Keyakinan yang Salah Tentang Waktu
Sering kali kita memiliki keyakinan yang salah tentnag mengatur waktu. Keyakinan ini membuat kita tidak bisa mengendalikan waktu kita. Kita menjadi bertindak salah karena keyakinan yang salah dan akhirnya kita mendapatkan hal yang salah. Tentang pengaruh keyakinan Anda bisa melihat di tulisan saya di www.sayabisa.com.
Waktu bisa diatur
Berapa banyak dari kita yang menyangka waktu bisa diatur? Tentu saja sebagian besar dari Anda menyangka waktu bisa diatur karena itu membaca free-ebook ini. Sebenarnya kita tidak pernah mengatur waktu kita. Kita hanya mengatur aktifitas dan kebiasaan kita. Satu jam tetaplah satu jam, apapun posisi kita. Kita tidak bisa mempercepat atau memperlambat waktu bahkan hanya satu detik. Tetapi cara kita menggunakan waktu yang menentukan arti satu jam. Satu jam bisa membuat kita melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bogor atau Jakarta ke Surabaya, tergantung kendaraan apa yang kita pakai. Waktu memang tidak bisa kita atur tetapi kita bisa membuat pilihan sehingga seakan-akan kita bisa memiliki waktu lebih banyak dibandingkan orang lain.
Jika bekerja lebih keras maka lebih banyak yang dapat kita selesaikan
Banyak orang yang menyangka demikian. Jika kita mengerjakan pekerjaan pagi, siang dan sore bahkan pulang malam, seakan-akan kita telah menyelesaikan banyak sekali pekerjaan. Pada kenyataannya waktu efektif kita terbatas pada beberapa jam saja. Setelah itu kita sudah sulit berkonsentrasi akhirnya pekerjaan kita tidak secepat seharusnya. Masih ingat kisah penebang pohon di buku the 7 habits of highly effective people? Jumlah pohon yang dihasilkan ditentukan oleh seberapa tajam gergaji yang digunakan. Bisa jadi kita bekerja sampai malam hari tetapi hasilnya justru tidak memuaskan. Tidak ada jaminan kalau bekerja lebih keras dan lebih lama akan menghasilkan pekerjaan lebih banyak. Jangan-jangan selama ini Anda bekerja pulang malam supaya terlihat hebat dan membanggakan? Jadi jika ada pekerjaan yang salah Anda memiliki alasan yang kuat, yaitu Anda sudah bekerja keras.
Jika Anda menginginkan segala sesuatu berjalan baik, lakukanlah sendiri
Ada orang yang sulit mempercayakan pekerjaan ke orang lain tetapi ada orang mempercayakan seluruh pekerjaannya ke orang lain. Yang manakah diri Anda? Pekerjaan yang kita berikan ke orang lain memang memiliki resiko berjalan kacau atau tidak seperti yang kita inginkan. Apalagi kalau diri kita tidak memberitahukan apa yang kita inginkan. Orang-orang perfeksionis sering kali mengalami kesulitan memberikan tugas ke orang lain. Mereka menganggap orang lain tidak bisa menyelesaikan pekerjaan seperti mereka pengerjakannya. Jika memang kita memiliki waktu untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, tidak masalah. Tetapi suatu saat kita harus mendelegasikan pekerjaan kita. Jika kita mendelegasikan ke orang yang tepat dan dengan cara yang benar, sangatlah mungkin hasilnya justru lebih baik dibandingkan kita mengerjakan sendiri. Orang lain memang memiliki kemungkinan mengerjakan dengan cara yang salah tetapi bukankah Anda juga memiliki kemungkinan mengerjakan degan cara yang salah juga?
Lakukan ketika mendekati deadline (batas waktu)
Banyak orang berpikir kreatifitas kita muncul ketika kita didesak oleh waktu. Kita yang tadinya tidak bisa mengerjakan tahu-tahu menjadi bisa. Seakan-akan kita mendapatkan kekuatan baru ketika deadline sudah datang. Saya tahu Anda bisa membuktikan kebenaran pernyataan saya diatas. Tetapi sebenarnya apakah yang terjadi? Sebelum deadline biasanya kita memikirkan bagaimana cara menyelesaikan pekerjaan kita tersebut. Kita mencari solusi, bertanya kepada teman-teman kita atau sekedar membayangkan. Mungkin kita tidak melakukan apa-apa, hanya sebatas berpikir. Ketika waktu mendesak kita, maka kita mulai bertindak. Karena sebelumnya sudah berpikir, maka mudah buat kita untuk bertindak dengan benar. Kita pun mulai nekad dengan keputusan-keputusan kita. Yang tadinya kita berpendapat risiko terlalu tinggi, tiba-tiba kita menganggap tidak masalah. Terkadang kita pun menurunkan kualitas kita, yang penting selesai. Karena itu janganlah kita baru mulai mengerjakan ketika deadline sudah dekat. Kalau tidak percaya dengan apa yang saya tuliskan coba saja buktikan. Anda jangan pikirkan pekerjaan tersebut-sedikitpun jangan- sampai mendekati deadline. Masihkah Anda kreatif dan bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik?
Kerjakan banyak hal dalam satu waktu
Dahulu kita diajarkan untuk mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Misalnya membaca buku sambil menonton TV. Atau menelpon seseorang sambil mengerjakan hal lainnya. Ketika kita mengerjakan dua hal secara bersamaan sebenarnya kita sedang menurunkan kecepatan kita mengerjakan hal tersebut. Konsentrasi kita berkurang ketika mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Berkendaraan pun menjadi berbahaya ketika kita sambil menelpon. Makan tidak lagi terasa enak ketika kita sambil menonton TV. Kita sulit menikmati aktivitas kita ketika kita mengerjakan hal lainnya di saat yang sama. Berbeda halnya jika saya mengetik sambil download file dari internet. Bukankah saya hanya mengerjakan satu hal di satu waktu? Download berjalan sendiri tanpa saya melakukan apapun. Atau banyak ibu rumah tangga yang sedang memasak air lalu menyiapkan bumbu untuk masakan berikutnya. Mereka juga tetap melakukan satu hal di satu waktu. Jika kita memasak air lalu kita menunggu air itu mendidih baru melakukan hal lain, itu namanya kita tidak melakukan apapun. Boleh saja kita membaca sambil menunggu telpon kita diangkat, tetapi begitu sudah diangkat, kita perlu menghentikan bacaan kita.
Semakin banyak yang dihasilkan maka kita semakin bahagia
Kita sering kagum terhadap orang yang menyelesaikan banyak hal. Lihat saja orang yang mempunyai titel banyak sekali, pastilah kita bisa ternganga oleh karenanya. Atau banyak posisi yang kita pegang pun bisa membuat diri kita tampak bahagia. Banyak orang yang meletakkan kebahagiaannya di dalam pekerjaan mereka atau prestasi mereka. Sebenarnya sangat disayangkan. Kebahagiaan harusnya muncul dari dalam kita bukan disebabkan oleh hal di luar kita. Kita akan mudah kecewa dan sedih jika kita bahagia karena banyaknya pekerjaan yang kita selesaikan. Tapi biarlah kebahagiaan ada di dalma diri kita sehingga kita bisa menyelesaikan banyak pekerjaan. Biarkan kebahagiaan itu menjadi penyebab bukan akibat.
S. Libe Suryapusoro di www.sayabisa.com

