postheadericon Kunci Pengembangan Diri: Menjadi Diri Sendiri

Kata-kata itu sangat bagus buat siapa saja. Jadilah dirimu sendiri, begitulah kira-kira dalam bahasa Indonesianya. Hanya saja betulkah itu yang terjadi pada diri kita? Suatu hari saya berdebat dengan seseorang, lalu saya katakan kepadanya,”Begitulah saya dan saya mau jadi diri saya sendiri.” Itu alasan saya supaya saya tidak berubah dan tidak perlu pusing-pusing melakukan perubahan. Tetapi apakah kata-kata be your self merupakan alasan andalan supaya kita tidak berubah? Seperti apakah menjadi diri sendiri?

Saya sangat kagum dengan prinsip hidup Warren Buffett. Dia adalah orang terkaya kedua setelah Bill Gates. Dia sering meng’akuisisi’ perusahaan lain. Dia juga –seperti Bill gates- memiliki yayasan untuk membantu masyarakat. Hanya saja dia memutuskan sesuatu yang luar biasa. Dia berencana memberikan 85% warisannya ke yayasan yang dimiliki oleh Bill Gates. Ops… tidak salah. Bagaimana orang yang terkaya kedua memberikan kekayaannya kepada yayasan orang terkaya di dunia? Itulah yang mengagumkan. Dia tidak memakai namanya, atau anak-anaknya. Dia justru memberikan kepada orang lain. Bagi saya, Warren Buffett telah mengenal dirinya dan dia tidak perlu lagi berupaya supaya dirinya terkenal. Bukankah luar biasa? Bukankah sekarang jamannya orang memberikan bantuan supaya dirinya dikenal orang?

Lihat saja bantuan bencana alam baik gempa maupun Tsunami. Bukankah mereka meminta nama mereka dicantumkan? Bahkan banyak artis yang menunjukan belas kasihan dengan datang ke tempat bencana lalu masuk ke dalam televisi. Jadilah pamornya meningkat. Bagaimana dengan gereja? Ada gereja yang mengembar-gemborkan telah membantu sekian juta supaya dihormati oleh orang lain. Bagi saya, orang yang mencari nama sebenarnya orang tersebut tidak mengenal dirinya sendiri. Kok bisa?

        Saya sering kagum dengan tokoh-tokoh terkenal. Luar biasa, mereka dapat melakukan banyak hal dan dikenal di Indonesia. AA Gym misalnya, dia sebegitu terkenal tetapi tahukah Anda bahwa dia terkenal karena menjadi dirinya sendiri? Sepuluh tahun sebelum dia terkenal, dia sudah sering memberikan dakwah dengan warna yang seperti sekarang. Awalnya tidak banyak yang suka, terlalu umum dan kelihatan tidak Islami. Saya masih ingat ketika bertemu denganya –tujuh tahun silam- dia begitu sederhana, seperti sekarang. Tetapi AA Gym mengerti akan dirinya dan akhirnya dia bisa terkenal justru karena dia menjadi dirinya sendiri. Tidak perlu mengikuti gaya Zainudin M.Z. Juga tidak mencoba menjadi orang lain.

        Ketika kebanyakan orang sedang membuat kerajaan di dunia, Warren Buffett justru tidak melakukannya bahkan dia melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang kebanyakan orang lakukan. Ketika gerakan Islam menuju Islam yang fanatic dengan FPI atau kegiatan lain AA Gym justru memberikan Islam yang damai. Inilah yang saya sebut menjadi dirinya sendiri. Tidak harus sama dengan orang lain, tidak juga harus mengikuti tren yang sedang berkembang. Tidak perlu ikut memakai baju seksi karena memang lagi musim baju adik. Tidak perlu juga bikin KKR karena semua sedang bikin KKR. Atau sekarang lagi musim Camp baik untuk kepemimpinan atau camp-camp lainnya. Jadi diri sendiri, berarti mampu memahami tentang dirinya dan berjalan sesuai dengan dirinya.

        Wajar jika suatu gereja yang dipanggil untuk melayani pemuda lalu gereja tersebut menyesuaikan diri dan berjiwa muda. Tetapi tidak perlu buat gereja yang tidak dipanggil untuk melayani pemuda lalu ikut-ikutan. Sangat penting buat siapapun juga untuk menjadi diri sendiri bukan menjadi orang lain. Hanya saja, saya melihat banyak pemimpin gereja justru mencoba menjadikan gerejanya atau jemaatnya menjadi orang lain. Misalnya dalam suatu kesempatan saya mendengar semua orang harus ikut paduan suara, harus ikut acara ini dan itu. Harus menginjili minimal 100 orang dalam satu tahun. Tidak peduli kemampuan dan talenta orang tersebut, mereka harus melakukan seperti yang gereja inginkan (bukan Tuhan inginkan). Untuk melegalkan apa yang para pemimpin lakukan munculah ayat-ayat pendukungnya.

        Kalau semua harus menginjili, siapa yang akan mengunjungi jemaat yang sudah ada? Kalau semua harus ikut kegiatan, siapa yang akan memikirkan perencanaan gereja? Saya sangat yakin, ketika Tuhan mengutus seseorang ke suatu tempat karena memang membutuhkan orang tersebut sebagai dirinya sendiri. Di sepak  bola, terdapat pemain depan, belakang, gelanggang dan keeper. Mereka harus menjadi diri mereka. Selama ini yang terkenal adalah para penyerang sedangkan pemain belakang jarang menjadi pemain terbaik apalagi keeper. Tetapi apakah keeper harus maju menjadi penyerang supaya bisa lebih terkenal?

        Beberapa minggu terakhir, saya merenungkan masa depan majalah ICL ini. Konsep yang berbeda dengan yang sudah ada, dibagikan secara cuma-cuma ke siapa saja, dan hanya saya sendiri penulisnya. Sepertinya konsep seperti ini tidak mungkin bertahan apalagi saya menggunakan uang pribadi untuk menggandakannya. Hanya saja saya tetap ingin ICL menjadi dirinya sendiri. Saya mempergumulkannya selama tiga tahun sampai kemudian dapat menerbitkan edisi pertama. Bukan hal yang mudah. Hanya saja, apakah menjadi diri sendiri berarti tidak berubah? Apakah sepuluh tahun kemudian ICL akan tetap seperti ini? Saya tidak bisa menjamin. Perubahan itu perlu dilakukan. Menjadi diri sendiri tidak berarti tidak melakukan perubahan tetapi juga tidak berarti berubah sesuai dengan keadaan di sekitar. Seandainya memang ICL harus berubah, perubahan yang terjadi bukan karena melihat orang lain berubah dan ingin menjadi seperti orang lain. ICL akan berubah tetapi tetap menjadi dirinya sendiri. Bagaimana dengan Anda? Bagaimana juga dengan pelayanan Anda?

S. Libe Suryapusoro di www.sayabisa.com

Comments are closed.