Utarakan Keinginan Anda
Ada seorang remaja yang sangat mencintai seorang pemudi. Pastilah cintanya demikian besar sehingga dia rela mengorbankan apapun untuk sang pemudi. Walaupun mereka masih SMP tetapi cinta sang pemuda itu tidak bisa dianggap remeh. Kelulusan pun terjadi. Mereka harus berpisah. Sang pemudi anak orang kaya, dia melanjutkan SMU di kota besar sementara sang pemuda tetap hidup di kota kecil tersebut. Sering sekali sang pemuda menangis di kamarnya menahan kerinduan. Sering juga dia harus menabung supaya bisa menelpon sang pemudi dan melepaskan kerinduan. Terkadang kebahagiaan timbul ketika sang pemuda mendengar cerita yang menyenangkan terkadang kesedihan datang ketika kabar buruk diterimanya. Sang pemudi sering mengalami sakit, beberapa kali dia harus tidak sadarkan diri karena penyakitnya itu.
Setelah dua tahun, sang pemuda memutuskan untuk mengurungkan minatnya. Dia pun menelpon sang pemudi, mengungkapkan betapa besar cintanya kepadanya. Dia memberikan bukti-bukti yang memang nyata. Sang pemudi cuma diam. Mendengarkan semua kata-kata pemuda dengan baik tetapi tidak berkomentar sama sekali. Dengan sopan sang pemuda mengakhiri teponnya dengan mengatakan,”Aku memang sangat mencitaimu, aku ingin menjadi pacarmu. Tetapi semua itu tidaklah memungkinkan. Mungkin ini telpon terakhir dariku dan maafkan aku karena telah mencintaimu.” Telpon pun berakhir, hubungan pun tidak berlanjut. Selamat tinggal cinta.
Beberapa bulan kemudian teman dekat pemudi tersebut menghubungi sang pemuda. Dia mengatakan bahwa strategi yang dilakukan pemuda itu salah. Seharusnya sang pemuda memberikan kesempatan buat pemudi tersebut mengungkapkan perasaannya. Karena pada saat yang sama sebenarnya sang pemudi ingin mejalin hubungan lebih lanjut. Tetapi semua memang berakhir karena ketika mengungkapan keinginan, sang pemuda pada saat yang sama mengatakan itu semua tidak mungkin.
Berapa kali kita melakukan halyang sama? Kita menginginkan sesuatu tetapi tidak ada keberanian di dalam diri kita untuk berharap. Kita mengungkapkan kita menginginkannya tetapi pada saat yang sama kita mengatakan kalau kita tidak menginginkannya lagi. ”saya menginginkan posisi tersebut tetapi jika tidak, ya tidak apa-apa.” Kita tidak berani berjuang untuk sesuatu yang kita inginkan.
Beberapa tahun yang lalu saya mendengar seorang teman membagikan cerita yang dibacanya. Ada seorang ibu yang sudah tua, miskin hidupnya dengan makan pas-pasan. Tetapi ibu tersebut memiliki anak yang kaya dan ada di luar negeri. Sang anak mengirimkan tiket kapal ke ibu supaya ibu tersebut bisa mengunjuni anaknya. Sang ibu pun naik ke kapal. Dia membawa bekal dan karena miskin sedikit bekal yang dia bawa. Kapal itu begitu indah dan banyak orang kaya yang ada di dalamnya.
Dia melihat setiap penumpang bisa makan dengan kenyang di dalam kapal tersebut. Mereka demikian menikmati kehidupan, tetapi si ibu sangat miskin dan hanya memakan bekalnya. Dia merasa tidak bisa membayar apa yang akan dia makan. Dia bahkan bersembunyi karena malu dengan penumpang lainnya. Ketika sampai di daratan, ibu tersebut demikian kurus. Anaknya yang menjemput bertanya, apakah dia tidak makan selama dalam kapal? Si ibu menjawab, dia tidak memiliki uang untuk membeli makanan di kapal tersebut. Dengan sedih si anak memberi tahu ibu bahwa makanan di dalam kapal sudah termasuk di dalam harga tiket sehingga dirinya tidak perlu membayar lagi.
Karena ketidak beranian mengungkapkan keinginannya si ibu tidak mendapatkan apa yang seharusnya didapatkannya. Apakah kita mengalami hal yang sama di dalam hidup kita?

