Kunci Pengembangan Diri: Pahami Fungsi Kita

March 8, 2010 by S. Libe Suryapusoro
Filed under: pengembangan diri 

Perjalanan menuju ke rumah mertua menjadi menyenangkan. Kami memang harus melakukan perjalanan yang cukup lama. Dari Bandung menuju Pati kami tempuh biasanya dengan bus nusantara yang cukup aman dan nyaman. Lalu kami menempuh perjalanan menggunakan mini bus sekitar satu jam. Sebenarnya tidak terlalu jauh tetapi menjadi lama karena bus sering berhenti menunggu penumpang. Sering kali kami bergabung dengan ibu-ibu dari atau menuju pasar. Tentu saja bawaan mereka sangat banyak. Setelah itu kami akan dijemput oleh keluarga menggunakan sepeda motor. Kami masih menempuh perjalanan sekitar 45 menit. Sampailah kami di rumah mertua saya yang terpencil. Tempat yang menyenangkan untuk bermeditasi atau merenung.

 Di rumah tersebut tidak ada televisi. Suasana yang benar-benar desa membuat saya menikmati keheningan dan banyak merenung. Ayah mertua akan kembali bekerja setelah puas ngobrol dengan kami. Kebetulan saat itu bapak sedang membuat kursi untuk kami. Saya pun memiliki kesempatan untuk mengamati bapak membuat hasil karyanya.

 Jangan bayangkan ada desain di sebelahnya. Atau gambar sederhana yang menggambarkan bentuk atau ukuran. Semua hanya ada di pikiran bapak. Saya tidak bisa membayangkan walaupun sudah diterangkan kurang lebihnya akan menjadi seperti apa. Bentuk-bentuk yang sudah jadi tetapi belum disusun pun sudah di tangan saya tetapi tetap saja saya tidak bisa membayangkan. Hanya saja saya yakin, bapak sudah membayangkan kursi seperti apa yang akan di buatnya. Kami hanya menginformasikan akan dimana kursi tersebut diletakkan dan gunanya untuk apa. Bapak yang mengatur semuanya.

 Di sisi lain, saya tetap tidak bisa mengerti kursi yang akan dibuat hanya dengan melihat potongan-potongan yang sudah jadi. Terkadang saya masih bisa memperkirakan fungsinya setelah melihat kursi tersebut. Tetapi saya tidak bisa menerka-nerka fungsinya hanya dengan diceritakan bapak tentang bentuknya. Kursi untuk ruang tamu pastilah berbeda dengan kursi yang akan diletakkan di taman. Bahkan sama-sama kursi di ruang kerja  akan berbeda antara direktur dengan supervisor. Ada kursi yang memiliki roda, tetapi ada kursi yang memang tidak bisa dipindahkan. Ada yang memiliki ukir-ukiran indah tetapi banyak pula yang polos. Bapak membuat kursi tergantung dengan fungsi dan siapa yang akan memakainya.

 Jika kita melihat kursi sebuah kursi, apakah Anda bisa melihat fungsinya? Si pembuat kursi katakanlah tidak bisa kita hubungi sehingga kita tidak bisa bertanya untuk apa dia membuat kursi tersebut. Kita pun tidak bisa berbicara dengan si pemesan kursi. Kita hanya bisa menerka-nerka kursi itu untuk apa. Jika bentuknya panjang, kelihatan sederhana, tidak ada ukiran, terbuat dati batang kayu, bisakah Anda menebak dimana letak kursi tersebut? Kemungkinan besar di taman sebagai kursi untuk kita bersantai-santai. Kita sudah terlatih untuk menemukan fungsi dan letak kursi tersebut dengan hanya memandangnya saja.

 Jika ada kursi yang terbengkalai, dimanakah letak kesalahannya? Bisa saja kita berkata, ”Wah si pembuatnya nih yang tidak betul. Masa kursi dibuat dari akar pohon sehingga tidak cocok ada di dalam rumah yang bagus seperti rumah saya? Sayang dong lantainya, bisa rusak” atau ”Saya tidak mau lagi memakai kursi ini. Gara-gara roda yang ada di bawahnya saya jadi terjatuh. Kursi ini bergerak-gerak terus.”

 Kehidupan kita tidak terlalu jauh berbeda dengan kursi yang saya ceritakan diatas. Tuhan membuat saya atau lebih tepatnya menciptakan saya. Mungkin Dia tidak mempunyai desain atau gambar seperti ayah mertua saya. Tetapi saya yakin Dia seperti ayah mertua saya, memiliki bayangan tentang seperti nanti saya akhirnya. Tuhan merancang saya, memberikan saya kedua kaki, tangan, dan bagian tubuh lainnya. Dia menaruh hidung saya yang cukup besar, telinga saya yang lebar. Dia tidak sedang bermain-main. Dia memiliki rencana akan semua itu. Tuhan pun mulai menentukan kecerdasan saya. Kepribadian saya pun sudah dimasukan ketika Dia merencanakan saya. Dia yang mengetahui masa lalu dan masa depan telah mempersiapkan saya untuk menghadapinya.

 Tidak, Tuhan tidak sedang bermain-main. Ada orang yang diciptakan hanya mempunyai satu kaki. Apakah itu pertanda Tuhan tidak adil? Saya yakin bukan demikian. Tuhan mempunyai maksud tentang hal itu. Banyak orang buta yang berhasil dan memberikan dampak buat orang lain. Banyak orang yang hanya mempunyai satu kaki yang tetap mengagumkan. Keberhasilan mereka tidak ditentukan seberapa banyak kaki yang mereka miliki atau seberapa sempurna tubuh mereka. Banyak pula orang yang cantik dan menjadi idaman setiap pria tetapi justru merebut suami orang lain. Perbuatan yang sangat tidak baik dan tidak layak untuk ditiru.

 Jadi kalau Tuhan itu adil mengapa saya tetap menjadi seperti ini? Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa? Inilah tujuan saya menulis buku ini. Ini bukan buku untuk mengajar setiap pembaca tentang kehidupan. Buku ini merupakan pencarian saya tentang memenuhi panggilan. Sudah banyak buku yang berbicara tentang mimpi. Bermimpilah setinggi-tingginya, dan gapailah. Bahkan ada langkah-langkah untuk mewujudkan mimpi. Tetapi banyak sekali yang tetap gagal menggapai mimpi. Yang berhasil berpesta sedangkan yang gagal tenggelam dalam kepedihan. Mengapa mewujudkan mimpi menjadi sulit? Adakah sesuatu yang salah?

 Buat saya tidak ada yang salah ketika kita bermimpi dan berusaha mewujudkan mimpi kita. Tetapi seperti kursi yang saya ceritakan diatas, akan salah jika kursi taman kita letakkan di ruang tamu atau ruang kerja. Kursi taman biarlah di taman tidak perlu merasa paling menderita karena kehujanan dan kepanasan. Kursi roda biarlah berfungsi sebagai kursi roda, tidak perlu malu karena diatasnya ada orang yang tidak bisa berjalan. Kursi untuk rakyat jelata biarlah dipakai oleh rakyat jelata tidak perlu gengsi dibandingkan kursi untuk raja. Semua ada fungsinya. Demikian pula ketika Tuhan menciptakan kita. Dia memikirkan fungsi untuk diri kita. Yang jadi masalah, apakah kita tahu fungsi kita?

Jika selama ini kehidupan kita menjadi demikian tertekan, mungkin karena kita tidak menjalankan fungsi kita di dunia. Tidak semua orang mendapatkan karunia untuk memimpin orang lain, tidak semua orang ditentukan sebagai manager atau direktur. Ada orang yang sangat pandai melakukan suatu pekerjaan sehingga berprestasi tetapi akhirnya menjadi manajer yang bodoh. Ada orang yang memang selalu tampil di depan tetapi ada juga yang selalu menyokong di belakang. Ada yang menjadi tangan, kaki atau bagian tubuh lainnya. Ada yang sangat dilindungi seperti jantung tetapi ada yang melakukan pekerjaan kasar seperti tangan. Jika masing-masing tidak menjalankan fungsinya pastilah semua akan menjadi kacau. Kehidupan kita menjadi berantakan. Jika suami tidak menjalankan fungsinya maka keluarga akan terasa seperti neraka. Begitu bahayanya jika kita tidak mengerti fungsi kita.

Bermimpi sama sekali tidak salah. Tetapi lebih baik lagi jika kita melakukan panggilan hidup kita. Bagaimana mengetahui panggilan hidup kita? Bagaimana pula kita menjalani panggilan hidup kita? Lalu apa bedanya memenuhi panggilan hidup dengan mencapai mimpi kita? Saya mencoba menuliskan apa yang saya temukan dalam proses pencarian panggilan hidup. Saya memahami bahwa proses ini membutuhkan waktu seumur hidup. Tidak ada jaminan bahwa setelah selesai membaca buku ini, Anda akan langsung mengetahuinya. Juga tidak ada jaminan apa yang Anda pahami saat ini sebagai panggilan hidup ternyata berubah di lain hari. Ini proses seumur hidup. Maukah Anda bersama dengan saya mempertimbangkan untuk mencari panggilan hidup?

Comments

One Comment on Kunci Pengembangan Diri: Pahami Fungsi Kita

  1. Alex on Mon, 8th Mar 2010 7:13 pm
  2. Hidup harus terus berubah
    http://www.buathidupbaik.blogspot.com