Mencari Kambing Hitam
Lalu kata Saul kepada Samuel: “Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal.” 1Sa 15:20 -21
Siapa yang tidak suka kambing? Pasti cukup banyak karena alasan kesehatan atau memang tidak suka. Tetapi siapa yang tidak suka kambing hitam? Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, kambing hitam menjadi faforit. Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular. Lama-lama kita akan meyalahkan Tuhan karena apa yang telah terjadi.
”Mengapa kamu terlambat?” Tanya seseorang. ”Habis, jalanan macet.” Bukankah sudah setiap hari macet? Bukankah kita seharusnya sudah bisa memperkirakan seberapa macet jalan tersebut dan harus berangkat jam berapa? Bukankah kita yang menjadi pengambil keputusan untuk apa yang harus kita lakukan supaya kita memenuhi tanggung jawab kita? ”Iya sih saya yang salah. Tapi kan itu semua karena orang ini tidak melakukan tugasnya dengan baik.”
Saya pernah ditegur oleh seseorang karena apa yang dilakukan oleh orang yang saya pimpin. Saya langsung mengiyakan. Saya tidak perlu membantah. Kesalahan saya memang bukan karena membuat kesalahan. Kesalahan saya adalah tidak bsia memastikan orang yang saya pimpin melakukannya dengan benar. Saya tetap memiliki andil dalam kesalahan tersebut.
Kisah yang sama bisa kita baca di kisah Saul ketika dia melakukan kesalahan. Dia diminta untuk memusnahkan orang Amalek dan seisinya. Saul melakukannya. Dia membunuh semua orang Amalek kecuali Agag dan anak domba yang baik dan barang-barang berharga. Bukankah perintahnya adalah semua orang Amalek dan seisinya? Itu berarti tidak ada kecuali dan domba baik yang bagus baumun yang jelek termasuk dalam daftar yang harus dimusnahkan. Bahkan perhiasan atau barang berharga lainnya juga harus dimusnahkan.
Samuel menegur Saul akan kesalahan tersebut. Dan Saul mencari kambing hitam. Dia menyalahkan rakyatnya yang mengambil domba-domba tersbut. Dia mencari pembenaran yaitu akan dipersembahkan kepada Allah. Bukankah bukan salah Saul? Bukankah untuk tujuan yang baik? Mengapa saul yang ditegur? Mengapa bukan rakyat atau Tuhan yang menjadi tujuan semua itu dilakukan?
Sering kali saya mencoba mencari kambing hitam, orang yang akan disalahkan. Saya tidak menyadari bahwa Tuhanlah yang memperhatikan dan DIAlah yang mengetahui siapakah yang benar dan siapakah yang salah. Mencari kambing hitam hanya menambah kesalahan di hadapan Tuhan. Mungkin kita dianggap benar di hadapan manusia sampai semua kesalahan kita terbongkar. Kita masih tetap bersalah di hadapan Allah, alasan apaun yang kita pakai.
Coba bayangkan bagaimana sikap rakyat ketika mendengar Saul menyalahkan mereka? Rakyat tahu pasti darimana perintah menyimpan barang berharga itu berasal. Mereka tahu kalau Saul tidak menegur mereka. Dan mereka yang disalahkan? Pastilah mereka tidak lagi simpati dengan kepemimpinan Saul. Orang yang menjadi kambing hitam akan tidak menghormati kita lagi. Ketika kita kembali memimpin mereka maka mereka sudah tidak lagi percaya kepada kita. Seandainya kita minta maaf, maka masalah akan selesai. Tetapi ketika kita mencari kambing hitam, kita hanya menunggu waktu yag tepat masalah itu akan kembali meledak.
Sebagai pemimpin, siapapun yang melakukan kesalahan kitalah yang bertanggung jawab. Bisa jadi karena komunikasi kita tidak benar ketika memberikan instruksi. Atau karena kita tidak koreksi dengan teliti sehingga kesalahan itu lolos. Atau kita tidak memberikan bekal kemampuan dan mengembangkan mereka supaya bisa melakukan tugasnya dengan baik. Apapun itu, sebagai pemimpin kita punya andil terhadap suatu kesalahan dan kitalah orang yang paing bertanggung jawab.
Jika kita selalu mencari kambing hitam tidak heran jika suatu saat nanti Tuhan meninggalkan kita dan mengangkat pemimpin lain. Tuhan meninggalkan saul. Dia menyesal dengan memilih Saul sebagai pemimpin bangsa Israel. Walaupun posisi raja dan pemimpin masih ada di dalam diri Saul tetapi sebenarnya Tuhan sudah mencabutnya. Tuhan sudah memilih pemimpin lain untuk menggantikan Saul. Jangan sampai hal yang sama terjadi pada diri kita. Kita masih menjadi pemimpin tetapi sebenarnya Tuhan sduah meninggalkan kita dan memilih orang lain sebagai pengganti kita.
Mencari kambing hitam hanyalah membuat permasalahan padam sementara tetapi bersiap-siap menyala lebih besar lagi. Kita memang akan aman untuk sementara tetapi orang di sekitar kita juga akan tahu siapa sebenarnya yang salah. Mereka mungkin tidak berbicara ke kita tetapi mereka mengetahuinya dan tidak lagi menghormati kita.
S. Libe Suryapusoro di www.sayabisa.com
kalau di tempat saya mah…kebanyakan kambing warna belang-belang…
emang skrang ini, dimana saja………….., gak di tempat kerja di pelayanan aja orang sering tidak berani mengakui ksalahan, tetapi mencoba melmparkannya pada orang lain /cari kambing hitam ( pada hal dsni kambing hitam jarang… ).
ya…saya yakin hanya orang yang berbesar hati yang menerima teguran terhadap kesalhan yg tidak dia perbuat.
dan sanggup berkata…” ya itu memang kesalhan saya..” atau ” ya….itu kelemahan saya..” atau ” ya saya memang teledor “…
saya juga masih belajar untuk itu…
saya yakin Tuhan…bahkan manusia sendiri lebih senang mendengar pengakuan seperti itu…
gbu
Begitulah kenyataannya. kasih kambing yang berwana hitam selalu disalahkan. hehehe..