Pengembangan Diri: Anda Diciptakan Untuk Menghasilkan Keturunan

May 19, 2010 by S. Libe Suryapusoro · 1 Comment
Filed under: pengembangan diri 

Di budaya Jawa ada istilah banyak anak banyak rejeki. Banyak orang yang tidak setuju dengan istilah ini tetapi menurut saya istilah ini benar. Hanya saja cara pandang saya berbeda dengan yang lainnya. Mereka yang memegang prinsip banyak anak tersebut menganggap bahwa ketika memiliki anak maka akan datang rejeki yang lebih besar. Kalau budaya ketika prinsip tersebut ada yaitu budaya desa dan memerlukan banyak tenaga kerja maka prinsip tersebut benar. Semakin banyak anak mereka memiliki banyak orang untuk mengelola tanah mereka yang luas. Mereka memiliki tenaga kerja yang banyak. Para wanita bekerja di dapur menyiapkan makanan sedangkan para laki-laki di ladang, mengolah tanah. Akhirnya hasil yang didapatkan pun semakin banyak. Boleh-boleh saja berpendapat seperti itu tetapi bukankah anak itu sendiri merupakan rejeki dari Tuhan? Bukankah banyak orang yang meminta anak? Jadi boleh dong mereka yang memiliki banyak anak berbahagia karena mereka dipercaya mengasuh banyak anak. Read more

Pengembangan diri: Anda Diciptakan Dengan Kuasa

May 19, 2010 by S. Libe Suryapusoro · 1 Comment
Filed under: pengembangan diri 

Aku punya kuasa “Maaf, saya hanyalah orang yang diciptakan sebagai orang kecil. Saya tidak memiliki kuasa untuk melakukan apapun. Lihatlah posisi saya, saya orang terendah yang hanya menerima perintah dan tidak bisa memberikan perintah. Lihat kehidupan saya, saya tidak pernah memiliki kuasa.” Mungkin ada memiliki pemikiran sama dengan apa yang saya tuliskan diatas. Tetapi marilah kita lihat lebih jauh ke masa lalu kita.

Ketika kita masih dalam kandungan, kita bisa memerintah orang dewasa dengan istilah nyidam. Kita sering mendengar kalau bayi dalam kandungan memiliki keinginan makan sesuatu maka ibunya akan nyidam sesuatu. ”keinginan bayi” begitulah istilahnya. Ada seorang ayah yang dengan susah payah mencari mangga muda curian (harus muda dan curian tidak boleh membeli di pasar atau meminta ke yang punya pohon). Karena dia tinggal di Jakarta, pastilah sulit buatnya mencari pohon mangga apalagi mencurinya. Terpaksalah seorang ayah harus keluar kota, menuju sebuah desa dan diam-diam mencari pohon mangga yang berbuah. Read more