postheadericon It’s Not About The Coffee: Mengenal Siapa Diri Anda

Apa yang sedang terjadi di dalam dunia karyawan? Kebanyakan dari mereka memakai beberapa topi. Ada yang prestasinya biasa saja ketika dalam organisasi atau perusahaan tetapi dia menjadi agen part timer untuk organisasi atau perusahaan lainnya. Ada yang pendiam tetapi menjadi bersemangat di dalam organiasi lainnya. Atau ada yang memiliki lebih dari satu pekerjaan. Apa yang menjadi masalah? Karena mereka memiliki lebih dari satu topi.

 Yang dimaksud memakai satu topi saja, bukan sekedar memiliki satu pekerjaan saja melainkan juga menjadi dirinya sendiri bukan memakai diri orang lain. Tidak perlu meniru-niru gaya bicara atau berpakaian orang lain. Tidak perlu berpura-pura bersikap manis di hadapan seseorang dan bersikap busuk di hadapan yang lainnya. Tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. Dalam buku ini ditulis, ketika kita berpura-pura mengubah diri kita seperti yang orang lain harapkan maka kita mencegah diri kita melakukan yang terbaik. Ketika kita terlalu sibuk memilih topi mana yang ingin kita pakai, apakah topi yang sesuai dengan atasan atau bawahan kita, atau orang lain, kita sudah menghabiskan energi dan emosi kita untuk sesuatu yang tidak berguna. Akhirnya kita justru sudah kehabisan energi dan emosi kita untuk sesuatu yang memang kita harus selesaikan.

Topi yang seperti apa yang akan kita pakai ketika kita di dalam organiasasi atau perusahaan? Apakah topi yang bisa memerintah orang lain? Maka pakailah topi kekuasaan. Atau topi yang bisa menyenangkan bos kita? Pakailah topi penjilat. Atau topi yang selalu menentang orang lain? Pakailah topi pemberontak. Kita sebaiknya memakai topi seorang pelayan, melayani orang lain. Kita dalam rangka melayani orang yang kita pimpin, orang yang memimpin kita dan semua orang yang berhubungan dengan diri kita.

 Kita semua sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Topi pelayanan kita juga kita letakan supaya kita bisa ke tempat tersebut. Seorang pemimpin akan menentukan ke tempat mana kita menuju dan tentu saja dalam prosesnya, karena kita melayani orang yang dipimpin, kita harus tahu keinginan mereka. Suatu tempat, diri kitalah yang menentukan dan tentu saja disesuaikan dengan topi yang kita pakai, pelayanan yang kita lakukan. Di Starbucks yang menjadi tujuan bukanlah kopi yang sangat enak, atau keuntungan yang sangat besar sehingga menggunakan berbagai cara supaya itu semua terjadi. Di Starbucks yang menjadi tujuan utama adalah manusia yang melayani. Starbucks sangat mempedulikan orang yang membuat kopi, orang yang meminum kopi dan orang yang bisa membuat semua proses itu berjalan. Dalam perjalanan bisnisnya banyak yang berubah, startegi berubah, tetapi mereka tetap konsisten melayani orang, yang menjadi topi mereka.

 Kita bisa membuat berbagai tujuan dari satu topi. Tetapi tujuan seharusnya bersifat emosional. Orang-orang di dalamnya merasa terlibat secara emosional di dalam tujuan tersebut. Tujuan yang tidak berhubungan dengan orang yang akan mewujudkannya akan di tolak oleh mereka atau mereka melakukannya dengan tidak sungguh-sungguh. Sering kali para pemimpin dan atasan bertindak sendiri. Mereka menciptakan tujuan tentu saja berdasarkan apa yang mereka tahu. Mereka tidak mengajak diskusi orang-orang yang dipimpinnya. Tiba-tiba saja tujuan sudah tercipta dan harus dilakukan. Tidak ada kesempatan buat orang yang terlibat dalam mewujudkannya berkontribusi memberikan masukan terhadap tujuan tersebut. Suasana pun di ciptakan supaya orang menerima dengan suara bulat tujuan tersebut. Tujuan yang seperti ini tidak melibatkan orang-orang yang mewujudkannya terlibat secar emosional. Akhirnya, jelas, mereka akan melakukan jika atasannya memeriksa atau menyuruh dan akan diam saja ketika atasannya sibuk akan hal lain. Tujuan seperti ini akan dilupakan ketika kita sedang berusaha mewujudkannya.

 Nilai apa yang sedang kita pegang juga menjadi sangat penting ketika kita melakukan tujuan tersebut. Nilai bukanlah sesuatu yang kita tuliskan lalu menjadi buku petunjuk buat organisasi. Tetapi nilai lebih ke apa yang kita lakukan dan menjadi prioritas utama dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Banyak organisasi mencantumkan manusia lebih penting daripada apapun. Tetapi kenyataannya, gaji karyawan dibuat kecil, karyawan tidak dilibatkan sama sekali dalam pengambilan keputusan. Maka sebenarnya organisasi sedang mengatakan orang tidaklah penting di organisasi tersebut. Di starbucks orang lebih penting dibuktikan dengan diperjuangkannya kenaikan gaji karyawan diatas upah minimum. Walaupun hal ini mempengaruhi pendapatan dan kecepatan membuka gerai baru, tetapi mereka tetap melakukannya. Ini menjadi sinyal kuat buat karyawannya bahwa orang memang paling penting di organisasi tersebut.

 Penerapan pribadi:

Apakah kita memakai banyak topi? Apakah kita sedang menyenangkan orang lain dengan topi yang sedang kita pakai? Jadilah diri sendiri dan kenakan topi melayani orang lain (bukan menyenangkan orang lain).

Apakah tujuan yang kita buat sudah membuat orang yang akan mewujudkannya terlibat secara emosional?

Apakah nilai-nilai yang telah kita buat memang sudah mendarah daging dalam aktifitas sehari-hari?

Disarikan dari buku It’s not about the coffee

Comments are closed.