Mundur Tidak Berarti Gagal
Beberapa tahun yang lalu saya putuskan saya tidak melanjutkan kuliah saya S2 dalam bidang Christian Leadership. Saya gagal dalam kuliah saya, bahkan gagal sebelum diputuskan gagal oleh pihak universitas. Biasanya orang menunggu dikeluarkan tetapi saya mengundurkan diri terlebih dahulu. Bukan keputusan yang mudah. Saya sudah mengeluarkan banyak uang, dan menyelesaikan hampir setengah yang harus diselesaikan. Orang tua saya sagat senang ketika mendengar saya melanjutkan S2 dan akhirnya mereka sangat sedih ketika mendengar sayamengakhirinya. Demikian juga istri saya. Seakan-akan kebanggaan sebagai calon lulusan S2 menjadi sirna.
Banyak alasan mengapa saya memilih gagal dalam kuliah saya. Iya, Anda tidak salah membaca. Saya yang memilih untuk gagal dalam kuliah tersebut. Pilihan ada di tangan saya bukan di tangan roang lain. Saya bisa memberikan banyak sekali alasan bahkan lebih banyak dibandingkan yang Anda perlukan. Mulai dari kesibukan, ketidakadaan biaya, bentrok dengan waktu kerja, kampus di kota saya yang tiba-tiba di tutup, saya tidak merasakan manfaat yang besar dan sebagainya. Asal tahu saja, itu hanya sekedar alasan dan alasan tidaklah selalu benar. Bukankah saya seharusnya sudah tahu dari awal kalau kuliah itu menyita banyak waktu dan biaya? Mengapa dahulu bukan alasan sekarang jadi alasan? Read more

