama orang-orang yang memiliki posisi tidak terlalu kuat di kantor. Syukurnya, pihak manajemen menyadari hal ini lalu melakukan teguran terhadap orang tersebut dan saat ini dia sudah berubah.

Orang menanggap posisi sangat penting karena dengan posisi tersebut orang akan dihargai. Kita bisa merasakan bagaimana seorang direktur lebih dihargai dibandingkan dengan staf di bawahnya. Untuk orang-orang ekstrovet hal itu akan menyakiti hatinya. Ketika dia diabaikan dan tidak diberi perhatian sebagaimana mestinya, hal itu akan membuat dirinya iri.

Ekstrovet adalah orang-orang yang suka di tempat keramaian dan menemukan kekuatannya ketika bersama dengan orang lain. Jika dia sedang bersedih maka dia akan bermain ke temannya atau mencari orang lain untuk membagikan kesedihannya atau sekedar ngobrol.

Posisi juga penting buat orang-orang yang masih terluka. Ada orang yang merasa disepelekan atau dianggap rendah karena posisinya saat itu. Kisah Pak Joko seperti yang saya ceritakan diatas sebagai bukti bahwa penghinaan atau tidak menghargai orang yang posisinya lebih rendah sering terjadi di dunia kerja. Mungkin kita dianggap tidak bisa, atau dipandang sebelah mata.

Ketika jalan di mall kita tidak ditawari sebuah produk mahal karena penampilan kita memperlihatkan kalau kita miskin. Akhirnya di dalam hati kita mengatakan,”jika saya sudah menjadi direktur, akan saya balas semua penghinaan ini.” akhirnya kita sangat terobsesi untuk menjadi direktur.

Kalau kita lakukan semuanya dengan benar, maka rasa terluka tersebut justru menguntungkan. Itulah yang terjadi dengan pendiri Starbuck Howard Schultz. Pada musim dingin tahun 1961, sewaktu Schultz sedang bermain di luar, dia dipanggil ibunya. Dia mendapatkan kabar kalau ayahnya telah mengalami kecelakaan. Ia masuk rumah dan mendapati ayahnya tergolek di sofa ruang keluarga dengan satu kaki terbalut gips.

Saat bekerja sebagai sopir pengiriman barang, ayah Schultz tergelincir di lapisan es mengakibatkan patahnya pergelangan kakinya. Akibatnya, dia kehilangan pekerjaan dan tunjangan kesehatan untuk keluarganya. Tidak ada kompensasi atas kecelakaan tersebut. Istilahnya sudah jatuh ketimpa tangga, ketika tenaganya dibutuhkan maka dirinya diperhatikan tetapi ketika mengalami masalah dirinya dibuang.

Keadaan diperparah karena ibunya sedang hamil tujuh bulan sehingga tidak mungkin baginya untuk bekerja. Mereka pun berhutang kesana kemari untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sering sekali Schultz harus menjawab telepon dari penagih utang untuk mengatakan orang tuanya tidak ada. Ketidakadilan telah terjadi dalam diri ayah Schultz. Bukankah ayahnya kecelakaan ketika dia sedang bekerja? Mengapa perusahaan tidak bertanggung jawab? Apa karena posisinya yang hanya sopir pengiriman barang sehingga dengan mudahnya diganti oleh orang lain?

Saat itulah Schultz berjanji ia akan membuat perusahaan jika ada kesempatan. Tentu saja bukan perusahaan seperti dimana ayahnya bekerja saat itu. Dia ingin perusahaan yang sangat memperhatikan karyawannya. Perusahaan yang tidak sewenang-wenang dan memberikan tunjangan kesehatan. Dia ingin memiliki perusahaan sendiri atau paling tidak dirinya memiliki posisi yang tinggi sehingga bisa mewujudkan janjinya.

Yang dia cari bukan posisi tetapi bagaimana posisi bisa membuat dirinya mewujudkan kesejahteraan bagi karyawannya. Akhirnya Schultz mendirikan Starbucks dan menjadikannya kedai kopi terkemuka di dunia. Kenangan akan tidak adanya jaminan kesehatan bagi ayahnya mendorong Schultz menjadikan Strabucks sebagai perusahaan Amerika perama yang memberikan jaminan kesehatan bahkan bagi karyawan yang bekerja hanya dua puluh jam seminggu.

Tetapi banyak orang yang terkukung dalam kesalahan karena terluka. Mereka merasa terhina sehingga bekerja keras untuk membuktikan bahwa hinaan tersebut salah. Yang menjadi tujuan mereka adalah membuktikan dirinyalah yang benar.

Katakanlah namanya Maman. Dia merasa terhina karena posisinya yang paling rendah di perusahaan dimana mereka berada. Dia merasa semua orang tidak peduli kepadanya. Ketika seseorang dimarahi bosnya karena pekerjaan yanga tidak beres biasanya orang tersebut melampiaskan ke Maman. Jika seseorang sedang memiliki masalah di keluarganya maka Mamanlah yang merasakan akibatnya. Dia mendengar ketika seseorang mengumpat bosnya atau rekan lainnya. Dia ingin posisi yang tinggi supaya dia bisa seperti bosnya, yang menjadi penyebab kemarahan.

Rencana pun dia susun. Ketika ada yang mengumpat maka dia akan menyampaikan ke orang yang menjadi penyebab orang tersebut mengumpat. Bahkan terkadang  dia buktikan dengan rekaman. Lama kelamaan, antar karyawan menjadi bertengkar. Bahkan ada karyawan yang dipecat karena mengumpat tentang bosnya dan Maman memberikan rekaman tersebut ke bosnya. Lalu Maman diberikan posisi karyawan tersebut sebagai hadiah atas kesetiaannya kepada bosnya. Semakin hari Maman semakin dipercaya sehingga posisinya semakin tinggi. Hingga suatu hari dia mengkhianati bosnya supaya dia mendapatkan posisi bosnya tersebut.

Apakah cerita tersebut seperti kisah fiktif belaka? Bagaimana jika seorang yang tidak berhasil menjadi ketua partai politik lalu dia membuat partai politik baru? Parahnya, dia membawa semua jaringannya-baik teman, penggalang dana, ataupun pendukung- ke partainya yang baru. Saya tidak tahu persis apakah posisi ketua partai itu yang penting buat dirinya atau karena merasa dikhianati. Yang jelas dia menjadi ketua partai di partainya yang baru dibentuk. Bukankah itu kisah nyata? Tentu saja saya tidak perlu menyebutkan partainya. Tapi orang-orang tersebutlah yang menyebabkan partai peserta pemilu di tahun 2009 menjadi 38 partai.

Banyak pula kisah dimasyarakat bagaimana seseorang harus membayar untuk posisi tertentu. Seorang teman menceritakan tentang tawaran membayar tujuh puluh juta untuk menjadi pegawai negeri dengan gaji awal kurang dari dua juta. Apakah demikian pentingnya sebuah posisi sehingga mereka mau membayar uang sebesar itu? Beberapa diantara mereka mau membayar karena gengsi pegawai negeri. Mereka marah diperlakukan tidak adil karena pekerjaan mereka yang tidak tetap dan saatnyalah mereka berbangga karena memiliki penghasilan tetap. Mereka bisa mengajukan hutang dengan SK-nya dan membiayai gaya hidup mereka yang lebih wah. 

Sudah menjadi rahasia umum, setiap calon anggota DPR harus memberikan uang untuk menentukan nomor urut di partai mereka. Orang-orang yang dianggap setia pada partai dan memiliki andil besar dalam membesarkan partai maka orang tersebut akan menempati nomor urut pertama. Untuk mereka yang bisa berkontribusi lebih dibandingkan lainnya akan mendapatkan nomor urut diatas lainnya.

Seorang teman di Kupang terpaksa menjadi nomor urut tiga karena ada orang yang mampu membayar lebih banyak dibandingkan dirinya. Terjadi jual beli nomor urut di daerah-daerah. Tentu saja partai akan lebih diuntungkan karena ada pemasukan ke kas partai untuk biaya kampaye partai itu sendiri.

Masalah pun datang ketika ternyata Makamah Konstitusi menganggap sistem nomor urut merupakan pengekangan atas kedaulatan rakyat dan meminta untuk pemilihan dilakukan berdasarkan suara terbanyak. Uji material ke MK tersebut dilakukan oleh seorang calon dari PDIP karena dia mendapatkan nomor urut di bagian bawah. Masalah pun berdatangan. Partai-partai pendukung suara terbanyak menyatakan persetujuannya tetapi partai yang menerapkan nomor urut mulai pusing. Kontribusi mereka ke partai tidak lagi menentukan apakah mereka akan mewakili partainya di kursi DPR nanti melainkan bagaimana dekat mereka dengan masyarakatlah yang akan menentukan.

Orang-orang yang sudah membayar untuk mendapatkan nomor urut kecil pun merasa kecewa. Mereka yang mengejar posisi dengan membayarkan uang ke partai-bukan mendekati rakyat yang akan memilih mereka- sekarang terkena batunya. Posisi memang penting untuk mereka apalagi mereka sudah mengeluarkan uang. Tetapi jika posisi diartikan sebagai kekuasaan maka kita akan terjebak dalam posisi tersebut.

Contoh yang baik diberikan oleh tokoh nasional Amien Rais dalam kisah dibawah ini. Ketika masa orde baru, Amien Rais memberikan kritik-kritik pedasnya ke pemerintah saat itu. Puncaknya di tanggal 29 Mei 1997 Amien Rais menuliskan esai kritisnya yang berjudul kejujuran yang dimuat di kolom resonansi harian republika. Esai tersebut dianggap mengkritik permainan partai golkar dalam pemilu 1997.

Esai tersebut membuat beberapa tokoh militer dan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) bereaksi keras. Mereka mengadakan rapat sebagai tanggapan terhadap esai tersebut. Akibatnya Amien Rais diberhentikan dari posisinya sebagai penulis kolom resonansi dan anggota dewan redaksi surat kabar tersebut. Saat itu dengan tenang Amien Rais menanggapi keputusan yang disampaikan oleh pihak manajemen Harian Republika melalui telepon. ”Nggak apa-apa. Saya ikhlas kok. Yang penting Republika tetap bisa bertahan.”

Ternyata permasalahan tidak berhenti disitu. Dia juga didesak untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua dewan pakar ICMI. Dan sambil berseloroh,”Saya tidak ingin menjadi kancil pilek,” Amien pun memenuhi desakan tersebut. Amien tidak ingin memiliki posisi tetapi akhirnya dirinya terikat oleh posisi tersebut dan tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Dia memilih tidak memiliki posisi tetapi tetap bisa memperbaiki dan mengubah keadaan bangsa.

Hal ini pun terlihat karena setelah tidak memiliki posisi kiprah Amien bukannya semakin surut malah semakin terang. Dia mendirikan partai Amanat Nasional, melakukan gerakan bersama dengan mahasiswa dan akhirnya menjadi ketua MPR RI. Memang ada hal-hal yang saya sendiri tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Amin Rais, tetapi paling tidak saya bisa belajar dari bagian hidupnya.

Hal yang paling sulit ketika mendapatkan posisi adalah menggunakannya untuk hal yang baik. Kita sering mendengar kasus korupsi karena menggunakan posisi untuk kepentingan dirinya sendiri. Mantan gubernur Jawa Barat Danny Setiawan diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan korupsi pengadaan mobil kebakaran alat berat di pemprov Jabar 2003-2004. Walaupun dia sudah mengembalikan dua miliar, tetapi masih belum sebanding dengan kerugian negara yang mencapai Rp 56 miliar. Padahal di Jawa Barat banyak sekali pembangunan yang belum terselesaikan karena masalah dana. Dia telah menggunakan posisinya bukan untuk hal yang baik melainkan untuk kepentingan dirinya sendiri.

Kita juga mengenal Urip Tri Gunawan, seorang jaksa yang seharusnya menjadi alat hukum untuk memberantas korupsi justru memanfaatkan posisinya dengan menerima suap sampai Rp 6 miliar. Angka yang fantastis dibandingkan dengan penghasilannya. Urip menjadi makelar kasus, mengatur strategi supaya terdakwa bisa dihukum ringan atau kalau memungkinkan bisa dibebaskan.

Ketika saya melakukan perjalanan dari Bandung ke Kebumen mengendarai sepeda motor, saya melanggar lampu merah di Ciamis. Sebenarnya hanya pelanggaran ringan, roda depan saya melebihi garis putih di lampu merah dan itu dianggap melanggar lampu merah. Saat itu saya sedang mencari bengkel sehingga tidak sadar kalau lampu sudah merah. Terus terang kalau di Bandung saya sering melakukannya dan tidak pernah mendapatkan masalah.

Tetapi seorang polisi melihat plat luar kota di motor saya seakan-akan mendapatkan kesempatan. Saya ditilang. Tidak tanggung-tanggung Rp 80.000,00. Saya berbaik hati untuk menyerahkan uang tersebut ke kas negara seperti yang disarankan polisi untuk transfer ke rekening negara. Saya pun siap melakukannya. Tetapi polisi tersebut berubah pikiran. Uang tilang harus diberikan ke dirinya.

Saya pun berdebat cukup lama yaitu setengah jam dan akhirnya saya bayar saja daripada saya kehilangan waktu lebih banyak lagi. Intinya, dia tidak memperkenankan saya ikut sidang atau cara lainnya selain membayar ke dirinya uang tersebut. Saya meminta bukti tilang pun tidak diberikannya dengan alasan lembar tersebut perlu pengesahan dari kantornya.

Ketika saya berbaik hati mau ke kantornya supaya mendapatkan tanda bukti pun tidak diijinkannya. Mungkin tulisan ini dianggap mengejek dunia kepolisian. Bukan itu yang saya maksudkan. Ini hanyalah contoh ternyata sangat banyak orang yang memanfaatkan posisinya. Tidak semua polisi memanfaatkan posisinya. Di daerah Sukajadi, Bandung, saya sering menemukan polisi hanya memperingatkan pengendara motor yang tidak memakai helm.

Hidayat Nur Wahid melakukan gerakan moral ketika dia mendapatkan posisi yang cukup tinggi. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut akhirnya menjadi ketua MPR RI periode 2004-2009 dengan selisih dua suara dengan pesaingnya sekjen PDIP Sutjipto. Begitu terpilih sebagai ketua MPR, dia melepaskan jabatannya sebagai Presiden PKS.

Hidayat juga menolak fasilitas khusus pimpinan MPR berupa jatah mobil dinas Volvo dan penginapan di kamar hotel kelas royal suite room, sementara pejabat lainnya meminta tambahan tunjangan tetapi jarang ikut rapat kerja. Hidayat tahu benar posisinya sebagai pemimpin sehingga harus memberikan contoh kepada setiap orang yang dipimpinnya. Memang dia tidak punya banyak wewenang, tetapi perubahan yang dimulai darinya diharapkan akan ditiru oleh orang di sekitarnya.

Saya salah satu orang yang tidak terlalu peduli dengan posisi. Buat saya posisi adalah alat supaya saya bisa menjadi diri saya sendiri dan memberikan yang terbaik buat orang lain. Jika posisi tinggi tetapi harus melakukan sesuatu yang hanya menyenangkan atasannya, maka saya memilih tidak memiliki posisi tersebut. Jika posisi saya terancam karena saya melakukan yang terbaik buat orang lain, maka biarlah posisi saya hilang tetapi saya tetap memiliki kesempatan membuat dampak bagi kehidupan orang lain.

Sikap saya inilah yang membuat saya tidak perlu berbohong, menjadi penjilat, dan tidak berani konfrontasi dengan atasan. Saya merasakan damai di hati saya. Jika saya kehilangan posisi karena melakukan hal yang baik berarti Tuhan menginginkan saya melakukan hal yang baik di tempat lain. Dia akan menyediakan posisi tersebut dan tetap menjagai saya untuk bisa memenuhi kebutuhan saya.

Comments

3 Comments on Apa yang Anda Cari: Posisi?

  1. Nova Widyanto on Mon, 16th Aug 2010 6:20 pm
  2. nice post.
    mudah-mudahan saya bukan termasuk orang yang suka cari posisi.

  3. menterimasak on Sun, 22nd Aug 2010 9:23 am
  4. Be gimana tampilannya lebih sip gak? judul themesnya i love the blue of indonesia…..

  5. sld on Sun, 29th Aug 2010 6:34 pm
  6. tampilann ok, hanya fontnya kekecilan dan agak kurang nyaman dibaca soalnya background agak gelap.
    tapi secara keseluruhan OK… TOP..