Pengembangan diri: Anda Diciptakan Dengan Kuasa
Aku punya kuasa “Maaf, saya hanyalah orang yang diciptakan sebagai orang kecil. Saya tidak memiliki kuasa untuk melakukan apapun. Lihatlah posisi saya, saya orang terendah yang hanya menerima perintah dan tidak bisa memberikan perintah. Lihat kehidupan saya, saya tidak pernah memiliki kuasa.” Mungkin ada memiliki pemikiran sama dengan apa yang saya tuliskan diatas. Tetapi marilah kita lihat lebih jauh ke masa lalu kita.
Ketika kita masih dalam kandungan, kita bisa memerintah orang dewasa dengan istilah nyidam. Kita sering mendengar kalau bayi dalam kandungan memiliki keinginan makan sesuatu maka ibunya akan nyidam sesuatu. ”keinginan bayi” begitulah istilahnya. Ada seorang ayah yang dengan susah payah mencari mangga muda curian (harus muda dan curian tidak boleh membeli di pasar atau meminta ke yang punya pohon). Karena dia tinggal di Jakarta, pastilah sulit buatnya mencari pohon mangga apalagi mencurinya. Terpaksalah seorang ayah harus keluar kota, menuju sebuah desa dan diam-diam mencari pohon mangga yang berbuah.
Parahnya lagi kalau bukan sedang musim mangga. Mengendarai mobil masuk ke sebuah desa, melihat kekanan ke kiri. Menghentikan mobilnya di depan rumah yang memiliki pohon mangga yang sedang berbuah, mulai mengamati yang punya rumah, mencuri dan langsung pergi. Bersyukurlah kalau tidak tertangkap tuan rumah. Jika tertangkap? Bisa pulang dalam keadaan babak belur. Parahnya lagi kalau ketika sampai rumah, istri sudah tidak lagi ingin mangga muda curian tersebut. Setelah lelah mencari dan ambil risiko babak belur, ternyata kerja kerasnya tidak dihargai sama sekali. Mengapa kedua orang tua itu menjadi ribut hanya karena mangga muda? Siapakah yang memiliki keinginan makan mangga muda? Bukankah sering kali kita mengatakan itu keinginan bayi? Bayi yang masih dalam kandungan sudah memerintah kedua orang tuanya? Jika Anda menganggap itu bukan keinginan bayi maka Anda tidak percaya kalau bayi itu yang memerintah. Baiklah, saya cari hal lain.
Ayah dan ibu masih tidur nyenyak. Si ayah sudah bekerja keras seharian. Target kerja belum selesai sehingga si ayah terpaksa harus lembur. Hari itu bukanlah hari yang mengenakkan si ayah karena sudah mendapatkan omelan dari bosnya. Begitu sampai rumah, pastilah tempat tidur menjadi tempat yang nyaman buatnya. Si ibu sudah seharian bekerja. Dia harus membereskan rumah, mencuci baju, menyetrika, belum menjaga bayi yang selalu merengek. Sangatlah wajar jika si ibu beristirahat di malam hari di atas tempat tidur yang nyaman. Mereka berdua tidur nyenyak di malam tersebut.
Tiba-tiba bayi mereka menangis keras. Kedua orang tersebut, yang sudah sangat lelah, terpaksa harus bangun. Mereka harus mengecek, mengapa anak itu menangis. Apakah popoknya yang harus diganti? Atau karena kehausan sehingga membutuhkan air minum. Jangan-jangan karena sudah bosan sendirian di kamar yang sepi sehingga minta ditemani. Kedua orang tua tersebut langsung disibukan dengan perintah yang tidak jelas. Bayangkan jika bos kita hanya beteriak tetapi tidak jelas perintahnya, pastilah kita akan marah besar. Berbeda dengan anak tersebut. Orang tua memaklumi ketidakmampuan anak tersebut memerintah dengan jelas. Tetapi memang mereka sedang diperintah oleh anaknya. Bayi yang masih sangat muda pun sudah bisa memerintah. Mereka memang diberikan kuasa untuk memerintah.
Hal inilah yang tidak disadari oleh banyak orang. Setiap orang sudah diberikan kuasa ketika kita dilahirkan. Kuasa memerintah bukan berarti kita menjadi diktaktor, memerintah semau kita. Kuasa memerintah disebabkan karena hati orang-orang di sekitar kita tergerak oleh apa yang kita minta. Bayi yang baru lahir tidak perlu mempelajari bagaimana memerintah orang lain supaya mereka mau melakukan apa yang diperintahkannya. Bayi itu hanya menunjukan kalau dirinya lemah dan memerlukan bantuan. Orang dewasa tidak merasa dipaksa untuk melakukan apa yang dimintanya. Mereka melakukan dengan sukarela. Tidak ada satu orang dewasapun yang belum pernah memerintah orang lain. Semua pernah melakukan di masa kecilnya tetapi banyak diantara mereka kehilangan kemampuan ketika mereka dewasa. Bukan berarti Tuhan menentukan mereka untuk tidak pernah memerintah orang lain tetapi karena mereka tidak mampu mempertahankan apa yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Sebuah kuasa untuk memerintah.
Kuasa yang lain yang diberikan Tuhan adalah kuasa menjadi pemenang. Entah berapa juta sperma yang sudah mencoba masuk ke sel telur. Entah sudah berapa kali suami istri bersetubuh. Ada yang bisa langsung istrinya hamil, tetapi ada yang sudah satu tahun menikah baru hamil (hanya saja ada juga yang belum menikah tetapi sudah hamil, ini mencuri start namanya). Biasa dibayangkan, sperma yang menjadi diri kita sudah mengalahkan milyaran bahkan trilyunan sperma lainnya. Bukankah itu persaingan terhebat yang pernah ada? Bayangkan saja, persaingan menjadi PNS rata-rata satu orang mengalahkan puluhan paling banyak ratusan atau ribuan pesaingnya. Persaingan masuk universitas negeri berbeda lagi. Ketika saya masuk ITB saya harus mengalahkan sekitar seratus orang. Persaingan untuk saya mempersunting dia menjadi istri saya justru lebih ringan. Saya hanya mengalahkan beberapa orang saja. Ketika masuk ke pekerjaan yang saat ini saya lakukan, persaingannya lebih ringan lagi. Bukankah tidak ada persaingan yang lebih hebat dibandingkan dengan persaingan ketika sperma bertemu dengan sel telur dan jadilah kita?
Jika persaingan yang dasyat saja bisa kita kalahkan, mengapa kita menyerah ketika kita harus bersaing dengan beberapa orang saja? Bisa saja kita mengatakan karena persaingan demikian berat sehingga kita tidak bisa melakukannya. Kita harus bersaing dengan orang-orang yang terlihat lebih hebat sehingga tidak memungkinkan lagi untuk memenangkan persaingan. Saat saya masih SMA, saya mencintai seorang wanita. Dia cantik, pintar dan kaya, idaman banyak lelaki, orangnya juga sangat menyenangkan. Tetapi justru kelebihannya itulah yang membuat saya berpikir-pikir untuk terus maju memperebutkannya. Terus terang, dia terlalu bagus buat saya. Sehingga suatu hari saya menelponnya, menyatakan bahwa saya sangat mencintainya, meminta maaf atas cinta saya yang saya anggap lancang dan mengucapkan selamat tinggal. Saya merasa bersalah karena mencintainya. Jelas saja saya bukan apa-apa dibandingkan dia. Wajah pas-pasan kantong kering dan kecerdasan biasa saja. Tetapi teman saya, yang merupakan teman dekatnya, menegur saya. Mengapa saya langsung mundur padahal cewek tersebut sedang mempertimbangkan diri saya? Ketika pendekatan saya mulai berhasil, saat cewek tersebut mulai memikirkan saya, seharusnya saat itulah saya mulai menjadi pemenang. Tetapi saya mundur karena takut menghadapi risiko yang lebih besar.
Saya menulis kisah ini bukan karena saya menyesal tidak mendapatkannya. Saya mengakui dan memang benar bahwa istri saya adalah yang terbaik untuk saya. Kisah tersebut sebagai sejarah dan bukti bahwa saya juga mempunyai sikap yang mundur dari pertarungan. Kuasa pemenang seharusnya menjadi milik saya. Walaupun saya menulis bagian ini dan meyakininya, saya pun mengalami masa dimana saya tidak menjadi pemenang. Bahkan sampai saat ini.
Kisah yang paling tepat adalah kisah hidup Ruben Gonzalez. Ruben adalah seorang atlet yang bermodal tekad. Ia memilih bermain luge karena permainan ini memiliki risiko yang besar dan perlu orang yang sangat ulet. Ia belum mulai bermain luge sampai ia berusia 21 tahun, usia yang sudah sangat terlambat untuk memulai menjadi olah ragawan. Bayangkan saja, teman-temannya sebagian besar memulai bermain luge justru ketika mereka berusia belasan bahkan dibawah 10 tahun. Empat tahun setelah memulai bermain luge, ia bertanding di Olimpiade musim dingin Calgary. Dia menjadi atlet Olimpiade selama tiga kali bahkan ketika dia berusia 39 tahun, usia yang sudah terlalu tua untuk ukuran olahragawan. Tetapi dia tidak menyerah walaupun harus bersaing dengan anak-anak muda. Sikap menjadi pemenang membuat Ruben pantang menyerah berjuang di dalam pertandingan luge. Walaupun tidak memenangkan pertandingan tetapi kita bisa melihat bahwa dirinya telah memenangkan pertandingan sesungguhnya, yaitu bertanding di dalam dirinya sendiri. Kuasa menjadi pemenang juga bisa kita lihat ketika kita berhadapan dengan ular. Seorang pawang ular sedemikian lihainya mengalahkan ular yang jinak maupun berbisa mematikan. Kita sering saksikan aksi mereka di televisi. Begitu beraninya mereka ketika bertemu ular. Tanpa ragu-ragu mereka menggerakkan tangan mereka dan tak lama kemudian mereka suah menundukan ular tersebut. Ketika saya berbicara dengan orang yang bisa menjinakkan ular, katanya kunci kesuksesannya Cuma satu. Tidak boleh ragu-ragu. Keragu-raguan merupakan bukti ketidakyakinan kita kalau kita akan menang menghadapi ular. Para pawang sudah tahu bahwa mereka memiliki kuasa sehingga bisa mengalahkan ular. Jika kita tidak yakin akan kuasa tersebut maka kita akan lari tunggang langgang.
Kuasa untuk menjadi pemenang tidak berbicara tentang siapa yang kita kalahkan dan berapa banyak yang kalah dari diri kita. Kuasa tersebut justru berbicara tentang seberapa kuat kita berusaha dan menjadi pemenang. Kita banyak mendengar dari pemenang-pemenang sesungguhnya. Saya pernah mendengar ketika seorang pelari maraton dengan terpincang-pincang terus melanjutkan pertandingan. ”Saya kesini untuk menyelesaikan pertandingan.” Walaupun dia masuk finish di urutan terbelakang tetapi tepuk tangan tetap meriah seakan-akan dia menjadi pemenang sesungguhnya. Saya juga melihat seorang penyapu jalanan yang terus berjuang untuk enam anak-anaknya. Saat itu saya sedang melakukan kegiatan sosial sehingga kami sempat berbincang-bincang. Dia berangkat saat matahari belum terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Walaupun penghasilannya diberikan setiap bulan dengan jumlah yang tetap, dia tetap melakukan tugasnya dengan sangat baik. Bahkan dia tidak merelakan waktunya untuk duduk-duduk di tepi jalan. Dia terus bekerja dan akan istirahat hanya di waktu istirahat. Dia pun menjadi pemenang.
Ketika saya melakukan perjalanan ke Batang, Jawa Tengah, saya bertemu seorang gadis yang memiliki satu kaki. Dia aktif sekali. Dia melompat-lompat dengan satu kakinya. Tidak ada rasa menyerah karena hanya memiliki satu kaki. ”Pak, dia ikut bermain voli lho, bersama teman-teman lainnya yang memiliki kedua kaki. Wah kalau dia lagi smash, yang lain justru pada ketakutan. Smashnya keras dan terarah.” teman saya menceritakan kegigihan gadis tersebut. Sungguh sangat berbeda dengan gadis lain yang saya kenal. Pekerjaannya hanya duduk di depan televisi, berjam-jam. Bahkan dia bisa hanya duduk diam alias melamun lebih dari satu jam. Ketika diminta melakukan sesuatu dia pun mulai menyanyikan lagu yang sama,”aku tidak bisa.” Walaupun secara fisik dia normal tetapi dia sudah melupakan bahwa dirinya memang diciptakan sebagai pemenang.
Kita pun diberi kemampuan untuk belajar apa saja. Bayangkan saja ketika kita kecil, kita tidak mengetahui banyak hal. Kita belum bisa berbicara, berjalan, apalagi membaca dan menulis. Kita tidak bisa melakukan banyak hal. Sedikit demi sedikit kita bisa mengatakan beberapa kata, lalu dengan lancar kita bisa berkata-kata. Kita pun mulai bisa membalikkan badan, lalu mulai merangkak, berjalan dan akhirnya berlari (sering kali anak kecil lebih mudah berlari dan jatuh daripada berjalan pelan-pelan). Tentu saja mereka sudah berkali-kali gagal. Bahkan untuk berjalan mereka tidak bisa langsung berjalan. Mereka mulai dengan menjejakkan kaki ke muka kita. Bukankah mereka memang memiliki kemampuan untuk belajar?
Apa saja yang menyebabkan mereka mudah dalam belajar? Yang pertama adalah bakat alami mereka. Setelah semua proses yang sama (berbicara dan berjalan) mulailah mereka menunjukan keunikan mereka. Ada yang dengan mudahnya mengenal huruf tetapi ada yang lebih mudah mengenal angka bahkan berhitung daripada huruf. Ada pula yang lebih suka mewarnai dibandingkan mengenal angka dan huruf. Mereka masing-masing memiliki bakat. Jika mereka belajar tentang sesuatu yang sesuai bakat mereka maka mereka akan cepat belajar. Kita tentu dengan senang hati melihatnya. Tetapi ketika mereka belajar sesuatu yang tidak sesuai dengan bakat alami mereka maka kita harus bersusah payah mengajari mereka. Bersyukurlah anak kita jika kita bersabar, tetapi jika kita tidak bersabar maka anak itu akan mengalami kesulitan dalam mempelajari sesuatu. Dan kita memberi cap bahwa anak itu bodoh. Mungkin Anda pernah menjadi seperti anak itu.
Yang kedua adalah ketertarikan. Saya masih ingat ketika saya sangat tertarik pada matematika. Ada satu soal yang saya kerjakan sampai tidak terasa sudah satu jam. Saya coba semua rumus yang saya tahu berhubungan dengan soal tersebut. Sampai-sampai saya kena marah orang tua karena saya melupakan makan malam. Itu terjadi karena ketertarikan. Karena itu ketika SMA saya dianggap jago matematika. Saya begitu tertarik pada mata pelajaran ini. Saat ini saya sangat tertarik pada dunia pengembangan diri dan bisnis. Saya pun membeli banyak buku secara rutin dengan topik-topik diatas. Orang lain tidak perlu memaksa saya untuk membaca, dengan sendirinya saya akan membaca. Bahkan ketika membuat tulisan ini saya sudah membaca dua buku dalam waktu semalam. Dengan mudahnya saya mempelajari pengembangan diri dan bisnis karena saya tertarik pada bidang tersebut.
Yang ketiga adalah kesempatan yang ada. Apakah kita diberi kesempatan untuk belajar tentang sesuatu atau kita dipaksa melakukan hal yang berbeda sehingga kita tidak memiliki kesempatan untuk belajar hal yang kita suka. Saya yakin ibu saya senang-senang saja ketika melihat saya mengotak-atik angka ketika saya mengerjakan matematika. Sering kali dunia pendidikan kita justru tidak memberi kesempatan orang untuk belajar. Thomas Edison, Wright bersaudara, dan Henry Ford adalah orang-orang yang bermasalah dengan pendidikan. Untunglah mereka bisa mencari kesempatan sendiri sehingga mereka tetap bisa belajar dengan cara mereka sendiri.
Yang keempat adalah bagaimana otak memproses informasi. Setiap orang bisa melihat barang yang sama tetapi memiliki sudut pandang dan kesimpulan yang berbeda. Hal ini karena proses informasi yang terjadi di otak. Cara kita menanggapi sesuatu bisa jadi berbeda-beda walaupun dibesarkan di lingkungan yang sama dan mendapatkan pendidikan yang sama. Sering kali kita berasumsi bahwa semua orang harus meliki sudut pandang dna kesimpulan yang sama ketika melihat benda yang sama. Ketidakpahaman cara belajar inilah yang menyebabkan konflik karena tidak mampu menerima perbedaan pandangan.
Diakui atau tidak, kita memang diberikan kuasa. Tiga kuasa yang sudah ada di dalam diri kita sejak kita lahir. Kuasa tersebut adalah kuasa memerintah, kuasa menjadi pemenang dan kuasa untuk belajar. Jika Walt Disney mengatakan, ”jika sesuatu bisa dibayangkan maka bisa diwujudkan” maka saya berkata,”Jika manusia sudah ada di dunia dan masih hidup maka semua hal yang ada bisa dipelajari, membuat kita bisa memerintah dan bisa menjadi pemenang.”
Comments
One Comment on Pengembangan diri: Anda Diciptakan Dengan Kuasa
-
Ticky on
Tue, 25th May 2010 7:20 pm
Betul…kita hidup di lingkungan yang masih mengutamakan hasil daripada proses…, cerita ttg seorg yg cedera tp tetap melanjutkan marathonnya…bisa jadi hanya akan menjadi bahan cemoohan disini….semua tertawa dan berkata “ngopo niat2 men…wong yo ora enthuk opo2…mending ngaso wae” . Saya pun sering dianggap org lain, yg tlalu bnyk bpikir, tll idealis..tapi justru keiklasan, kebahagiaan sy mjalankan sesuatu terletak pada apakah itu sesuai dg hati nurani saya atau tidak…
Stlh sy mbaca artikel ini, kembali mbangkitkan semangat sy utk kembali tidak mudah tpengaruh dg kebenaran publik. Krn kbtln sy pribadi t’inspirasi dg pjalanan hidup papa saya.., memulai spesialis mnrt org tlambat…tp msh dpt dispensasi…sekarang walopun usianya sdh kepala 7 plus, masih segar, sehat, dipercaya bnyk org…yg disisi lain sdh bnyk teman2 beliau yg sdh dahulu tutup usia, ataupun sakit2an…Saya percaya tidak ada yg terlambat utk sesuatu…kadang kita buru2 jg hasilnya tdk memuaskan. Saya jg sgt percaya dg pernyataan “Right Man, Right Place and Right Time…” There’s always time for everyone…

