Memberi Perintah
“Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskan keledai itu dan bawalah ke mari. Dan jika ada orang mengatakan kepadamu: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya ke sini.” Mar 11:2-3
Cara memberi perintah menjadi sangat penting buat seorang pemimpin. Terkadang kegagalan anak buah disebabkan karena ketidakmampuan pemimpin dalam memberi perintah. Ketika saya memimpin sebuah majalah, saya sampaikan ke orang yang sudah saya percayai untuk mencetak materi yang sudah saya buat semalaman. Perintahnya menurut saya sudah jelas, sekarang saatnya mencetak. Lakukanlah seperti yang sudah menjadi standar kita. Sementara mereka melakukan tugasnya saya pun melakukan tugas lainnya.
Sore hari saya datang untuk mengecek pekerjaan. Ternyata, mereka belum melakukan tugas mereka dan kami tidak bisa terbit tepat waktu. Saya marah di dalam hati, setelah semalaman saya menyelesaikan editing dan membantu layout, hasilnya tetap sama. Kami terlambat terbit. Saya pun diam di sebuah tempat. Saya sangat marah dan kecewa dengan tim saya.
Setelah merenung beberapa lama, saya menyadari bahwa kesalahan ada di pihak saya. Saya hanya menyampaikan apa yang saya inginkan. Itu bukan perintah yang cocok untuk tim saya. Saat itu mereka masih baru, mereka belum tahu banyak tentang apa yang harus mereka lakukan. Jadi wajar saja kalau mereka tidak bisa melakukan apa yang saya minta.
Memberi perintah adalah hal yang biasa dan setiap orang pasti pernah melakukannya. Ketika kita masih bayi, kita sering memberi perintah ke orang tua kita dengan tangisan. Jika ada sesuatu yang kita inginkan maka kita tinggal menangis lalu orang tua kita yang akan mencari tahu apa sebenarnya keinginan kita. Apakah kita lapar? Atau baru saja ngompol? Atau ingin digendong. Perintah kita tidak jelas karena kita hanya menangis dan orang tua kita yang kerepotan.
Sayangnya banyak pemimpin yang berlaku seperti bayi. Dia memerintah orang lain dengan hanya marah atau ancaman pecat tetapi dianya sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya harus dilakukan. Tekanan begitu tinggi, keadaan memaksa dia melakukan sesuatu maka mulailah dia memberi perintah- yang tidak jelas- tetapi dengan penuh amarah. ”Saya tidak mau dipermalukan.” Yang dimaksud dipermalukan itu yang seperti apa? Dan bagaimana caranya menyelesaikan masalah sehingga dia tidak dipermalukan? Anak buahnya pun yang akan kelimpungan karena memang tidak tahu benar apa yang diperintahkan atasan. Karena atasannya saja tidak tahu apa yang dia inginkan. Sama seperti bayi, memerintah dengan sesuatu yang tidak dapat dimengerti. “Saya lapar.” Hanya itu yang disampaikan tanpa ada penjelasan yang lain.
Tetapi ada pemimpin yang sedikit lebih baik. Dia memerintahkan seseorang untuk memenuhi keinginannya. Sebenarnya sama seperti anak-anak. Dia hanya memberitahukan keinginannya.”Saya ingin makan.” Lebih baik tetapi tetap saja tidak jelas. Ketika dikasih nasi, dia pun menolak. Karena ketidak jelasan membuat anak buah stress. Apalagi jika sang pemimpin tidak mau tahu. “Pokoknya saya ingin makan. Pokoknya saya ingin terlihat bagus. Pokoknya saya harus mendapatkan ini dan itu.”
Pemimpin hanya memberitahukan yang dai inginkan. Inilah yang terjadi pada diri saya saat itu. Saya tidak menanyakan keadaan mereka, mungkinkah mereka mengalami kesulitan. Saya hanya peduli pada apa yang saya inginkan. Yang saya pedulikan hanyalah pekerjaan selesai, saya tidak peduli bagaimana cara mereka menyelesaikan dan perjuangan yang mereka lakukan. Saya tidak peduli pada mereka, saya hanya peduli apa yang saya inginkan.
Perintah lainnya sudah ditunjukan Yesus di Markus 11: 2-3. Yesus memberitahukan secara detail apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dia memberikan arahan yang jelas, yang bisa diikuti oleh pengikut sebodoh apapun. Dia tahu apa yang akan mereka alami ketika mereka melakukan perintahNya. Yesus memberitahukan kriteria keledai dan bagaimana cara melakukan perintahNya.
Perintah yang manakah yang terbaik? Tergantung dengan keadaan dan hubungan ktia dengan orang yang akan kita beri perintah. Ketika masuk rumah, saya hanya menanyakan ke istri saya,”Apakah punya es batu?” Tidak lama kemudian istri saya menyajikan es teh. Karena hubungan kami yang sangat dekat dan saat itu kami habis jalan-jalan di tempat panas, istri saya bisa melakukan apa yang saya inginkan. Coba seandainya saya menyampaikan ke tetangga saya, pastilah saya hanya diberi es batu.
Ketika training dengan partner yang sudah sangat saya kenal, kami pun tidak perlu membagi tugas. Siapa yang harus membagi bahan atau materi, menyiapkan ini dan itu, harus mengingatkan waktu untuk pembicara. Kami langsung tahu apa yang harus kami lakukan supaya semua berjalan dengan baik. Tetapi ketika bertemu dengan orang baru, maka saya harus menyampaikan secara detail apa yang harus dia lakukan. Atau ketika saya meminta seseorang melakukan pekerjaan yang belum pernah dia lakukan, saya akan memberikan detail supaya dia bisa menyelesaikan pekerjaannya.
Saya tidak boleh menganggap mereka mengetahui apa yang saya pikirkan tanpa saya memastikan mereka mengetahuinya. Jika memang akhirnya mereka gagal melakukan apa yang saya minta, saya harus terlebih dahulu mengingat, apakah saya sudah memberikan perintah dengan benar?

