postheadericon Modal Hilang? Tambah lagi!!! (Kisah Memulai Usaha)

Pelajaran ini saya dapatkan dari seorang teman di Kupang. Saat itu sebenarnya sudah terlalu malam buat kami untuk ngorbol-ngobrol. Tetapi lama kami tidak bertemu dan saat disana saya pun menghabiskan waktu untuk belajar darinya. Dari sisi usia, dia lebih tua dari saya dan juga lebih berpengalaman dalam kehidupan. Dia pun sudah meraih posisi yang cukup membanggakan di kalangan pemerintahan. Dia memiliki usaha berupa angkutan umum dan peternakan. Orang yang berpengalaman dan saya harus menggali pengalaman tersebut.

 Sebulan sebelum saya bertemu, saya telah kehilangan modal saya sejumlah satu juta. Saat itu saya memulai investasi di peternakan tepatnya kambing. Dari modal yang ada di belikan dua kambing. Apesnya, keduanya mati setelah ditawar seseorang dengan harga tinggi. Seandainya sudah kami lepas, maka keuntungan saya dalam waktu tiga bulan sekitar 250 ribu, itu sudah bersih. Lumayan, untuk pemula.

 Teman saya juga bercerita kisahnya ketika memulai usaha di bisang peternakan. Saaat itu dia sedang mengirim delapan sapi dari Kupang ke Jawa. Tetapi tepat ketika truk pengangkutnya sedang naik ke kapal, salah satu sapi lompat keluar dan menghilang. Dalam usaha di awal ini dia sudah mengalami kerugian. Dan sering kali hal itulah yang dialami oleh setiap pengusaha yang saya kenal. Mereka akan mengalami kerugian di tahap mereka baru memulai. Inilah ujian pertama, apakah Anda benar-benar entrepreneur atau pengusaha?

 Istri saya juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Sampai saat ini kami sudah mengeluarkan untuk modal sekitar sepuluh juta. Usaha tersebut sudah berjalan selama satu tahun dan istri saya belum pernah mendapatkan gaji dari usaha tersebut. Coba bayangkan jika gaji istri saya dihitung sebagai modal, pastilah lebih dari 15 juta. Beberapa bulan yang lalu, kami mengalami titik dimana kami berpikir seharusnya kami berhenti. Sudah terlalu banyak yang dikeluarkan menjadi modal, kami sudah lakukan apa yang kami bisa tetapi hasilnya masih jauh dari kata memuaskan. Stok barang belum terjual.

 Lalu satu bulan yang lalu, istri saya memutuskan untuk memproduksi barang yang berbeda dengan sebelumnya. Tentu saja itu berarti modal tambahan harus didapatkan. Kami pun mengubah rencana. Kebutuhan pribadi kami tunda supaya kami bisa memberikan tambahan modal. Secara logis, kerugian yang sudah ada tidak perlu ditambah lagi. Bukankah benar seperti itu? Jika kita mengehentikan suntikan modal untuk sesuatu yang tidak bisa berjalan berarti kita sedang memastikan sesuatu tersebut tidak akan berjalan selamanya.

 Itulah hal dalam permodalan dan kewirausahaan. Kita akan sutikan modal dan usaha kita akan terus meminta kita menyuntikkan modal sampai usaha itu bisa running sendiri. Sebelumnya, pastikan bahwa kita terus mendukung usaha tersebut dengan menambah modal yang bisa kita lakukan. Memang itu sangat beresiko. Seperti saya, ketika kambing itu mati, kami mengubahnya dengan membeli sapi. Harganya lebih mahal, resiko lebih besar dan tentu saja modal lebih banyak. Sejauh ini semua berjalan lancar. Setiap kami mampu menambahnya maka kami menambah sapi. Awalnya sapi biasa dan sekarang mulai dengan sapi brahma, sapi yang harganya bisa dua kali lipat sapi biasa.

 Menjadi pengusaha, kita memang harus menyukai resiko dan tidak takut dengan kerugian. Ketika resiko kita tingkatkan, maka kita akan semakin berhati-hati. Lebih penting lagi, kemungkinan berhasil juga semakin besar. Itulah mengapa saya membagikan ini, jika modal kita hilang maka tambah lagi. Kecuali kita mau semua modal kita hilang dan kita berhenti berusaha.

 Selamat menjadi pengusaha.

S. Libe Suryapusoro di www.sayabisa.com

Comments are closed.