Belajar dari Starbucks: Mengetahui Mengapa Anda Ada Disini

March 18, 2010 by S. Libe Suryapusoro
Filed under: Kepemimpinan 

Orang cenderung untuk menciptakan rekor baru, sebuah prestasi yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Ini akan menjadi snagat bagus di CV mereka. Ada beberapa perusahaan yang menghasilkan pendapatan yang tinggi dengan memotong pengeluaran yang membuat pemimpin tersebut dianggap berprestasi. Tetapi beberapa tahun kemudian perusahaan mulai bangkrut. Ada yang fokus pada ide-ide besar tetapi justru mengabaikan hal-hal kecil yang penting. Akhirnya mencari jabatan, popularitas, kekuasaan atau uang untuk dirinya sendiri.

Mengapa dirinya ada di sebuah organisasi menjadi pertanyaan untuk setiap orang. Pertanyaan berikutnya adalah apa yang  bisa dikontribusikan oleh dirinya kepada organisasi? Kita menjadi lupa bahwa kita ada di organisasi tersebut supaya kita bisa melayani kebutuhan yang besar dalam organisasi tersebut, orang-orang di dalamnya dan setiap konsumennya.

Ketika di suatu organisasi ada posisi yang sama maka mereka satu sama lain akan saling bersaing. Menjadi yang terbaik sudah menjadi kebutuhan setiap orang. Antar departemen yang satu dengan yang lain saling bersaing, menunjukkan departemen siapa yang terbaik. Antar gerai toko yang satu dengan yang lain juga bersaing membuktikan bahwa dirinyalah yang terbaik. Akhirnya melupakan tujuan mereka di dalam organisasi tersebut. Semangat sebagai satu tim juga pudar. Itulah yang terjadi di Starbucks.

Pada pertemuan tim, Horward Behar menjelaskan bahwa mereka akan bertemu dan bekerja sama serta hidup mati bersama-sama untuk meraih berbagai tujuan yang mereka inginkan. Akhirnya mereka menyatu dan memusatkan perhatian kepada mereka seluruhnya dan impian besar mengapa mereka ada di starbucks. Horward Behar pun menetapkan tujuan untuk organisasinya. Lalu dia memberikan kesempatan untuk setiap departemen mempresentasikan bagaimana caranya supaya tujuan tersebut terwujud. Lalu sebagai pemimpin Horward Behar memberikan dukungan supaya mereka bisa melakukan apa yang mereka rencanakan dengan baik. Tujuan bersama-sama membuat semua terfokus ke tujuan tersebut dan tidak mencari popularitas sendiri. Dan memberikan kesempatan mereka memikirkan apa yang mereka akan kerjakan membuat mereka terlibat secara emosional dengan tujuan tersebut.

Jika kita mengejar kekuasaan, jabatan dan uang maka kita tidak akan pernah menghayati pekerjaan kita. Kita menjadi takut untuk berbeda dengan atasan karena membuat diri kita terancam. Kita tidak berani memperjuangkan kepentingan orang-orang di bawah kita. Bahkan kita cenderung menutupi kesalahan dengan kesalahan baru supaya kita tetap terlihat hebat. Kita mulai mencari kambing hitam, orang yang bisa kita salahkan jika apa yang kita lakukan tidak berhasil. Orang-orang yang mementingkan CV akan menciptakan budaya aku bukan kita. Dia akan memikirkan untuk kepentingan jangka pendek – ketika dia berkuasa- dibandingkan jangka panjang.

Orang yang tidak mementingkan CV akan membagikan pengalamannya, pengetahuan dan ide-idenya dengan orang lain. Dia akan membahas dan melibatkan orang lain. Bahkan dia tidak terlalu peduli siapa yang mendapatkan nama baik. Yang penting semua bisa berjalan dengan baik, tujuan organisasi tercapai dengan baik. Kepuasan buat dirinya bukan ketika dirinya mendapatkan penghargaan atau pujian tetapi ketika tujuan organisasi tercapai.

Pada awal pendirian starbucks internasional, banyak orang yang tidak mau bergabung dengan starbucks. Mereka berpikir ulang karena starbucks memang masih kecil. Mereka mau bergabung dengan perusahaan yang memang sudah memiliki nama supaya CV mereka menjadi lebih baik. Starbukcs mencari orang yang mencintai kopi dan orang yang membuat kopi. Sehingga menjadi mudah buat starbucks untuk mencoret orang-orang yang hanya memikirkan untuk dirinya. Ketika ada seseorang yang bergabung dan keinginannya dan mimpinya tidak selaras dengan starbucks maka kami pun berpisah. Tidak masalah jika dia memilih organisasi lain dan ternyata dirinya sukses di tempat lain. Starbucks masih berhubungan dengan orang tersebut dan orang tersebut masih mencintai starbucks.

Terkadang kita tidak menyadari kalau kita berada di tempat yang salah ataupun sedang membangun CV kita. Biasanya kita akan sangat tidak menikmati pekerjaan kita ketika kita di tempat yang salah. Kita merasa energi kita terkuras oleh pekerjaan. Kita justru kehilangan arah kehidupan ketika ada di peran yang baru. Bahkan nilai-nilai kehidupan kita tidak lagi berlaku lagi karena tuntutan dari peran yang baru tersebut. Itulah yang dialami Horward Behar. Tetapi ketika dia pindah ke starbucks maka semuanya berubah. Dia merasakan bahwa inilah tempat yang tepat. Nilai-nilai kehidupannya selaras dengan organisasi. Walaupun tuntutan pekerjaan tinggi tetapi dia masih bisa menikmati pekerjaannya. Pemahaman kita tentang siapa diri kita dan mengapa kita berada di sinilah yang membuat perbedaan.

Penerapan pribadi:

Apakah kita lebih mementingkan kepentingan diri kita atau organisasi?

Apakah kita rela tidak mendapatkan pujian dan penghargaan atas apa yang kita lakukan demi kepentingan organisasi?

Apakah nilai-nilai hidup kita selaras dengan nilai-nilai organisasi?

Apakah kita mengetahui mengapa kita ada di organisasi kita sekarang ini?

Comments

2 Comments on Belajar dari Starbucks: Mengetahui Mengapa Anda Ada Disini

  1. supri on Fri, 19th Mar 2010 11:29 am
  2. itulah pertanyaan yang masih saya pertanyakan pada diri saya sendiri…

    artikel yang bagus Pak Libe :)

  3. Libe on Fri, 19th Mar 2010 1:24 pm
  4. Makasih Pak Supri…