Menghadapi Konflik
Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. Kis 15:37 -39
Paulus dan Barnabas adalah tim yang solid. Pada awal kepemimpinan Paulus, Barnabas sangat membantunya. Ketika setiap orang menolak dirinya, Barnabas membela Paulus di depan banyak orang. Barnabas mempertaruhkan dirinya demi Paulus. Kerja sama mereka juga sudah teruji. Mereka pergi ke beberapa tempat, melakukan aktifitas bersama. Tapi pada suatu waktu mereka mengalami konflik.
Barnabas ingin mengajak Markus bergabung. Tujuan Barnabas sangat baik, memberikan kesempatan buat Markus untuk berkembang. Tetapi Paulus tidak setuju. Sebenarnya Paulus dan Barnabas memiliki kenangan pahit dengan Markus. Ketika mereka sedang bekerja sama dan masa sulit datang ke mereka, Markus justru meninggalkan mereka. Markus pergi tanpa tanggungjawab. Jelas Markus bukanlah orang yang bisa dipercaya dan bukan orang yang setia kawan. Alasan Paulus untuk menolak Markus bergabung sangat masuk di akal. Barnabas pun memberi alasan bahwa Markus perlu kesempatan sekali lagi. Kesalahannya adalah proses belajar. Alasan Barnabas pun masuk akal.
Sering kali kita dihadapkan dengan permasalahan serupa. Kita konflik dengan seseorang. Awalnya hanyalah perbedaan pendapat tetapi perbedaan itu berkembang menjadi konflik. Kita merasa benar dan alasan-alasan kita juga sangat kuat dan masuk akal. Begitu juga partner kita. Dia juga benar dan masuk akal. Apa yang harus kita perhatikan ketika konflik terjadi di dalam hidup kita?
Yang pertama, kita harus tetap menjalin hubungan dengan mitra kita. Jangan sampai konflik justru merusak hubungan kita dengan orang tersebut. Dalam rapat, sering sekali kita berbeda pendapat dengan orang lainnya. Demikian juga saya dengan sahabat dekat saya. Ketika kami berbeda pendapat, sudah jelas, rapat akan jadi lama. Kami sama-sama mempertahankan pendapat kami. Bahkan nada kami mulai meninggi. Tetapi begitu rapat selesai, kami pun pergi makan siang bersama. Tidak ada masalah diantara kami setelah pembahasan selesai. Tetapi begitu pembahasan mulai lagi, maka kami mulai bersi tegang.
Yang kedua, berpisah tidaklah selalu hal yang buruk. Misalnya saya memutuskan ke Jakarta dan partner saya memutuskan ke Semarang. Tidak perlu saling bunuh, keputusannya jelas. Saya menuju tempat yang saya inginkan dan partner saya ke tempat yang dia inginkan. Tetapi kami terus menjadi partner. Bukankah kita justru akan mendapatkan keuntungan? Strategi ini juga yang sering dipakai oleh perusahaan-perusahaan. Indofood, mengeluarkan produk indomie, sarimi dan supermi. Semuanya produk mie, tetapi sesuatu yang berbeda. Bukankah mereka justru diuntungkan dan bukan dirugikan? Saat ini pun perusahaan-perusahaan justru saling menjadi partner (bukan bersaing) walaupun mereka memiliki tujuan yang berbeda. Tidak masalah jika terjadi konflik lalu kita berpisah. Asalkan kita tetap menjalin hubungan.
Yang ketiga, apakah memang layak sesuatu itu membuat kita konflik? Misalnya, ketika istri saya membeli barang dengan harga yang lebih mahal sepuluh ribu. Lalu kami konflik hanya karena uang itu. Jelas, uang sepuluh ribu sangat tidak layak membuat hati saya atau istri saya menjadi tidak enak. Apalagi uang yang hanya sebesar itu membuat hubungan kami menjadi berantakan. Sering kali kita mengalami konflik untuk hal yang tidak prinsip. Seperti jalan menggunakan kaki kanan atau kiri duluan. Apakah meja diletakkan di kanan atau kiri. Atau bunga yang ada hanya warna merah dan putih. Untuk orang-orang tertentu pastilah sulit untuk mengabaikan hal-hal kecil dan tidak prinsip.
Yang keempat, tetap pada misi. Jangan sampai konflik membuat kita hilang dari misi kita. Beberapa orang akan mencari masalah yang menjadi alasan untuk konflik. Terkadang saya terjebak. Saya menjadi pusing, tersita perhatian saya dan akhirnya saya tidak punya energi lagi untuk menjalankan misi saya. Ini salah satu strategi dalam pertandingan. MU dengan dedengkotnya Sir Alex Ferguson sengaja membuat konflik supaya lawannya kehilangan konsentrasi dan akhirnya tidak bisa menjalankan misi lawan Sir Alex yaitu menang.
Yang kelima, pahami bukan hanya satu jalan menuju Roma. Sering kali kita merasa hanya jalan kita yang benar. Dari Bandung menuju Jakarta banyak jalan. Jika Anda ingin cepat, lewatlah tol Cipularang. Jika Anda ingin menikmati pemandangan, Anda bisa lewat puncak. Jika Anda ingin santai, Anda bisa lewat Purwakarta. Apakah ada yang salah? Tentu tidak. Hanya saja tergantung maunya Anda. Demikian pula ketika kita berbeda pendapat. Bisa jadi tujuan kita sama hanya saja kesukaan kita berbeda-beda. Nikmati saja perbedaan yang ada.
Konflik akan kita hadapi. Kalau cara pandang kita benar, maka kita akan membuat konflik menjadi tangga supaya kita bisa naik ke atasnya, bukan menjatuhkan kita ke jurang kehidupan. Selamat menghadapi konflik.
Comments
One Comment on Menghadapi Konflik
-
betesda marsaulina on
Fri, 19th Mar 2010 3:59 pm
saya sangat tertarik membaca artikel ” menghadapi konflik “, memang kita sering menghadapi konflik yang bermula dari perbedaan pendapat seperti kata pepatah ” rambut sama hitam, tapi hati siapa yang tahu”. Perbedaan menyadarkan kita bahwa kita tidak sama, kita unik. justru dengan adanya perbedaan memperkaya kita. kita lebih mengenal orang lain. Saya yakin setiap masalah adalah proses pendewasaan…
mari kita bicarakan dari hati ke hati setiap masalah yang ada. Dengan kesadaran bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan dan memiliki kekurangan.
seperti baru-baru ini saya mengalami konflik dengan teman satu kerja dan pelayanan. Hanya karena kesalahpahaman, dan kurangnya keterbukaan serta kejujuran. sampai sahabat saya itu menjelekkan saya pada beberapa orang, terasa sakit memang.tapi sebagai orng yang sudah dipulihkan, saya tidak mau terus terpuruk dalam situasi itu. saya menghubungi dia lewat telepon dan sms, walaupun dia menolak mentah sms saya. saya datang berlutut pada Tuhan dan meminta ampun atas semua kesalahanku. Aku hancur hati…
tapi setelah itu…aku menerima kekuatan..
aku bangkit…aku mengampuninya…
dan belajar menerima dia dengan keberadaannya.
aku sadar tak ada manusia yang sempurna, hanya Tuhan Yesus ” pribadi yang sempurna “.
setiap konflik adalah proses pendewasaan dan pembentukan hati…
perbedaan boleh ada…masalah juga boleh ada…
yang terpenting keterbukaan dan keberanian kita untuk berkata jujur…

