Peran Kita di Dunia bag 1
Suatu hari saya bertemu dengan mentor saya Paulus Winarto di PVJ, Bandung. Dia seorang motivator yang sering memberikan motivasi di perusahaan maupun kelompok sosial. Saya pun pernah mengatur seminar dengan dia sebagai pembicaranya dengan tanpa bayaran. Memanfaatkan posisi saya sebagai menthee-nya. Dia sudah menulis banyak buku sedangkan saya sedang belajar menulis buku darinya. Dia sudah menjadi langganan sebagai pembicara di perusahaan besar dengan fee yang lumayan. Saat ini saya masih sebagai trainer di sebuah organisasi tetapi belum menjadi public trainer. Tentu saja saya harus menyerap ilmu dari mentor saya yang satu ini.
Dalam pertemuan tersebut Paulus berbaik hati mentraktir saya makan sambil bercerita pengalaman dia. Saya lebih banyak mendengar dan menyerap ilmu darinya. Tetapi ada hal yang membuat saya terkejut. Dia mengatakan ke saya,”Libe, kamu tidak akan menjadi motivator seperti saya.” Saya akui, kami sudah sering berinteraksi sehingga dia sudah tahu banyak tentnag saya. Bahkan dia sudah membaca tulisan-tulisan saya sehingga mengenal cara saya berpikir. Memotivasi orang lain adalah mimpi saya. Membuat orang lain berkembang dan mencapai potensi maksimalnya adalah tujuan saya hidup. Untuk hal itulah saya hidup dan tiba-tiba seseorang mengatakan saya tidak akan menjadi motivator seperti dia? Bahkan dalam hati saya, saya ingin melebihi Paulus.
Tidak lama kemudian Paulus melanjutkan perkataannya,”Kamu lebih cocok menjadi seorang guru. Contohlah John C Maxwell, tidak memotivasi orang melainkan mengajar orang.” Oh, leganya perasaan saya. Apa yang Paulus bilang memang benar. Saya tidak perlu menjadi seperti dia. Saya tetap harus menjadi diri saya sendiri. Saya mengalami kesulitan membuat humor, memainkan emosi orang ketika saya ada di depan banyak orang. Pendekatan saya memang saya akui, bukan pendekatan emosi. Saya tidak mampu membuat orang menangis, marah, atau sedih. Tulisan-tulisan saya pun demikian. Tidak pernah ada masukan dari pembaca yang merasa sedih atau marah. Bahkan tulisan yang saya tujukan untuk memainkan emosi tidak berhasil mempengaruhi pembaca. Saya tidak cocok menulis novel atau lainnya.
Beberapa masukan tentang tulisan saya lebih karena mereka merenungkan tulisan saya. Ada yang mengatakan tulisan saya ringan tetapi setelah dibaca beberapa kali memiliki makna yang mendalam. Ini lebih membuktikan saya bukan motivator. Tidak masalah buat saya karena saya tetap bisa mengejar mimpi saya. Saya memang bukan motivator yang bisa membangun orang lain tetapi saya bisa menjadi guru yang membuat orang lain berkembang.
Dilain kesempatan saya akan menuliskan tentang macam-macam peran sehingga kita bisa mengidentifikasi peran kita di dalam hidup ini.