Melayani atau ditinggalkan
Mereka berkata: “Jika hari ini engkau mau menjadi hamba rakyat, mau mengabdi kepada mereka dan menjawab mereka dengan kata-kata yang baik, maka mereka menjadi hamba-hambamu sepanjang waktu.” I Raja-raja 12: 7
Kisah seorang pemimpin yang berlaku tidak memikirkan anak buahnya telah terjadi di masa lalu. Yang dipikirkan oleh pemimpin adalah hasil yang luar biasa. Salomo telah membuat tanggungan yang sangat besar bagi rakyatnya. Dia mempunyai target pemasukan, ada hasil yang luar biasa yang ingin dia raih dan akibatnya, orang-orang di bawahnya yang di tekannya. Uniknya, dia sendiri masih hidup dalam keadaan yang berkelimpahan, baik berkelimpahan harta maupun istri.
Penggantinya, Rehabeam, mendapatkan keluhan atas apa yang selama ini menimpa rakyatnya. Pembangunan Bait Allah sudah selesai, target Salomo sudah dicapai. Seharusnya, sekarang saatnya rakyat merasakan kedamaian, suara mereka didengar oleh pemimpin mereka dan dilayani. Rakyat berkata, “Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, maka sekarang ringankanlah pekerjaan yang sukar yang dibebankan ayahmu dan tanggungan yang berat yang dipikulkannya kepada kami, supaya kami menjadi hambamu.”
Sering sekali kita sebagai pemimpin memberikan target yang berat ke anak buah kita. Penjualan setiap bulan harus sejumlah tertentu. Target waktu yang dekat harus menyelesaikan banyak pekerjaan. Gaji yang rendah karena sedang mengejar keuntungan yang lebih besar. Ada pengorbanan tertentu yang harus diberikan oleh anak buah. Satu bulan, dua bulan itu semua terjadi. Satu tahun atau dua tahun pengorbanan sudah diberikan tetapi tidak ada perubahan tuntutan. Akhirnya mereka menuntut perubahan.
Sebenarnya para penasihat tua yang bijaksana memberikan nasihat yang sangat baik. Mereka menyarankan Rehabeam melakukan seperti yang rakyatnya minta. Bukankah pembangunan bait Allah sudah selesai? Untuk apa mereka harus bekerja keras? Kalau dulu rakyat memiliki keinginan yang sama dengan Salomo sehingga mereka mau bekerja keras. Kalau sekarang? Untuk apa mereka kerja keras? Untuk memenuhi kebutuhan sang raja baru?
Tetapi Rehabeam melakukan menurut penasihat muda yang congkak. Mereka tidak berbicara tentang kebaikan, mereka berbicara tentang harga diri. Demi harga diri, sang raja harus menolak keinginan rakyatnya. Mau ditaruh dimana muka raja kalau dia harus melakukan apa yang diminta rakyatnya? Siapa sih rakyat sehingga bisa memerintah raja? Memangnya lebih berkuasa siapa antara Rehabeam dibandingkan dengan Daud?
Hal yang seperti ini sering terjadi di masa sekarang. Sebuah keputusan didasarkan bukan pada keinginan melayani melainkan pada harga diri. Kita mengatakan ke diri kita sendiri, ”Mau ditaruh dimana mukaku jika aku menerima keputusan itu? Gengsi dong.” ”Masa sih aku harus mendengarkan perkataan mereka, mereka kan bukan siapa-siapa.” ”Ngga level kalau saya mengerjakan pekerjaan itu.”
Selanjutnya diceritakan dalam I Raja-raja 12 tentang kehidupan rakyat Israel. Mereka meninggalkan kota dan tinggal di kemah-kemah. Mereka kembali ke kehidupan yang lama. Mereka tidak perduli lagi apa yang terjadi pada bangsa yang di pimpin oleh rajanya. Mereka mengangkat pemimpin lain yang dianggap mau melayani mereka. Pemimpin yang baru melakukan apa saja untuk mempertahankan posisinya. Pemimpin ini menyebabkan bangsa Israel pergi ke Betel menyembah patung anak lembu jantan dari emas lalu pergi ke Dan untuk menyembah patung lainnya. Raja kehilangan rakyat yang dipimpinnya dan Tuhan kehilangan umat kesayanganNya.
Dalam konteks sekarang, seorang pemimpin dan setiap pribadi diri kita sebagai umat pilihan Allah memiliki risiko hidup seperti Raja Rehabeam. Kita harus berhati-hati ketika memimpin seseorang. Karena ketika kepemimpinan kita bukan kepemimpinan yang melayani, kita menjadi hamba orang yang kita pimpin, mengabdi kepada mereka dan menjawab mereka dengan kata-kata yang baik maka kita telah membuat orang yang kita pimpin meninggalkan kita. Tapi lebih parahnya mereka meninggalkan Allah.
Bukankah kita sudah sering mendengar orang yang meninggalkan Tuhan karena seorang pemimpin? Kalau belum pernah, cobalah bertanya ke orang yang tidak pernah ibadah. Apa yang menjadi alasan mereka? Ketika saya mengunjungi seseorang di Surabaya, saya pun mendapatkan alasannya karena seorang pemimpin. Dia merasa pemimpin itu tidak adil.
Anak buah meninggalkan kita, merupakan risiko terkecil ketika kita tidak melayani mereka. Tetapi karena konflik yang ada, persekutuan mereka dengan Allah maupun diri kita (sebagai pemimpin) menjadi terganggu. Pelayanan yang dilakukan dengan sepenuh hati berubah menjadi dengan terpaksa. Mereka sangat kecewa karena pemimpin tidak melayani. Siapakah yang paling diuntungkan atas semua itu? Tentu bukan Allah.
Ketika saya merenungkan dan memulai menulis bagian ini, saya sangat tertegur. Saya menyadari, apapun yang saya lakukan akan mengakibatkan orang semakin beribadah kepada Allah atau sebaliknya. Jika saya benar-benar melayani mereka, saya yakin mereka akan semakin menyembah Allah. Jika saya memerintah dan memaksa mereka maka mereka akan meninggalkan saya. Masih untung jika mereka tidak meninggalkan Allah. Sediakah saya melayani orang di sekitar saya supaya mereka semakin beribadah kepada Allah? Bagaimana dengan Anda?

