Ubah Cara Pandang Terhadap Kegagalan

February 12, 2010 by S. Libe Suryapusoro
Filed under: pengembangan diri 

Siapakah orang yang tidak pernah gagal memasukkan bola golf? Apakah Tiger Woods yang terkenal sebagai jagonya main golf? Jangan salah, saya tidak pernah melakukan kegagalan sedangkan Tiger Woods, tokoh pe-golf dunia justru sering melakukan kegagalan. Apakah saya lebih hebat? Tentu tidak. Kalau saya lebih hebat pastilah Anda sudah mengenal nama saya dari berita atau acara-acara olah raga di televisi. Saya tidak pernah gagal karena sebenarnya saya tidak pernah bermain golf. Jangan tertawa, bukankah memang benar saya tidak pernah gagal?

Saya bisa memberikan daftar panjang tentang hal-hal yang saya tidak pernah gagal. Saya tidak pernah gagal bermain saham, mengemudikan pesawat, membuat desain rumah, membuat televisi, mengawal presiden, berpidato di PBB dan sebagainya. Saya tidak pernah gagal melakukan itu karena saya tidak pernah melakukan. Ingin daftar lebih panjang? Saya tinggal sebutkan segala hal yang tidak pernah saya lakukan. Oh iya saya juga tidak pernah gagal memanjat puncak Everest! Apakah hal itu patut dibanggakan? Tentu saja tidak. Tidak ada hal yang membanggakan dari kata “tidak pernah gagal”, kalau kita tidak pernah mencobanya.

Hanya saja, dunia mengatakan bahwa mereka yang sukses adalah mereka yang tidak pernah gagal. Kalau memang begitu, saya yakin orang yang paling sukses di dunia adalah bayi yang lahir langsung mati. Dia tidak pernah gagal dalam melakukan segala sesuatu. Benarkah demikian? Tentu Anda tidak setuju jika seseorang dinyatakan sukses karena tidak pernah gagal. Tentu Anda juga tidak setuju jika seseorang dikatakan sukses karena sering melakukan kegagalan. Sebenarnya kegagalan hanyalah setahap menuju kesuksesan.

Saya belajar banyak dari orang ini: Umur 21 tahun gagal binis, 22 tahun gagal dalam pemilihan wakil gurbenur, 24 tahun bisnis gagal lagi, 26 tahun istrinya meninggal dunia, 27 tahun menderita sakit jiwa, 34 tahun gagal dalam pemilihan senator, 36 tahun gagal dalam pemilihan senator, 45 tahun gagal dalam pemilihan senator ketiga kalinya, 47 tahun gagal dalam pemilihan wakil presiden, 49 tahun gagal dalam pemilihan senator ke empat kalinya, 52 tahun menjadi presiden AS yang ke-16. Anda tahu siapa dia? Abraham Lincoln. Seorang yang sangat terpandang, presiden yang luar biasa. Bukankah kehebatannya justru disebabkan seringnya dia mengalami kegagalan?

Presiden SBY dulu juga pernah gagal dalam pemilihan presiden sebelum dia menjadi presiden. Dia belajar bahwa dia harus mempunyai partai supaya dapat menjadi presiden maka berdirilah Partai Demokrat. Saya masih ingat ketika itu pertarungan sengit di MPR antara SBY, Megawati, dan Gusdur. Kegagalan bukanlah hal yang memalukan, sering kali gagal justru sebagai jaminan bahwa dia akan berhasil kelak. Kegagalan justru membuat kita ahli.

Siapakah yang disebut sebagai ahli cinta? Apakah orang seperti saya yang berpacaran sekali dan langsung menikah? Saya mengalami masa-masa pacaran hanya satu tahun sehingga saya tidak tahu banyak tentang pacaran. Berbeda dengan teman saya yang sudah berpacaran kesekian kalinya. Dia sampai tahu seseorang akan diajak ke tempat mana, bagaimana membuat suasana menjadi romantis dan menyenangkan pasangannya. Semakin lama, semakin ahli.

Demikian juga dalam fotografi. Seseorang tidak bisa memotret sekali langsung menjadi bagus. Anda tahu untuk menghasilkan satu foto bagus berapa foto yang harus dibuat? Kemungkinan sepuluh sampai seratus foto. Yach, kita bilang orang tersebut jago dalam memotret tetapi sudah berapa kali gagal yang dia alami? Tentu banyak sekali. Apalagi kalau dihitung dari sejak dia memegang kamera.

Thomas Alfa Edison juga lebih dari 10 ribu kali mengalami kegagalan dalam membuat bola lampu. Setiap kegagalan yang dia alami selalu dikatakan sebagai keberhasilan. “Paling tidak saya sudah berhasil mengetahui kalau cara ini gagal”, demikianlah ungkapannya. Dengan demikian setiap kegagalan adalah keberhasilan. Minimal kita tahu kalau cara itu tidak berhasil. Tetapi kegagalan juga bisa kita manfaatkan. Saya masih ingat ketika saya mengerjakan tugas akhir. Saya telah gagal melakukan suatu prosedur tapi saya tidak ingin kegagalan tersebut sia-sia. Maka kegagalan itu saya tampilkan dan menjadi pembanding untuk prosedur lainnya.

Penemu post it, sebenarnya melakukan kegagalan dalam membuat lem yang bagus. Lem tersebut tidak bisa menempel dengan baik tetapi bisa dilepas lagi. Dari kegagalan dimanfaatkan menjadi produk unggulan. Begitu juga penemu ban, dia mengalami kelalaian sehingga terlalu kering. Akibatnya justru menjadi penemuan baru. Jadi tidak semua kegagalan merupakan hal yang sia-sia. Sebagian bisa kita gunakan untuk kepentingan yang berbeda dan sebagian lagi sebagai proses pembelajaran.

Tahun 2002 saya gagal menjadi pegawai negeri mengakibatkan saya menemukan bidang baru yang sama sekali berbeda dengan bidang studi saya yaitu pengembangan diri. Kegagalan saya untuk mengabdi kepada masyarakat dengan memberikan penemuan baru tidak mematahkan semangat saya mengabdi. Saya melakukan sesuatu yang berbeda supaya masyarakat Indonesia bisa menikmatinya. Semakin saya merenungkan saya semakin memahami bahwa kegagalan merupakan proses yang Tuhan izinkan supaya saya menemukan Dia.

Kegagalan bukan hal yang tabu bahkan saya justru merasakan dari kegagalan Tuhan berbicara. Saya gagal ketika merencanakan membuat film bersama teman saya, tujuannya memberikan pendidikan tentang kepemimpinan kepada masyarakat luas. Tetapi bukan halangan untuk maju. Itu justru membuat saya tetap fokus dengan ICL ini. Kegagalan justru dipakai Tuhan untuk membuat kita mengerti akan hidup ini. Coba bayangkan seseorang yang tidak pernah merasakan lapar. Mungkin dia dianggap sukses tapi dia akan menjadi orang gagal yaitu orang yang tidak mampu menghargai orang yang kelaparan.

Beberapa bulan yang lalu saya mengatakan ke istri saya, “kegagalan boleh terjadi dalam hidup kita supaya kita bisa melayani orang lain.” Seorang pengusaha yang gagal pasti akan sangat mudah melayani pengusaha lainnya yang gagal di kemudian hari. Jika saya pernah mengalami kegagalan pasti saya akan bisa melayani orang lain yang mengalami kegagalan serupa. Jika saya dianiaya oleh orang-tua saya maka saya bisa melayani anak-anak yang di aniaya.

Kegagalan memang bukan kesuksesan bagi dunia tetapi bagi saya, kegagalan tetap sebuah kesuksesan. Saya bisa memakai kegagalan untuk keperluan lain. Saya bisa belajar dari kegagalan tersebut dan mengetahui suatu metode yang gagal. Yang terpenting, kegagalan diizinkan terjadi oleh Tuhan karena saya dipercaya untuk melayani orang-orang yang gagal di kemudian hari. Hanya orang yang sudah mati yang tidak pernah mengalami kegagalan.

Suatu kehormatan ketika mengalami kegagalan karena kegagalan adalah sebuah sukses kecil yang tidak diakui oleh dunia dan akhirnya dinamai kegagalan. Kegagalan adalah kesuksesan. Tentu saja saya tidak berbicara tentang dosa, kegagalan melakukan perintah Allah.

S. Libe Suryapusoro di www.sayabisa.com

Comments

2 Comments on Ubah Cara Pandang Terhadap Kegagalan

  1. Mas Said on Sat, 13th Feb 2010 7:50 am
  2. Betul Pak, kita harus belajar selalu dari apapun yang terjadi di dalam hidup kita, baik keberhasilan maupun kegagalan. Merenung adalah cara terbaik untuk mendapatkan sari-sari pelajarannya.

  3. Agus on Sat, 13th Feb 2010 7:51 am
  4. Setuju tuh….
    Terus belajar