Mengetahui Mimpi Anda
Mimpi menjadikan arah kemana kita akan pergi. Mimpi juga memberikan gairah dalam hidup kita. Mimpi berbeda dengan angan-angan. Angan-angan adalah sesuatu yang kita ingin itu terjadi di dalam hidup kita tetapi kita tidak yakin itu bakal terjadi. Sedangkan mimpi adalah sesuatu gambaran di masa yang akan datang yang kita yakin akan mencapainya.
Apakah mimpi Anda?
Bayangkanlah Anda hadir di dalam pemakaman Anda sendiri. Anda mendengar setiap orang akan memberikan komentar tentang diri Anda. Komentar apa yang ingin Anda dapatkan dari:
Orang tua Anda: __________________________________________________________________________________________________
Anak Anda :
__________________________________________________________________________________________________
Teman sekerja Anda:
__________________________________________________________________________________________________
Tetangga Anda:
__________________________________________________________________________________________________
Orang-orang yang mengenal Anda:
__________________________________________________________________________________________________
Renungkan sejenak dan tuliskan mimpi Anda:
___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Sering kali orang bermimpi dan akhirnya melupakannya. Saya mencoba untuk membantu Anda. Tuliskan keadaan Anda berhubungan dengan hal-hal dibawah ini 20 tahun kedepan (sehubungan dengan mimpi Anda):
Keuangan: _____________________________________
Karir : ____________________________________
Sosial : ____________________________________
Intelektual:_____________________________________
Rohani : ______________________________________
Jasmani : _____________________________________
Pasangan : _____________________________________
Orang tua : _____________________________________
Dimanakah posisi Anda saat ini:
Keuangan : _____________________________________
Karir : ____________________________________
Sosial : ____________________________________
Intelektual:_____________________________________
Rohani : ______________________________________
Jasmani : _____________________________________
Pasangan : _____________________________________
Orang tua : _____________________________________
Apakah yang harus anda lakukan untuk mencapai mimpi Anda? Mulailah hari ini.
- _____________________________________________
- _____________________________________________
- _____________________________________________
- _____________________________________________
- _____________________________________________
- _____________________________________________
- _____________________________________________
Carilah teman pertanggungjawaban. Teman dimana Anda bisa menceritakan semua permasalahan Anda dan anda mempersilahkan orang tersebut menegur Anda.
Teman pertanggungjawaban
Ketika ada di sebuah pulau yang cukup sepi, saya banyak memikirkan hal ini. Teman dimana saya bertanggung jawab. Ini bukan tentang bos saya dimana saya haruss bertanggung jawab. Memang saya harus memberikan pertanggungjawaban dari setiap hal yang saya lakukan dan setiap rupiah yang saya gunakan. Saya pikir sebatas itu. Saya tidak memberikan pertanggungjawaban atas apa saja yang saya lakukan di waktu luang. Atau bagaimana saya menggunakan uang pribadi saya. Bukankah tidak mungkin saya memberikan laporan keuangan pribadi saya ke bos saya?
Tetapi saya sangat menyadari bahwa saya memerlukan teman dimana saya mempertanggungjawabkan hidup saya. Saya pun mulai memikirkan, siapakah orang tersebut? Tentu yang saya maksud selain Tuhan, karena sudah jelas saya harus mempertanggung jawabkan ke Tuhan. Saya memerlukan orang yang bisa menegur saya, memperingatkan saya jika saya mulai salah, dan mendukung saya jika memang saya benar. Saya memerlukan kacamata yang berbeda dengan kaca mata saya, yang bisa melihat apa yang tidak bisa saya lihat dan merasakan apa yang tidak saya rasakan. Disaat saya tidak peka terhadap suara Tuhan, suara manusia itu akan datang menegur saya. Disaat saya mulai egois, hanya memikirkan diri sendiri maka teman pertanggungjawaban tersebut akan memperingatkan saya.
Saya pun mulai menentukan syarat teman dimana saya memberikan pertanggungjawaban dan dalam bidang apa saja yang akan saya berikan pertanggungjawaban. Yang pertama, dia harus mengasihi saya. Karena saya menyadari, jika tidak ada kasih maka kecenderungan yang terjadi adalah perusakan. Saya dirusak oleh orang tersebut atau saya dimanfaatkan utuk kepentingannya dia. Jika tidak ada kasih, dia bisa saja membiarkan saya bersalah dan bersorak ketika saya jatuh. Jadi kasih itu yang terutama. Yang kedua, dia harus orang yang percaya. Yang saya maksud bukan saja dia pergi ke gereja dan mengatakan hal-hal rohani. Tetapi dia memahami Firman Tuhan dan melakukannya. Ini sangat penting karena saya harus memastikan dia tidak merekomendasikan saya untuk melakukan hhal yang tidak benar. Yang ketiga, dia mengetahui tentang hal-hal yang saya kerjakan. Walaupun dia bukan ahlinya tetapi paling tidak dia bisa membayangkan ketika saya menceritakan tentang apa yang saya lakukan.
Lalu saya pun menyadari bahwa selama ini istri saya sudah menjadi teman pertanggungjawaban. Saya selalu menginformasikan tentang penggunakan uang, baik buat parkir, beli makanan, minuman dan lain-lain. Ini bukan siapa mengawasi siapa, tetapi dari penggunaan uang, istri saya memahami apa yang menjadi penting buat saya dan apa yang sedang saya kerjakan. Ini menjadi sangat penting supaya dia bisa mendukung saya atau menegur saya jika saya tidak melakukan sesuatu. Juga tidak mungkin buat saya untuk mencoba-coba selingkuh jika saya laporkan semua penggunaan uang yang ada pada saya. Ini ini ternyata masih kurang karena dia sangat mencintai saya sehingga terkadang dia biarkan saya menyenangkan diri saya tetapi tidka melakukan hal yang harus saya lakukan. Dia terlalu sayang ke saya sehingga untuk beberapa kasus dia tidak menegur saya. Saya pun mengamati, kasus tersebut sering kali berhubungan dengan pelayanan yang saya rintis. Oleh karena itu, di bidang tersebut saya mencari orang lain.
Saya pun meminta rekan pelayanan saya untuk menjadi teman pertanggungjawaban. Dia bukan hanya melakukan apa yang saya lakukan walaupun itu yang menjadi tugas dia tetapi bagaimana membuat dia terlibat secara dalam dan mendapatkan laporan dari saya. Sebenarnya terdengar aneh, karena sayalah yang memimpin. Itu sama saja pemimpin perusahaan yang memberikan laporan (bukan hanya keuangan) kepada para pegawainya. Itu juga sama dengan pendeta yang selalu memberikan laporan kepada jemaatnya (saya melihat mulai banyak pendeta yang tidak memberikan laporan). Saya memberikan laporan yang saya lakukan dan mengharapkan masukan dari mereka. Tetapi ternyata hal tersebut tidak cukup. Untuk beberapa kasus, rekan pelayanan saya merasa enggan memberikan masukan apalagi teguran.
Maka saya pun meminta orang lain lagi yang tidak terlibat sama sekali dengan apa yang saya lakukan untuk menjadi teman pertanggungjawaban saya. Dia mendapat leporan dari saya bukan hanya laporan keuangan. Saya pun membuat perencanaan, bagaimana memonitoring dan mengevaluasi apa yang saya lakukan. Sebenarnya itu bukan hanya sekedar untuk laporan tetapi memudahkan saya melakukan pelayanan saya.
Dengan adanya teman pertanggungjawaban maka saya sedang menjamin saya memiliki integritas. Karena saya menyadari saya tidak bisa memiliki integritas jika saya tidak melibatkan orang lain untuk mengawasi saya.
Apa yang menghalangi Anda mencapai mimpi Anda:
1. _______________________________________________
2. _______________________________________________
3. _______________________________________________
4. _______________________________________________
5. _______________________________________________
Bagaimana Anda menanggapi halangan tersebut:
1. _______________________________________________
2. _______________________________________________
3. _______________________________________________
4. _______________________________________________
5. _______________________________________________
Kisah: M Yunus Pembebas Kaum Papa
Muhammad Yunus dan Grameen Bank Banglades meraih Nobel Perdamaian 2006. Ini untuk pertama kali, sebuah usaha pemberantasan kemiskinan mendapatkan sendiri apresiasi itu. Komite Nobel makin berpihak kepada upaya pencegahan perang yang paling fundamental, pemberantasan kemiskinan. Perdamaian haruslah merupakan sebuah perdamaian yang berkeadilan.
Pria yang rambutnya sudah memutih itu tertawa riang sambil melambaikan tangan di antara para kerabat dan masyarakat Bangladesh setelah mengetahui namanya diumumkan sebagai penerima Hadiah Nobel untuk Perdamaian 2006 di Dhaka, Bangladesh. “Ini penghargaan bagi kaum miskin!” seru Muhammad Yunus (66), pendiri Bank Grameen yang kini memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa dan mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin.
Siapa yang menyangka. Hingga detik-detik terakhir, Muhammad Yunus memang sama sekali tidak disebut-sebut berpeluang menerima hadiah Nobel Perdamaian 2006. Banyak kalangan menjagokan mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari yang berjasa meredakan konflik Aceh. Tokoh lain yang dijagokan adalah Mantan Menteri Luar Negeri Australia Gareth Evans yang berjasa merekonstruksi Kamboja dan Vietnam; aktivis etnik Uighur Rebiya Kadeer yang menuduh Pemerintah China menyiksa orang Uighur di barat daya Xinjiang; dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Namun tahun ini, untuk pertama kalinya, pemenangnya bukanlah selebriti yang sudah terkenal di dunia, juga bukan figur dan badan yang dijagokan, tetapi yang peduli pada pemberdayaan kaum papa dan wanita. Komite Nobel Norwegia dalam keputusannya punya alasan tersendiri. “Komite telah memutuskan untuk menganugerahkan Nobel Perdamaian 2006 kepada Muhammad Yunus dan Grameen Bank. Itu adalah penghargaan atas usaha mereka menciptakan pembangunan ekonomi dan sosial dari tataran paling bawah,” demikian kata Ketua Komite Nobel Norwegia Ole Danbolt Mjoes, di Oslo, Jumat (13/10). “Muhammad Yunus telah memperlihatkan diri sebagai seorang pemimpin, yang menerapkan visinya ke dalam hal praktis demi peruntungan jutaan orang, tidak hanya di Banglades, tetapi juga di banyak negara,” lanjutnya lagi.
Sedangkan Asle Sveen, seorang sejarawan Norwegia mengatakan, “Ini adalah untuk pertama kali, sebuah usaha pemberantasan kemiskinan mendapatkan sendiri apresiasi itu. Sudah terlalu banyak nominasi bagi pihak-pihak yang melerai konflik-konflik. Kini Komite Nobel makin berpihak kepada upaya pencegahan perang yang paling fundamental. Mengupayakan perdamaian tidaklah cukup, perdamaian haruslah merupakan sebuah perdamaian yang berkeadilan. Salah satu penyebab perang, yakni kelaparan dan kemiskinan, harus diatasi mulai dari akarnya,” kata Sveen.
Sekjen PBB Kofi Anna juga menyatakan pendapat yang senada. “Terima kasih pada Yunus dan Grameen Bank. Kredit mikro telah menjadi salah satu alat untuk memotong lingkaran kemiskinan yang paling membelit wanita,” kata Annan. “Kita tak bisa mengatasi terorisme dengan perang langsung terhadap terorisme, tetapi dengan memberi akses kehidupan pada kaum miskin,” lanjut Kofi Annan. Komentar senada juga bermunculan dari berbagai pemimpin dunia, mulai dari Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Perancis Jacques Chirac hingga Raja Spanyol Juan Carlos.
Pembela Kaum Papa dan Wanita
Kiprah Yunus memberdayakan kaum papa telah dilakukannya sejak tahun 1974. Ketika itu, sebagai profesor ekonomi di Universitas Chittagong, dia memimpin para mahasiswa untuk berkunjung ke desa-desa miskin di Bangladesh. Betapa kagetnya Yunus ketika dia menyaksikan warga miskin di desa-desa berjuang lolos bertahan dari kelaparan yang melanda negara itu dan telah menewaskan ratusan ribu orang. Selanjutnya, sebagai akademisi Yunus pun merasa berdosa. “Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan,” kata Yunus.
“Saya mulai membenci diri saya sendiri karena bersikap arogan dan menganggap diri saya bisa menjawab persoalan itu (kemiskinan). Kami profesor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kami. Sejak itu saya putuskan kaum papa harus menjadi guru saya,” tambahnya. Dari perasaan bersalah itu, laki-laki kelahiran Chittagong tahun 1940 itu mulai mengembangkan konsep pemberdayaan kaum papa. Filosofi yang dia bangun adalah bagaimana membantu kaum miskin agar bisa mengangkat derajat mereka sendiri. Dia tidak ingin memberi ikan, melainkan memberi pancing kepada kaum papa untuk mencari ikan sendiri.
Tekad Yunus semakin bulat setelah mengetahui seorang ibu perajin bambu bernama Sufia Begum bolak-balik berutang kepada tengkulak untuk mendapat modal membuat bangku dari bambu. Sufia yang tinggal di desa Jobra dekat Universitas Chittagong meminjam uang 5 taka atau kurang dari Rp 850 untuk setiap bangku. Namun, dia harus mengembalikan utang tersebut berikut bunganya sebesar Rp 184. “Saya berkata pada diri sendiri, oh Tuhan, hanya karena lima taka dia menjadi budak. Saya tidak mengerti mengapa mereka harus menjadi begitu miskin padahal mereka bisa membuat barang kerajinan yang bagus,” kata Yunus.
Untuk membantu Sufia dan teman-temannya sesama perajin, awalnya Yunus merogoh koceknya sendiri sebesar 27 dollar AS. Saat itu, dia begitu yakin bahwa jika orang miskin diberi akses kredit seperti yang diberikan kepada orang kaya, mereka pasti bisa mengelolanya dengan baik. “Berikan itu (kredit) kepada orang miskin, mereka akan bisa mengurus dirinya,” katanya. Keyakinan Yunus tidak meleset. Program kredit mikro yang digulirkannya terus berkembang.
Dua tahun kemudian, Yunus mulai mengembangkan program kredit mikro tanpa agunan untuk kaum papa yang tidak dapat mengakses pinjaman bank. Program ini menjadi semacam gugatan Yunus terhadap ketidakadilan dunia terhadap kaum miskin. “Mengapa lembaga keuangan selalu menolak orang miskin? Mengapa informasi teknologi menjadi hak eksklusif orang kaya,” tuturnya.
Tahun 1976, Yunus mentransformasi lembaga kreditnya menjadi sebuah bank formal dengan aturan khusus bernama Bank Grameen, atau Bank Desa dalam bahasa Bengali. Kini, bank ini memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa. Hebatnya lagi, modal bank ini 94 persen dimiliki nasabah, yakni kaum miskin, dan sisanya dimiliki pemerintah. Bank tersebut kini mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin yang menjadi peminjamnya. Sebanyak 96 persen nasabah bank ini adalah kaum perempuan.
Untuk menjamin pembayaran, Bank Grameen menggunakan sistem yang dinamakan ‘grup solidaritas’. Kelompok kecil yang bersama-sama mengajukan pinjaman, di dalamnya terdapat anggota yang bertindak sebagai penjamin pembayaran. Pinjaman ini mirip dana bergulir, di mana ketika satu anggota telah berhasil mengembalikan pinjaman, akan digunakan oleh anggota lainnya. Bank Grameen kemudian memperluas cakupan pemberian kreditnya dengan memberikan pinjaman rumah (KPR), proyek irigasi, pinjaman untuk usaha tekstil, dan usaha lainnya.
Pada akhir 2003, Bank Grameen meluncurkan program baru, yang membidik para pengemis di Bangladesh. Pinjaman bagi para pengemis rata-rata sebesar 500 taka atau setara 9 dollar AS. Pinjaman tanpa agunan ini tidak dikenakan bunga dengan waktu pembayaran fleksibel. Syaratnya pinjaman harus dikembalikan dari hasil pekerjaan mereka dan bukan dari mengemis. “Kami berupaya menaikkan harkat selain tentunya meningkatkan kemampuan ekonomi mereka,” kata Yunus dalam situsnya.
Mereka diberikan tanda pengenal berupa pin dengan logo bank sebagai bukti bahwa ada bank yang mendukung kegiatan mereka. Bank Grameen bahkan membuat perjanjian dengan beberapa toko lokal agar meminjamkan mereka sejumlah barang, sesuai plafon utangnya, untuk dijual kembali. Bank menjamin pengembaliannya jika ternyata mereka gagal bayar. Mereka menjual roti, permen, acar, dan mainan sembari mereka mengemis. Para pengemis, atau yang disebut struggling member terbuka untuk membuka tabungan di Grameen. Mereka juga dilindungi asuransi jika terjadi kematian. Hingga pertengahan 2005, sebanyak 31 juta taka pinjaman telah disalurkan bagi 47 ribu lebih pengemis. Sebanyak 15,4 juta di antara pinjaman itu telah dikembalikan.
Bank Grameen juga telah berkembang menjadi Grameen Family of Enterprises yang membawahkan delapan lembaga profit dan nonprofit, semuanya ditujukan untuk mendorong masyarakat terangkat derajatnya. Divisi perbankannya mencatat keuntungan sebesar 15,21 juta dolar pada 2005 lalu.
Gerakan pemberdayaan kaum papa yang diprakarsai Muhammad Yunus kini diadopsi oleh lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat miskin di seluruh dunia. Bahkan, Bank Dunia yang sebelumnya memandang program ini secara sebelah mata kini mengadopsi gagasan kredit mikro. Lebih dari 17 juta orang miskin di seluruh dunia telah terbantu dengan program kredit mikro ini.
Yunus dan Grameen Bank mendapatkan hadiah sebesar 1,36 juta dollar AS (sekitar Rp 12,5 miliar). Hadiah itu, kata Yunus, akan dipakai untuk proyek yang menghasilkan makanan bergizi, murah dan juga kepada perawatan mata, pengadaan air minum serta pelayanan kesehatan.
Yunus melihat kelemahan dan mengubahnya menjadi keunggulan. Bagaimana cara Anda melakukan hal yang sama?
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

