Kasih yang Membawa ke Padang Gurun
lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Mat 3:17;4:1
Siapa bilang kasih selalu berarti memberi dan memanjakan? Ketika kita mengasihi orang yang kita pimpin, kita pun tidak berarti selalu memanjakan mereka. Demikian pula ketika ada orang yang keras kepada kita tidak berarti mereka tidak mengasihi kita. Di dalam pikiran kita memang kasih selalu berarti memberikan apa yang ktia inginkan. Tetapi arti kasih lebih luas dari itu. Kasih berarti membuat kita seperti yang Tuhan telah tentukan, enak atau tidak enak.
“Engkaulah AnakKu yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan.” Begitulah suara dari sorga ketika Yesus sedang dibaptis. Wow..harusnya setelah ini Yesus akan mendapatkan hadiah yang luar biasa besar dan megah. Dia menjadi Anak yang dikasihi. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Setelah kisah di baptis, Yesus masuk ke padang gurun untuk dicobai. Yesus harus berpuasa 40 hari. Dia harus kelaparan.
Cukup aneh. Seharusnya Roh itu memimpin Yesus menuju ke tempat pesta atau istana atau tempat yang enak lainnya. Akhirnya saya sampai kepada kesimpulan, setiap orang akan menghadapi suatu tempat yang dinamakan padang gurun. Yesus mengalaminya di usia 30 tahun, Musa mengalaminya di usia 40 tahun. Petrus mengalaminya justru setelah ditinggalkan Yesus yang mati dan dikuburkan. Saya sendiri masih belum tahu, apakah saya sudah mengalaminya atau belum. Tetapi semua itu terjadi pada diri mereka yang akan melakukan perkara besar.
Kita tahu secara jelas apa yang terjadi pada mereka yang sudah mengalami padang gurun. Yusuf akhirnya menjadi orang kepercayaan Firaun, Musa memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, Yesus menyelamatkan manusia berdosa termasuk saya di dalamnya, Petrus mengabarkan Injil sampai harus merelakan nyawanya.
Bisa jadi kita menuju padang gurun karena kesalahan kita. Contohnya pada diri Musa. Musa harus lari ke padang gurun selama 40 tahun karena kesalahannya. Musa membunuh orang Mesir. Dia tergesa-gesa tidak berhikmat dalam memenuhi panggilan Allah. Hal yang sama terjadi pada Paulus. Awal pertobatannya, dia tidak bisa berkumpul dengan murid-murid Tuhan lainnya. Mereka semua ketakutan begitu mendengar nama Paulus disebut. Ketakutan itu timbul karena masa lalu Paulus sebagai orang yang menganiaya orang Krsiten. Tetapi baik karena kesalahan ataupun tidak, TUHAN tetap bekerja dalam menggenapi tujuanNya.
Padang gurun dapat berupa kita mejadi bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Musa menjadi orang yang tidak layak untuk dihormati. Dia menikah dan tinggal di rumah mertua. Dia menjadi penggembala ternak milik mertuanya. Apalagi yang patut dibanggakan di dalam dirinya? Saya juga pernah mengalaminya. Sesudah turun dari posisi aktifis pelayan, saya praktis tidak melakukan apa-apa. Tidak ada orang yang dipimpin, tidak ada orang yang dilayani. Seakan-akan hidup saya tidak berguna. Di saat seperti inilah Tuhan ingin membuat hambaNya mengingat bahwa DIAlah sumber kekuatan dan kita bukanlah apa-apa.
Saat di padang gurun adalah saat yang tepat untuk membentuk karakter kita. Kita tidak dapat bersembunyi dari orang lain. Kita tidak merasa perlu mengenakan topeng. Jika dalam keadaan ini kita masih mampu memberi berarti ketika kita mempunyai kita masih mampu memberi. Saat inilah kita juga belajar akan banyak hal. Ketika kita melakukan kesalahan dengan mudah kita mengakuinya dan memperbaiki kesalahan kita. Kita tidak perlu malu karena kita memang tidak sedang mempertahankan ego kita. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain karena tidak ada lagi orang yang bisa kita salahkan.
Di saat di padang gurun kita akan merasa seakan-akan Allah jauh dan tidak terjangkau. Keadaan inilah yang paling sulit buat mereka di padang gurun. Biasanya mereka berteriak minta tolong tetapi seakan-akan Allah tidak mendengar. Seakan-akan kita sudah hilang dari bilangan dombanya. Seakan-akan Allah tidak mau menolong kita dan sudah tidak sudi dengan diri kita. Selama 40 tahun tidak ada perubahan dengan status Musa di padang gurun. Setelah mempertahankan integritasnya Yusuf justru masuk penjara. Dimanakah Allah yang maha adil itu? Kita mempelajari bahwa kehadiran Allah tidak selalu dalam bentuk menjawab doa kita seperti yang kita inginkan. Jika sudah tiba waktunya, DIA akan menjumpai kita membawa hadiah. Dia tidak pernah melupakan tujuanNya menciptakan kita.
Masa di padang gurun adalah masa kita bisa meletakkan dasar yang kokoh sebelum melakukan sesuatu. Sering kali saya bertanya mengapa Yesus memulai pelayanannya ketika usia 30 tahun? Mengapa tidak mulai lebih awal? Bukankah dampaknya akan leih besar daripada sekarang? Suatu sore sayamendapatkan jawabannya. Yesus memberikan kesempatan buat dirinya untuk berakar. Banyak orang yang menjadi tenar tetapi tidak lama kemudian hilang dari peredaran. Kita melihat contoh yang jelas di dunia artis. Para vokalsi band-band terkenal dilanda isu tentang hubungan mereka dengan pasangan hidup mereka. Mengapa demikian? Karena mereka belum cukup untuk berakar. Sebuah pohon jika akarnya tidak kuat maka akan mudah roboh.
Kita pun sebagai pemimpin akan merasakan masa-masa seperti di padang gurun. Bukan karena Tuhan tidak mengasihi kita tetapi justru karena kasihNya kepada kita. Tujuan utama Tuhan bukan selesainya proyek yang menjadi tanggung jawba kita melainkan hubungan ktia dengan diriNya. Kita pun perlu membawa orang-orang yang kita pimpin menuju masa padang gurun, menyiapkan mereka akan pelayanan yang lebih besar. Kita perlu mendampingi mereka seperti Roh yang mendampingi Yesus. Kita atau orang yang kita pimpin akan mengalami masa dimana mereka tidak menuju ke hal yang mereka inginkan. Itulah masa padang gurun. Dan laluilah dengan kesetiaan kepadaNya.
Comments
One Comment on Kasih yang Membawa ke Padang Gurun
-
betesda marsaulina on
Fri, 19th Mar 2010 4:35 pm
kalau kita berjumpa dengan kata ” Padang Gurun “, kita langsung membayangkan suatu daerah dengan suasana yang tidak enak : kering, panas, tandus,angin bertiup menghembuskan debu dan pasir.
Dalam alkitab dalam perjalanan bangsa Israel menuju tanah kanaan, Tuhan membawa bangsa itu melewati padang gurun. Ternyata bangsa Isarel bersungut-sungut, bandel ( tegar tengkuk ), sudah dibilangin. Musa kewalahan dan sampai marah kepada bangsa itu. mengapa Tuhan membawa bangsa itu melewati padang gurun??
Tuhan hendak mengajar dan mendidik bangsa itu…..Mengapa?? karena bangsa Israel adalah pilihan Tuhan dan Tuhan hendak menyadarkan Bangsa Israel : Bahwa “AKU…AKU ADALAH TUHAN, ALLAHnya ISRAEL “. Tuhan menunjukkan kekuasaan bahkan kasihNya.
Tapi tidak semua orang dari Bangsa Israel yg sampai ke tujuan…
hanya keturunan yg dilahirkan selama perjalanan…
Demikianlah hidup kita sekarang…
Tuhan sangat mengasihi kita…
kalaupun kita merasa seperti berada di padang gurun…
itu seijin Tuhan…
Itu karena kasihNya…
yang tujuannya agar kita ( manusia) bertumbuh…
dan memiliki karakter seperti emas murni yang di bakar dalam dapur pengujian
dan seperti bejana yang dibentuk sesuai kehendak pembuatnya ( Tuhan )…
Tuhan hendak memproses manusia lewat masalah…ataupun peristiwa.
yang terpenting ” ketaatan ” dan ” kesetiaan “.
Seperti sebuah lagu : 1. Ku mau seperti mu Yesus disempurnakan selalu..
2. Inilah yang ku punya hati sebagai hamba yang mau ” taat” dan ” setia ” pada Mu BAPA…
mari kita belajar taat dan setia….God Bless

