Belajar Dari Starbucks: Membangun Kepercayaan

August 9, 2010 by S. Libe Suryapusoro
Filed under: Kepemimpinan 

Banyak pemimpin yang lebih dahulu menanyakan pekerjaan daripada kabar dari orang yang dipimpinnya. Mereka sangat memperhatikan hasil kerja karyawannya tetapi tidak memperhatikan si karyawan itu sendiri. Bahkan terkadang tidak menyadari kehadiran atau ketidakhadiran orang tersebut di sekitarnya. Mereka tidak terlalu tahu apakah karyawannya sedang mengalami permasalahan dengan anaknya yang sakit atau orang tuanya atau istrinya. Yang penting hasil kerja sesuai yang diharapkan, jika tidak sesuai barulah mereka mencari tahu apa yang terjadi dengan karyawannya. Sikap seperti ini menunjukan bahwa kepentingan organisasi lebih penting daripada karyawan itu sendiri.

 Sangatlah baik jika kita memimpin dengan hati daripada memimpin hanya dengan kepala. Kasih sayang dan rasa percaya adalah pembangkit motivasi yang universal. Perhatian yang terbuka dan jujur serta dialog adalah kunci kepedulian dan juag merupakan kunci kepercayaan. Tidak ada rasa percaya tanpa rasa peduli, dengan kata lain jangan harapkan orang percaya kepada kita jika kita tidak mempedulikan mereka. Sikap peduli ini membuat kita tetap pada fokus yang benar-benar berarti.

 Kepedulian tidak bisa hanya dikatakan tetapi harus dilakukan. Dari sikap, tindakan dan keputusan kita sebagai pemimpin akan terlihat seberapa peduli diri kita kepada karyawan. Ketika kita mengabaikan kepentingan mereka untuk kepentingan organisasi ataupun pribadi, kita sedang menunjukan bahwa kita tidak peduli pada mereka. Ketika kita meminta mereka menunda cuti karena target yang belum tercapai, kita sedang menunjukan apakah kita lebih peduli pada hidup mereka atau target kita.

 Kepedulian dilakukan terlebih dahulu sebelum kita mengharapkan kepedulian dari orang lain. Jangan kita peduli jika mereka peduli pada kita, seakan-akan kepedulian kita merupakan balasan atas kepedulian mereka. Tetapi teruslha peduli walaupun mereka tidak terlalu peduli dengan diri kita. Ini akan membantu karyawan untuk mengubah dari fokus aku (diri mereka sendiri) menjadi fokus kita (kepentingan bersama).

 Kepedulian ini akan menular. Setiap karyawan akhirnya saling peduli satu dengan yang lain. Mereka juga akan memperlakukan pelanggan mereka dengan kepedulian. Pelayanan yang mereka lakukan bukan sekedar dengan tangan dan kaki melainkan juga dengan hati. Ada suasana menyenangkan di dalam organisasi dan suasana tersebut dapat dirasakan oleh setiap orang. Demikian pula jika kita sebagai pemimpin tidak peduli. Ada suasana yang tidak menyenangkan di organisasi ini dan suasana tersebut tanpa kita sadari telah mengusir pelanggan kita.

  Perasaan peduli juga berarti kita harus menolong mereka baik ketika melakukan hal baik maupun kesalahan. Ketika atasan kita akan menyerang bawahan kita maka kita harus menjadi tameng untuk karyawan kita. Kita harus berani berdiri di tengah-tengah. Hal ini akan membuat karyawan kita tetap tinggal bersama dengan kita dan melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan untuk kita. Pengorbanan kita merupakan bentuk tindakan kepedulian. Saat orang-orang tahu betapa peduli kita pada mereka maka mereka (baik karyawan ataupun pelanggan) akan selalu kembali lagi.

Comments

2 Comments on Belajar Dari Starbucks: Membangun Kepercayaan

  1. iwan on Mon, 9th Aug 2010 3:50 pm
  2. mantap pak artikelnya, membuat bisa berefleksi…
    tapi crita starbucknya mana?

  3. libe on Tue, 10th Aug 2010 8:26 am
  4. Iya pak, namanya juga belajar dari starbuck bukan dari kisahnya. Ini manajemen yang dilakukan di sono. Mereka menerapkan kepedulian sehingga bisa seperti sekarang ini, menjadi tempat yang nyaman buat para karyawannya.