Mundur Tidak Berarti Gagal

July 29, 2010 by S. Libe Suryapusoro
Filed under: pengembangan diri 

Beberapa tahun yang lalu saya putuskan saya tidak melanjutkan kuliah saya S2 dalam bidang Christian Leadership. Saya gagal dalam kuliah saya, bahkan gagal sebelum diputuskan gagal oleh pihak universitas. Biasanya orang menunggu dikeluarkan tetapi saya mengundurkan diri terlebih dahulu. Bukan keputusan yang mudah. Saya sudah mengeluarkan banyak uang, dan menyelesaikan hampir setengah yang harus diselesaikan. Orang tua saya sagat senang ketika mendengar saya melanjutkan S2 dan akhirnya mereka sangat sedih ketika mendengar sayamengakhirinya. Demikian juga istri saya. Seakan-akan kebanggaan sebagai calon lulusan S2 menjadi sirna.

Banyak alasan mengapa saya memilih gagal dalam kuliah saya. Iya, Anda tidak salah membaca. Saya yang memilih untuk gagal dalam kuliah tersebut. Pilihan ada di tangan saya bukan di tangan roang lain. Saya bisa memberikan banyak sekali alasan bahkan lebih banyak dibandingkan yang Anda perlukan. Mulai dari kesibukan, ketidakadaan biaya, bentrok dengan waktu kerja, kampus di kota saya yang tiba-tiba di tutup, saya tidak merasakan manfaat yang besar dan sebagainya. Asal tahu saja, itu hanya sekedar alasan dan alasan tidaklah selalu benar. Bukankah saya seharusnya sudah tahu dari awal kalau kuliah itu menyita banyak waktu dan biaya? Mengapa dahulu bukan alasan sekarang jadi alasan?

Saya jadi ingat ketika mendengar pasangan artis yang bercerai. Alasan mereka salah satunya adalah perbedaan usia yang terlalu jauh. Bukankah usia dari dulu sebelum menikah juga berbeda terlalu jauh? Terus mengapa sekarang jadi alasan padahal dulu bukan alasan? Juga artis lain yang berpisah dengan alasan perbedaan diantara mereka. Alasan adalah suatu bentuk pembenaran tentang hal yang kita lakukan. Kita tidak perlu alasan untuk membenarkan diri kita. Saya juga tidak perlu alasan untuk membenarkan diri saya dan menghibur saya ketika saya memutuskan berhenti kuliah.

Sebenarnya alasan utama adalah saya tidak tahan menderita. Tekananan-tekanan yang begitu berat membuat perjalanan hidup saya semakin lambat bahkan hampir berhenti. Saya tidak berkembang. Bahkan saya menganggap bahwa kuliah saya hanya sekedar mencari titel. Saya tidak bisa hadir di dalam pertemuan, saya tidak banyak belajar selain dari buku-buku yang saya baca sendiri. Saya juga tidak mampu membayar uang kuliah. Setiap kegagalan harus saya terima dan saya tanggung. Saya tidak boleh menyalahkan orang di sekitar saya.

Huh…Anda kembali membaca alasan saya. Tetapi itu dasar saya memutuskan untuk berhenti (sama saja Pak!!!). Memang pada dasarnya sulit menghindari diri kita untuk membuat alasan. Kita terlalu sering terjebak untuk membenarkan diri dan akhirnya menghibur diri (bukan salah saya lho!!!). Tapi keluarnya saya dari dunia kampus karena keputusan saya. Saya tetap tidak menyalahkan orang lain di sekitar saya. Saya tidak tahan menderita karena itu saya mundur.

Tidak tahan menderita karena apa?

Yang pertama karena tekanan apa yang sedang saya lakukan. Saya sudah capek bergadang tengah malam memikirkan tugas sementara otak sebenarnya sudah capek memikirkan pekerjaan. Apalagi saya harus pergi ke toko buku, mencari buku-buku untuk menyelesaikan tugas mata kuliah saya. Setiap mata kuliah saya harus membuat tulisan sekitar 25 halaman. Tentu saja bukan hanya tulisan yang bercerita atau asal nulis, tetapi tulisan yang mengnadung data-data dan informasi yang akurat. Ditambah rusaknya laptop yang saya pakai dan hilangnya banyak data dan tidak bisa diselamatkan. Saya tidak tahan dengan tekanan ini.

Yang kedua, karena tekanan apa yang sedang saya tunda. Karena waktu saya habis untuk mengerjakan tugas kuliah dan pekerjaan saya, saya terpaksa menunda beberapa hal yang ingin saya lakukan. Saya menunda membaca buku-buku pengembangan diri dan kepemimpinan, saya menunda membuat website, membuat tulisan-tulisan. Saya menunda membantu rekan-rekan dalam mengembangkan diri mereka. Saya menunda semua yang sebenarnya sangat ingin saya lakukan. Saya tidak tahan menundanya. Apakah Anda pernah merasakan penderitaan karena menunda sesuatu? Menunda liburan misalnya? Atau memancing, nonton di bioskop, jalan-jalan, dsb? Bagaiman rasanya? Tidak enak bukan? Itulah yang saya alami. Saya pun tidak tahan terhadap itu semua.

Penderitaan karena faktor luar. Bukankah malu mengaku mahasiswa tetapi tidak aktif di kampus? Bahkan tugas kuliah saja sering terlambat dikumpulkan. Ketika ditanya kuliah dimana? Saya pun menyebutkan nama universitas saya. Tetapi ketika ditanya, kapan kuliahnya? Saya pun tidak bisa menjawabnya. Ada rasa malu di hati saya karena sebenarnya saya tidak aktif lagi kuliah. Saya pun mengambil keputusan, saya sungguh-sungguh kuliah atau sungguh-sungguh tidak kuliah. Keduanya sama-sama sungguh-sungguh (tidak main-main). Saya pun mengambil langkah kedua.

Sebenarnya yang terjadi di banyak orang tidak jauh berbeda dengan saya. Memang di Indonesia tidak ada budaya mengundurkan diri. Bahkan menteri yang terlihat tidak bekerja pun tidak akan mengundurkan diri. Para anggota DPR yang jarang sekali ikut sidang dalam penentuan arah bangsa ini pun tidak akan mengundurkan diri dari posisinya. Karena mereka memang tahan menderita. Hanya saja tahan menderita ini lebih ke arah negatif. Mereka malu kalau disebut gagal sebagai anggota DPR ataupun menteri. Menurut mereka lebih baik tetap di posisinya dan tidak dianggap gagal.

Mundur tidak berarti gagal. Contoh yang konkrit adalah Nelson Mandela. Siapa yang tidak mengenal orang yang satu ini? Mandela menjadi presiden Afrika Selatan pada tahun 1994-1999. seharusnya dia masih bisa mencalonkan diri menjadi presiden. Dia juga bisa mengupayakan supaya dia menjadi presiden selama 30 tahun atau lebih. Bandingkan dengan apa yang terjadi di negara berkembang lainnya. Mereka sering kali memiliki presiden yang memmerintah lebih dari 10 tahun. Tapi sampai sekarang Nelson, walaupun hanya lima tahun menjadi presiden, tetap menjadi orang yang dihormati. Apakah ada yang berpendapat bahwa dia orang yang gagal bertahan menjadi presiden? Saya yakin, Anda tidak berpikir demikian.

Berbeda dengan negara yang dikuasai junta militer di Asia. Para pemegang kekuasaan berusaha supaya tetap menjadi penguasa, apapun resikonya. Mereka memang berhasil menahan penderitaan dari luar. Bayangkan saja, Myanmar maupun Pakistan, sudah diasingkan dari negara lain. Mereka di desak untuk menyerahkan kekuasaannya kepada rakyat. Tetapi mereka tidak bergeming, akibatnya banyak korban yang mati.

Mengapa saya harus memaksakan untuk tetap melanjutkan kuliah saya jika memang banyak hal lainnya yang dipertimbangkan? Mengapa saya harus berpura-pura menempati posisi atau kondisi tertentu hanya supaya terlihat baik? Mengapa saya tidak mundur saja? Apakah saya dibilang gagal? Bukankah itu lebih baik daripada saya berpura-pura jadi mahasiswa padahal saya tidak melakukan tugas saya sebagai mahasiswa dengan baik?

Jika saya mempertahankan status kemahasiswaan saya hanya supaya tidak dibilang sebagai orang gagal, sebenarnya saya sudah gagal. Saya gagal mengambil keputusan dan saya gagal menerima tanggung jawab saya yang sebenarnya. Saya gagal karena saya tidak ingin di anggap gagal dan tidak tahan menderita.

Tetapi ketika buku ini ada di tangan Anda, apakah Anda masih menganggap saya sebagai orang gagal? Tidak masalah kalau saya menghentikan langkah saya. Asalkan saya melangkah lagi dengan cara yang lainnya. Saya meniru Nelson Mandela. Dia memang berhenti menjadi presiden setelah lima tahun. Dia tidak mengusahakannya lagi. Tetapi dia tetap berkarya. Dia menggunakan pengaruhnya untuk membebaskan rakyat Afrika dari penyakit AIDS. Itulah yang saya usahakan. Walaupun saya tidak bisa menyelesaikan S2 saya, saya tetap mengusahakan pemikiran dan tenaga saya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Bagaimana dengan Anda?

Saya ingin menceritakan sebuah cerita. Ada seorang kaya yang memiliki rumah yang sangat bagus, memiliki mobil yang banyak, bajunya bagus-bagus dan selalu tampil sebagai orang kaya. Dia ikut dalam club orang kaya yang keanggotaannya harus membayar 30 juta setiap bulan. Anak-anaknya bersekolah di sekolah orang kaya yang biaya sekolah bisa mencapai 20 juta setiap bulannya. Biaya hidupnya sangat tinggi.

Tiba-tiba saja usahanya bangkrut karena dililit hutang. Krisis moneter yang terjadi di Indonesia membuat hutangnya, yang dalam bentuk dolar, menjadi membangkak. Bayangkan saja biasanya dia harus membayar cicilan hutangnya dengan 1 dolar sama dengan Rp 3.000,- sekarang harus membayar 1 dolar Rp 15.000,- lima kali lipatnya. Kondisi ekonomi juga lesu. Tetapi si orang kaya ini tidak mau dianggap gagal. Dia tidak mau mengundurkan keanggotaannya di club orang kaya. Padahal itu bisa jadi penghematan buat dirinya. Dia tidak mau terlihat sebagai orang yang bangkrut. Dia tetap mempertahankan biaya hidupnya yang tinggi.

Lima bulan kemudian, rumahnya di sita. Mobil dan semua miliknya menjadi jaminan hutang, terpaksa dijualnya. Demi tidak dikatakan sebagai orang gagal, dia menjadi gagal total dan sulit baginya untuk bangkit. Seandainya dia mau dikatakan sebagai orang gagal, dan mengurangi biaya hidupnya, saya yakin, usahanya masih bisa bertahan.

Jangan takut dianggap gagal karena mundur dari suatu keadaan. Tetapi mundurlah lalu lakukan sesuatu yang luar biasa untuk maju.

Comments

Comments are closed.